Koalisi Saudi Serang Sanaa, Klaim Hancurkan Dua Peluncur Rudal Houthi

Koalisi pimpinan Arab Saudi menyerang Sanaa dan mengklaim menghancurkan dua peluncur rudal balistik Houthi setelah serangan ke Riyadh.

Koalisi Saudi Serang Sanaa, Klaim Hancurkan Dua Peluncur Rudal Houthi
Koalisi pimpinan Arab Saudi menyerang Sanaa dan mengklaim menghancurkan dua peluncur rudal balistik Houthi setelah serangan ke Riyadh.

INILAHKORAN.ID-Koalisi militer pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan ke Sanaa, ibu kota Yaman, pada Senin dini hari waktu setempat. Koalisi mengklaim telah menghancurkan dua peluncur rudal balistik milik kelompok Houthi di tengah meningkatnya ketegangan setelah serangan rudal ke Riyadh.

Juru bicara koalisi, Turki al-Maliki, mengatakan salah satu peluncur rudal tersebut digunakan dalam serangan Houthi yang menyasar ibu kota Arab Saudi dalam beberapa jam sebelumnya.

Melalui unggahan di platform media sosial X, Al-Maliki menyatakan koalisi akan melanjutkan operasi untuk membongkar jaringan rudal balistik milik Houthi.

Hingga kini, belum terdapat keterangan independen yang memastikan seluruh klaim mengenai sasaran dan hasil serangan tersebut.

Tentara Yaman Klaim Lumpuhkan 218 Petempur Houthi

Di tengah serangan udara koalisi Saudi, tentara Yaman pada Minggu (25/10/2026) mengumumkan telah melumpuhkan sekitar 218 petempur dan komandan lapangan Houthi dalam 753 operasi selama 24 jam terakhir.

Pihak militer juga mengklaim telah menghancurkan atau merusak 78 kendaraan militer dan persenjataan dalam rangkaian operasi tersebut.

Menurut keterangan tentara Yaman, operasi yang dinamai Operasi Fajar Yaman itu menyasar pusat komando garis depan, benteng pertahanan, posisi penembakan, konsentrasi pasukan, jalur bala bantuan, serta kendaraan logistik milik Houthi.

Militer Yaman menyatakan rangkaian serangan tersebut menghambat pergerakan bala bantuan Houthi menuju garis depan. Operasi itu juga disebut mendukung penyergapan dan serangan darat yang dilakukan pasukan pemerintah.

Meski menyebut 218 petempur dan komandan lapangan telah dilumpuhkan, tentara Yaman tidak merinci jumlah korban tewas maupun terluka. Pihak Houthi juga belum memberikan tanggapan langsung atas klaim tersebut.

konflik Yaman Kembali Memanas

Serangan koalisi pimpinan Arab Saudi berlangsung di tengah konflik berkepanjangan antara kelompok Houthi dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Konflik tersebut berawal pada 2014 ketika Houthi merebut Sanaa dan sejumlah provinsi lainnya. Pada 2015, koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Sejak saat itu, pertempuran berlangsung dengan intensitas yang berubah-ubah, disertai perebutan wilayah dan serangan terhadap posisi militer di berbagai bagian negara tersebut.

Houthi menguasai sebagian besar wilayah utara dan barat Yaman, termasuk Sanaa. Sementara itu, pemerintah yang diakui secara internasional bersama pasukan sekutunya mempertahankan kendali atas Aden serta sejumlah wilayah di bagian selatan dan timur.

Garis Depan di Pesisir Laut Merah Jadi Sorotan

Perkembangan pertempuran turut memengaruhi penguasaan wilayah di sejumlah kawasan strategis, terutama di sepanjang pesisir Laut Merah. Beberapa daerah masih menjadi wilayah sengketa di tengah operasi militer yang dilakukan berbagai pihak.

Kondisi tersebut membuat situasi keamanan Yaman tetap rentan terhadap eskalasi baru. Serangan udara koalisi Saudi dan operasi darat pasukan pemerintah berpotensi memperpanjang konfrontasi dengan Houthi.

Perkembangan terbaru ini kembali menyoroti rapuhnya situasi keamanan di Yaman, negara yang telah mengalami konflik selama lebih dari satu dekade dan menghadapi dampak kemanusiaan serta ketidakstabilan politik yang berkepanjangan.***


Editor : JakaPermana