Kisah Suheri, Pahlawan Bencana dari Bandung Barat yang Mengabdi Tanpa Mengenal Waktu
Siapa yang tak kenal dengan Suheri, petugas lapangan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang tak pernah absen saat terjadi bencana di Bandung Barat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Siapa yang tak kenal dengan Suheri, petugas lapangan dari Badan Penanggulangan bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang tak pernah absen saat terjadi bencana di Bandung Barat.
Pria berusia 48 tahun ini, seolah tak pernah lelah untuk bekerja dan mengabdi bagi masyarakat yang terdampak berbagai macam bencana alam yang terjadi.
Lebih dari 12 tahun mengabdi sebagai pelaksana di BPBD KBB menjadikan Suheri menjadi sosok yang tangguh dan kaya akan pengalaman tentang kebencanaan.
Luasnya wilayah Bandung Barat yang mencapai 1.305,77 km2 tak menyurutkan pria paruh baya itu untuk menerjang sulitnya medan bencana hanya untuk membantu masyarakat yang membutuhkan penanganan bencana.
Bukan tanpa risiko, pertaruhan nyawa pun harus Suheri hadapi tatkala dirinya melakukan penanganan bencana. Namun, semangat untuk terjun langsung melayani masyarakat terdampak bencana menjadi motivasi yang membakar semangat dan memantik keberaniannya.
Rasa lelah tak ia hiraukan demi menunaikan tugasnya sebagai abdi negara. Heri, begitulah ia biasa disapa banyak orang, sosok yang ramah dan rendah hati menjadi 'Pahlawan bencana dari Bandung Barat' yang tak ragu untuk membantu sesama tatkala terjadi bencana alam.
"Saya sudah bekerja di BPBD KBB itu sejak 2013. BPBD menjadi kendaraan saya untuk bisa terjun langsung dan mengabdi kepada masyarakat yang terdampak bencana," kata Heri, Jumat 23 Mei 2025.
Selama bertugas belasan tahun Heri mengaku mendapat banyak tantangan dan menjadi pengalaman berharga bagi dirinya. Salah satunya, saat harus melakukan penanganan bencana di lingkungan masyarakat dengan adat istiadat yang beragam.
"Tantangannya menghadapi masyarakat yang beda kebiasaan adat istiadat sehingga sebagai petugas harus bisa mencairkan suasana," tuturnya.
Di sisi lain, ungkap Heri, banyak hal positif yang bisa ia dapati ketika kerap bertemu dengan masyarakat, seperti bisa bersilaturahmi dan menambah saudara.
Bahkan, Heri pun masih teringat pengalaman menarik saat bertugas di lapangan, tepatnya saat melaksanakan distribusi air bersih saat bencana kemarau panjang terjadi di Bandung Barat.
"Waktu itu lagi di lokasi distribusi air bersih karena bencana kemarau panjang. Pernah mau dipukul pakai rancatan (pikulan yang terbuat dari bambu) karena berebut air bersih pengen di dahulukan sementara yang lain antre," katanya.
Tak cuma itu, ungkap Heri, pengalaman diomeli warga juga sempat ia rasakan saat melakukan penanganan bencana di lokasi longsor.
"Di lokasi longsor itu masyarakat tidak mengetahui cara bekerja petugas. Kita di kata-katain dan BPBD disamain dengan tukang patri dimana lubang yang kecil menjadi besar," ucapnya
Padahal, jelas Heri, penanganan bencana longsor itu tak hanya membuang material longsoran saja, melainkan mengantisipasi kemungkinan longsor susulan dengan mengeruk tanah di atas supaya aman.
"Kejadian unik dan menarik juga sempat dialami ketika kami petugas bisa bercengkrama bertawa-tawa dengan korban musibah padahal mereka lagi sedih," selorohnya.
Namun, dibalik tugas berat yang dipikul, Heri merupakan sosok suami, ayah dan kakek yang selalu ingin berkumpul dengan keluarga tercintanya.
Tapi, hal itu pun ia korbankan demi melaksanakan tugas dan pengabdiannya terhadap masyarakat.
"Saya juga manusia pastinya pengen selalu bersama dengan keluarga apalagi waktu weekend atau tanggal merah. Namun, kami tidak mengenal hari libur, tanggal merah mau pagi siang bahkan tengah malam kita harus selalu siap," tegasnya.
Menurutnya, hal itu dilakukan sesuai janji Korpri bahwa kepentingan negara, masyarakat di atas kepentingan keluarga dan golongan.
"Saya sering mengesampingkan kepentingan atqu keperluan keluarga dan Alhamdulillah istri pun mengerti tugas saya di BPBD," tuturnya.
"Alhamdulillah keluarga terutama istri dan anak sudah mengerti dan mengetahui tugas di BPBD jadi mereka sangat mendukung sekali," sambungnya.
Heri pun berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat bisa menambah anggaran BPBD lantaran penanganan masyarakat terdampak bencana bukan hanya dengan memberikan sembako atau kebutuhan saat terjadi bencana.
Namun, perlu juga penanganan pasca bencana, salah satunya seperti bencana tanah longsor di Desa Wangunsari, Kecamatan Lembang.
"Alhamdulillah masyarakat bisa terpenuhi kebutuhan makan pagi, siang dan malam. Tapi mereka juga perlu penanganan mau digimanain korban (pengungsi) karena BPBD terbentur waktu penanganan darurat 7 hari 14 hari atau 21 hari. Jadi harus segera ditentukan penanganan selanjutnya," ungkapnya.
Heri pun mengapresiasi respons Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail yang datang langsung ke lokasi dan memberikan bantuan.
"Saya juga menyarankan, karena mungkin bencana adalah tanggung jawab bersama, mulai dari pemerintah, dunia usaha, media, akademisi dan masyarakat. Sehingga koordinasi antar OPD dan lainnya bisa lebih diperkuat," ujarnya.
Heri pun menegaskan, segala tindakan yang dilakukan dirinya atas arahan dan perintah harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan bisa dipertanggungjawabkan.
"Kami juga memohon maaf kepada masyarakat terdampak bencana kalau pelayanan kami BPBD belum maksimal dan ada kata-kata yang kurang berkenan di hati, kami manusia biasa yang punya banyak kesalahan," tutupnya.
Editor : Doni Ramdhani

