INILAH,Bandung - Banjir yang merendam pemukiman warga di tiga kecamatan yaitu Baleendah, Dayeuhkolot, dan Bojongsoang di Kabupaten Bandung masih terjadi. Meski ketinggian banjir menurun, akses jalan Dayeuhkolot-Banjaran masih terendam.
Berdasarkan pantauan, akses jalan di Dayeuhkolot tepatnya di depan pabrik Metro Garmen masih terendam banjir dengan ketinggian paha orang dewasa. Kendaraan roda dua dan empat pun masih belum bisa melintas. Namun, sebagian banjir di wilayah tersebut sudah ada yang surut.
Sementara, akses Jalan Raya Dayeuhkolot tepatnya di depan Masjid Ashopia masih terendam banjir dengan ketinggian paha orang dewasa. Dibandingkan kemarin, ketinggian banjir relatif menurun. Meski begitu kendaraan belum bisa melintas.
Beberapa pengendara motor memaksakan melewati jalur tersebut dengan cara didorong. Sebagian yang berhasil melintas bisa menyalakan motor. Namun sebagiannya lagi ada yang mogok karena terendam.
Ipan (28) salah seorang warga Kampung Ciputat, RT 04/06, Kelurahan Baleendah mengatakan, rumahnya terendam banjir dengan ketinggian mencapai leher orang dewasa. Genangan air di rumahnya itu sudah terjadi sejak satu pekan lalu. Karena air masih tinggi, ia belum tahu kondisi rumahnya yang ditinggalkannya sejak sepekan lalu itu.
"Mau bagaimana lagi, banjir belum juga surut yah pasrah saja. Rumah juga sudah satu pekan kami tinggalkan dan tinggal dipengungsian," kata Ipan di Dayeuhkolot, Rabu (10/4/2019).
Menurutnya, dari tahun ke tahun bencana banjir yang menerjang kampung halamannya bukannya berkurang tapi semakin meluas dan sering. Karena sudah sering, bencana banjir ini dinggap biasa.
"Saya mah biasa aja, soalnya mau melampiaskan atau mengeluh kemana. Yah percuma banyak mengeluh dan menyalahkan orang lain juga bukan solusi," ujarnya.
Salah seorang pengendara motor, Tria mengaku nekad menerobos banjir seban harus mengejar waktu ke tempat kerja di Palasari, Dayeuhkolot. Ia sendiri mengaku berangkat dari Banjaran. Kata dia, sejak dua pekan banjir melanda Kecamatan Baleendah, Dayeuhklot dan Bojongsoang, ia setiap hari terjebak macet dan terlambat masuk kerja.
"Banjir masih sepaha, nekad aja nerobos soalnya mau kerja. Memang basah basahan, tapi nanti di tempat kerja ganti pakaian lagi. Karena macet saya hampir setiap hari kesiangan," ujarnya.