KH Abdul Chalim Jadi Pahlawan Nasional ke 15 Asal Jabar
KH Abdul Chalim menjadi salah satu dari enam orang yang ditetapkan Pemerintah Indonesia sebagai pahlawan nasional, jelang peringatan Hari Pahlawan Nasional yang jatuh pada 10 November mendatang. Seiring dengan penetapan ini, KH Abdul Chalim menjadi pahlawan nasional ke 15 asal Provinsi Jawa Barat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - KH Abdul Chalim menjadi salah satu dari enam orang yang ditetapkan Pemerintah Indonesia sebagai pahlawan nasional, jelang peringatan Hari Pahlawan Nasional yang jatuh pada 10 November mendatang. Seiring dengan penetapan ini, KH Abdul Chalim menjadi Pahlawan Nasional ke 15 asal Provinsi Jawa Barat.
KH Abdul Chalim, pahlawan asal Kabupaten Majalengka telah dipastikan dianugerahi pahlawan nasional, seiring dengan keluarnya surat Kementerian Sekretaris Negara bernomor R 09/KSN/SM/Gt.02.00/11/2023 yang ditujukan kepada Menteri Sosial akan enam tokoh tersebut. Dimana Kemensos diminta untuk menghadirkan ahli waris penerima gelar di Jakarta, kelak.
Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat sekaligus sekretaris Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Jabar Faiz Rahman menuturkan, pihaknya menyambut baik ada pahlawan nasional dari Jabar setelah tahun lalu KH Ahmad Sanusi asal Sukabumi juga dianugerahi pahlawan nasional. Lalu dari lima usulan tahun 2023 ada satu nama yang dianugerahi pahlawan nasional.
"Alhamdulillah setelah melalui serangkaian proses verifikasi alhamdulillah KH Abdul Chalim jadi pahlawan nasional. Usulan lainnya juga tengah diverifikasi oleh TP2GP mudah-mudah tahun depan dapat terrealisasi kita lihat perkembangannya nanti," ujar Faiz baru-baru ini.
Selanjutnya kata Faiz, pihaknya saat ini masih menerima usulan pahlawan nasional dari kota kabupaten untuk diverifikasi di tingkat provinsi secara berjenjang dan selektif.
"Penetapan pahlawan nasional ini akan kami terus galakan untuk memelihara nilai kepahlawanan, kejuangan dan jadi sumber inspirasi generasi di masa depan," ucapnya.
Dengan diberikannya gelar pahlawan nasional untuk KH Abdul Chalim menambah deretan pahlawan nasional asal Jabar menjadi 15 pahlawan nasional. Adapun ke-14 pahlawan nasional asal Jabar yang sudah lebih dulu mendapatkan gelar yaitu DR Kusuma Atmaja, Rd Dewi Sartika, KH Zaenal Mustafa, Iwa Kusuma Sumantri, RE Martadinata, Sultan Ageng Tirtayasa, Maskoen Soemadiredja, Gatot Mangkoepraja, Otto Iskandardinata, Raden Mas Tirto Adhi Soeryo, KH Noer Alie, KH Abdul Halim, Syafruddin Prawiranegara dan KH Ahmad Sanusi.
Dalam catatan Dinsos Jabar, dari ke-13 nama pahlawan nasional yang dinobatkan beberapa di antaranya dinobatkan dalam tahun yang sama yaitu LRE Martadinata dan Dewi Sartika pada tahun 1966, kemudian Maskoen Soemadiredja, Gatot Mangkupradja pada tahun 2004. Sementara Jabar mendapatkan gelar sebelumnya pada tahun 2011 lalu untuk Syafruddin Prawiranegara.
Sementara itu, dikutip dari keterangan tertulis Dinas Sosial Jabar, Selasa 7 November 2023, KH. Abdul Chalim lahir di Leuwimunding pada tanggal 2 Juni 1898. Ia merupakan putra dari seorang Kuwu/ Kepala Desa bernama Kedung Wangsagama dan ibunya bernama Satimah. Kakeknya juga seorang Kepala Desa Kertagama, putra dari Buyut Liuh yang merupakan putra seorang Pangeran Cirebon.
Bila ditelusuri silsilah KH. Abdul Chalim bersambung kepada Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan Sunan Gunung Djati.
KH. Abdul Chalim sudah mendalami pendidikan agama dari usia remaja. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah H I S (Hollandsch Inlandsche School), Ia belajar di beberapa pesantren di wilayah Leuwimunding dan Rajagaluh, di antaranya Pondok Pesantren Banada, Pondok Pesantren al-Fattah Trajaya, dan Pondok Pesantren Nurul Huda al Ma’arif Pajajar. Hingga tahun 1913, ia melanjutkan pendidikannya di Makkah.
Pada tahun 1913, KH. Abdul Chalim naik haji dan belajar di Mekkah. Dan sepulangnya dari Makkah, ia bergabung dengan temannya KH. Abdul Wahab Hasbullah yang memiliki komitmen untuk memerdekakan Indonesia. Ia membantu menangani dan memanage organisasi organisasi yang telah dirintis oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah, yaitu Nahdlatul Wathan yang kemudian menjadi Syubbanul Wathon.
Saat mendirikan Subbanul Wathon inilah Kh. Abdul Chalim bersama dengan KH. Abdul Wahab Hasbullah membentuk Komite Hijaz yang bertujuan untuk mengorganisasikan ulama-ulama di Jawa dan Madura demi mencapai kemerdekaan Indonesia.
KH. Abdul Chalim menulis surat undangan kepada seluruh ulama pesantren di Jawa dan Madura untuk hadir pada pertemuan yang diselenggarakan Komite Hijaz pada 31 Januari 1926. Isi surat yang menekankan pada tujuan kemerdekaan Indonesia mendapat respon yang luar biasa dari pasda ulama sehingga sebanyak 65 ulama hadir dalam pertemua tersebut.
Komite Hijaz ini pada akhirnya mendorong tercapainya kesepakatan di antara para ulama untuk mendirikan Nahdlatul Ulama tanggal dengan Kh. Hasyim Asyari sebagai Rais Aam dan KH. Abdul Wahab Hasbullah sebagai Katib awal. KH. Abdul Chalim sendiri merupakan Katib Tsani (Sekretaris kedua) pada kepengurusan PBNU periode pertama.
KH. Abdul Chalim juga merupakan pembina kerohanian organisasi semi militer Hizbullah, pendiri Hizbullah untuk wilayah Majalengka dan Cirebon, serta pejuang Hizbullah di beberapa medan pertempuran yaitu Cirebon, Majalengka, dan Surabaya.
Karena semangat dan pejuangannya, ia dikenal sebagai Muharrikul Afkar yang artinya penggerak dan pembangkit semangat perjuangan. Ia juga pernah mendapat sebutan “Mushlikhu Dzatil Bain” (pendamai dari kedua pihak yang berselisih) karena sering mendamaikan para ulama yang bersitegang. Ia juga pernah menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).
KH. Abdul Chalim wafat di Leuwimunding pada tanggal 12 Juni 1972 di Leuwimunding. Kini, namanya diabadikan menjadi nama perguruan tinggi di Mojokerto, yaitu “Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Mojokerto” yang kini sedang berproses menjadi Universitas Pesantren KH. Abdul Chalim Mojokerto.
Selain KH Abdul Chalim, lima pahlawan nasional lainnya yaitu Ida Dewa Agung Jambe dari Bali, Bataha Santiago asal Sulawesi Utara, M. Tabrani asal Jawa Timur, Ratu Kalinyamat dari Jawa Tengah dan KH Ahmad Hanafiah dari Lampung.
Untuk diketahui tahun ini Pemprov Jabar mengajukan lima nama calon pahlawan nasional yaitu Inggit Garnasih, K.H. Ma'mun Nawawi, K.H. Sholeh Iskandar dan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja. Nama Alm KH Abdul Chalim pun disusulkan menjadi nama kelima. (Yuliantono)***
Editor : JakaPermana

