Kiprah STY Bersama Timnas Indonesia Layaknya Jurgen Klopp di Liverpool, From Doubters to Believers
Kiprah Shin Tae Yong atau STY bersama Timnas Indonesia beda-beda tipis dengan sulap Jurgen Klopp yang antarkan Liverpool juara Liga Champions.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung- Shin Tae Yong atau yang akrab disapa STY perlahan memoles Timnas Indonesia menjadi skuat kuat di level Asia. Perjuangannya mirip Jurgen Klopp sebelum sukses besar bersama Liverpool!
Timnas Indonesia besutan STY mencetak sejarah untuk pertama kalinya lolos ke babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
STY antarkan Timnas Indonesia ke babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 dengan status runner up Grup F, menemani Irak sang pemuncak.
Indonesia sejatinya pernah bermain di putaran final Piala Dunia 1938, tapi saat itu masih bernama Hindia Belanda. Oleh karena itu, untuk format saat ini, Indonesia baru pertama kalinya melaju ke putaran ketiga.
“Kita lolos ke putaran ketiga, tidak ada lawan yang mudah, apalagi peringkat FIFA kita 134, lawan-lawan kita lebih baik, dan kita tim yang paling lemah dari (tim-tim) yang sudah lolos ke putaran ketiga. Tetapi mimpi saya, saya akan berusaha mencapainya, tidak akan menyerah (untuk dapat lolos ke Piala Dunia),” kata pelatih asal Korea Selatan itu setelah laga melawan Filipina.
Pelatih 53 tahun itu meminta masyarakat terus percaya kepada dirinya dan kepada penggawa Garuda, seperti halnya Jurgen Klopp yang meminta suporter Liverpool mengubah mindset "from doubters to believers" pada awal kedatangannya, Oktober 2015 silam.
Selepas itu, Jurgen Klopp mampu antarkan Liverpool meraih kesuksesan merengkuh Liga Champions musim 2018/2019 dan Liga Inggris musim 2019/2020.
Seperti halnya Jurgen Klopp, STY membutuhkan waktu untuk memoles Garuda menjadi kembali berada di level Asia. Sejak kedatangannya pada akhir 2019, transformasi Shin tidak terjadi dalam semalam.
Ia memotong generasi dan terus mencari pemain-pemain idamannya dan hasil itu baru dipetiknya pada tahun ini ketika mencatatkan sejarah dengan menembus babak 16 besar Piala Asia 2023 Qatar, semifinal Piala Asia U-23 2024, dan putaran ketiga Kualiifkasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Klopp sangat dicintai di Liverpool, begitu juga STY yang juga mendapatkan perlakuan yang sama di Indonesia.
Namanya kerap diagung-agungkan setelah selesai laga. Ia memang tak mahir berbahasa Indonesia atau Bahasa Inggris.
Namun, bagaimana ia membangun kedekatannya dengan para pemain dan suporter mungkin saja merupakan sesuatu yang tak dimiliki pelatih lain di tubuh Merah Putih.
Ia seperti mempunyai love languange tersendiri untuk mengungkapkan rasa sayangnya kepada para pemainnya dan juga kepada para suporter.
Satu hal yang pasti, selama empat tahun di Indonesia, ia mampu membuat iklim sepak bola Indonesia menjadi lebih bergairah dan lebih membara. Industri sepak bola berkembang semakin luas. Tak hanya dinikmati laki-laki, tapi juga wanita hingga anak-anak, terlepas pro dan kontra yang ada saat ini.
Dan kepercayaan ini rasanya tidak cukup jika hanya berjalan antara pelatih dan pemain.
Lebih luas lagi juga perlu bagi pencinta sepak bola tanah air yang harus memanfaatkan momen ini untuk percaya penuh kepada Shin Tae Yong dan Rizky Ridho dan kawan-kawan.
Indonesia memang masih anak bawang di putaran ketiga, namun dengan kepercayaan itu, energi positif akan bernaung dan siapa tahu akan menjadi faktor pendukung sekian persen untuk membuat "apapun bisa terjadi di sepak bola" berakhir indah untuk Indonesia.
Apapun hasilnya nanti, jika Indonesia gagal ke Piala Dunia 2026, tak perlu bereaksi berlebihan dan tak perlu menghujat karena pasti pengalaman itu akan menjadi pelajaran berharga dan menjadi batas target bagus yang ditetapkan untuk tahun-tahun ke depannya.***
Editor : Bsafaat


