Kerap Dipaksakan, Truk Pengangkut Sampah di Kabupaten Bandung Butuh Peremajaan

Peletakan batu pertama pembangunan TPPAS Legok Nangka menyisakan cerita lama. Di saat 'pabrik' dibangun baru, justru truk sampah ke lokasi itu terbilang renta.

Kerap Dipaksakan, Truk Pengangkut Sampah di Kabupaten Bandung Butuh Peremajaan
Sejumlah truk pengangkut sampah mengantre masuk ke TPA Sarimukti, belum lama inii. (ilustrasi/dok)

INILAHKORAN.ID - Peletakan batu pertama pembangunan TPPAS Legok Nangka menyisakan cerita lama. Di saat 'pabrik' sampah dibangun, justru truk sampah ke lokasi itu terbilang renta.

Salah seorang narasumber INILAHKORAN.ID dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung  mengatakan, sebagian besar armada truk pengangkut sampah sudah usang. Selain kerusakan pada mesin, karoseri atau bak sampahn pun ada yang sudah bolong-bolong namun tetap dioperasikan.

"Sebagian besar truk yang ada disini keluaran tahun '97 ke bawah. Ada penambahan terakhir itu, kalau tidak salah tahun 2015 lalu. Karena kebanyakan truknya sudah tua dengan aktivitas sehari-hari yang berat, maka tak heran kalau banyak yang mogok dan diparkir saja di depan kantor," kata sumber yang identitasnya minta dirahasiakan itu, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, kebanyakan truk pengangkut sampah milik Pemkab Bandung itu kondisinya tidak prima, sehingga tidak bisa dipakai mengangkut sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Sebab, jika dipaksakan rawan terjadi kecelakaan.

"Ke TPA Sarimukti kan jalurnya lumayan jauh, nanjak dan kadang licin kalau musim hujan. Kalau kendaraan kita enggak prima, sebelum sampai malah kecelakaan lalu lintas"ujarnya.

Sehingga, kata dia, truk-truk tua yang performanya tidak bagus ini hanya dioperasikan untuk pengangkutan sampah di dalam area pelayanan penarikan sampah di wilayah Kabupaten Bandung saja. Kemudian, sampah itu dibawa ke TPS Citaliktik untuk dipindahkan muatannya ke truk-truk yang memang masih layak jalan ke TPA Sarimukti di KBB.

"Jadi sebenarnya kalau di TPA Sarimuktinya sih enggak ada pembatasan jumlah truk. Mau berapa juga yang datang untuk buang sampah di sana tidak apa-apa, tapi ya karena keterbatasan armada kitanya saja yang membuat lamban. Ya, lamban saat penarikan dari pemukiman warga, juga lamban saat akan dibuang ke TPA Sarimukti karena truk kita terbatas yang sanggup naik ke sana," katanya.

Menurutnya, meski banyak truk tua yang sering mogok, ironisnya DLH Kabupaten Bandung tak memiliki bengkel khusus dengan tenaga montir yang memadai. Selama ini hanya terdapat seorang montir tua panggilan yang biasa 'ngutak-ngatik' truk-truk sampah yang terparkir di halaman parkir.

"Karena cuma ada satu orang montir panggilan, yakni si abah kalau ada truk rusak itu perbaikannya bisa lama. Karena cuma dikerjakan oleh satu orang montir yang sudah sepuh dan keterbatasan alat serta suku cadang.  Kadang sampai dua minggu perbaikan itu, nah itu kan truk otomatis enggak beroperasi. Belum lagi truk rusak lainnya nunggu giliran perbaikan,jadi yah waktunya lebih lama lagi. Maka wajar saja kalau pelayanan ke masyarakat juga terhambat," katanya. 

Semestinya, kata dia, dengan intensitas atau penggunaan yang tinggi dengan armada berjumlah banyak. DLH Kabupaten Bandung itu memiliki garasi dan pusat perbengkelan yang besar lengkap dengan tenaga-tenaga montir yang handal. Sehingga, ketika ada kerusakan tidak harus menunggu lama untuk perbaikannya.

"Paling tidak sediakan lah bengkel yang lengkap dengan montir yang mencukupi dengan rasio kendaraan yang ada. Kalau sekarang kan cuma ada satu orang montir panggilan dari luar si abah yang sudah sepuh, sedangkan truk sebagian besar sudah berusia di atas 10 tahun dengan intensitas pemakaian tinggi," katanya.


Editor : Doni Ramdhani