Pengalaman Bikin Malu Ade Yasin, Kepergok Mertua Gak Bisa Ngomong Sunda
Diam dan hidup di tanah Sunda (Kabupaten Bogor) tetapi pergaulan sehari - hari menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasan Inggris, menurut Bupati Bogor Ade Yasin hal tersebut bagus karena sekarang memasuki era globalisasi namun ibu dua orang anak ini meminta rakyatnya untuk tidak melupakan Bahasa Indung yaitu Bahasa Sunda.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bogor - Diam dan hidup di tanah Sunda (Kabupaten Bogor) tetapi pergaulan sehari - hari menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasan Inggris, menurut Bupati Bogor Ade Yasin hal tersebut bagus karena sekarang memasuki era globalisasi namun ibu dua orang anak ini meminta rakyatnya untuk tidak melupakan Bahasa Indung yaitu Bahasa Sunda.
Berupaya menghapus kekhawatirannya yaitu Bahasa Sunda hilang di era kepemimpinannya, Kamis, (19/12) bertempat di Lapangan Olahraga SMPN 3 Cibinong, politisi PPP ini meresmikan program Kamis Basa Sunda di sekolah maupun di kantor pemerintahan daerah.
Dihadapan insan pendidikan dan ratusan siswa, Ade menuturkan dirinya dulu tidaklah bisa berbahasa Sunda dan akibatnya dia pun harus malu didepan bapak mertuanya.
"Dua kejadian yang masih saya ingat yaitu ketika menginap di rumah mertua di Kota Cimahi, dimana saat itu kami baru menikah dengan suami. Saat itu kami mau makan batagor di luar, bapak mertua nanya sareng ai (panggilan sayang) berangkatna si Aa lalu saya jawab henteu. Dijalan saya nanya sama suami siapa itu Ai, karena bapak nanya seperti itu. Sama suami saya kenapa kamu nuturkan kalau jawab henteu padahal Ai itu panggilan sayang orang tua kepada anaknya. Itulah pengalaman saya yang memalukan, ngaku orang Bogor tetapi tidak bisa berbahasa Sunda. Oleh karena itu saya minta Bahasa Sunda harus menjadi bahasa pergaulan sehari - sehari terutama di setiap hari kamis," paparnya.
Kepada kepala sekolah dan guru, Ade meminta dengan inovasi para murid diajarkan untuk bisa berbahasa Sunda misalnya menempelan kosa kata Bahasa Sunda di majala dinding atau di papan tulis.
"Kota kata Bahasa Sunda untuk pergaulan sehari - hari ini harus 'dibumikan' terutama di sekolah di mana tempatnya para generasi penerus. Insya Allah dengan semangat dan upaya semua pihak Bahasa Sunda ini tetap membumi di tanah Pajajaran," pinta Ade.
Di kesempatan ini, Ia juga menjelaskan alasan tidak memilih hari Rebo sebagai Rebo Basa Sunda dan tidak mewajibkan para siswa dan ASN Kabupaten Bogor menggunakan pakaian adat Sunda.
"Kabupaten Bogor ini tidak semua wilayahnya perkotaan dan masih banyak perkampungan, jadi kasihan kalau ibu - ivu ASN kalau harus memakai baju kebaya Sunda. Kalau kenapa saya memilih hari Kamis dan bukannya Rabu iti karena sebagian wilayah Kabupaten Bogor itu masih ada budaya Betawi hingga kalau pas giat rebo keliling (Boling) di Tajur Halang, Bojonggede, Parung, Citereup, Cibinong dan lainnya yang berbatasan dengan Kota Depok atau Bekasi maka kasihan rakyatnya yang tidak bisa berbahasa Sunda," jelasnya. (Reza Zurifwan)
Editor : JakaPermana

