Konsisten Cek Stok Sembako dan GPM Solusi Pemkot Bogor Kendalikan Inflasi
Pemkot Bogor menggekar Gerakan Pasar Murah (GPM) dan pengecekan rutin harga juga stok sembako ke pasar-pasar untuk mengendalikan inflasi di bulan Mei 2026 ini.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pemkot Bogor menggekar Gerakan Pasar Murah (GPM) dan pengecekan rutin harga juga stok sembako ke pasar-pasar untuk mengendalikan inflasi di bulan Mei 2026 ini.
Kemudian menghadapi Idul Adha Pemkot Bogor menjaga stok sembako aman di pasar-pasar tradisional.
"Bulan April 2026, itu 2,68 persen. Itu year-on-year-nya gitu. Kemudian langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah daerah, tetap kami mengadakan Gerakan Pasar Murah atau GPM pada 13 Mei di Sindangbarang, kemudian 19 Mei di Kelurahan Loji, 20 Mei di Kelurahan Babakan Pasar, kemudian 22 Mei Kelurahan Margajaya dan 25 Mei di RSUD Kota Bogor," ungkap Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asperbang) Setda Kota Bogor Hanafi kepada INILAHKORAN pada Selasa (26/5/2026).
Hanafi memaparkan, yang memberikan andil angka inflasi 2,68 persen itu ada 10. Diantarnya pertama emas perhiasan, beras, kontrakan rumah atau kos-kosan, sigaret kretek, daging ayam ras, minyak goreng, sewa rumah, kemudian SPP akademik atau perguruan tinggi, bayam dan telur ayam ras.
"Jadi inflasi di bulan ke bulan antara Maret sampai April 2026 terjadi deflasi -0,06%. Ya, andil deflasinya dari daging daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras, kemudian emas perhiasan, dan tarif angkutan kota (angkot)," paparnya.
Hanafi melanjutkan, ada juga andil inflasi bulan ke bulannya dari sigaret atau rokok, kemudian minyak goreng, beras, kentang dan semangka. Jadi menganalisis target inflasi di Kota Bogor di RPJMD, rentang targetnya 0,5% sampai dengan 3,5%. Melihat dari inflasi year-on-year-nya 2,68%, itu sampai dengan bulan April 2026.
"Jadi intinya penanggulangan inflasi ini untuk menyeimbangkan kebutuhan bahan pokok masyarakat yang dilakukan oleh Pemkot Bogor ini, ya kita kerja sama dengan offtaker. Offtaker itu jangka pendek, karena kami daerah konsumen, bukan daerah produsen. Jadi penanganan inflasinya harus bersama-sama," terangnya.
Hanafi menjelaskan, tentu dengan program-program dari pemerintah pusat sekarang, seperti adanya MBG dan sebagainya membuat kebutuhan pokok akan semakin tinggi. Dan tidak menutup kemungkinan inflasi akan naik.
"Ya, tidak menutup kemungkinan naik. Tapi kami tidak melihat dari sisi itu, yang jelas upaya yang kami lakukan dengan koordinasi dengan Bapanas, Bulog dan sebagainya sangat intens. Dan kami tetap kita lakukan GPM ke seluruh kelurahan yang ada di Kota Bogor," jelasnya.
Hanafi menegaskan, menghadapi Idul Adha 2026, tentunya bahan pokok tentu akan naik, karena banyak kebutuhan-kebutuhan atau penambahan kebutuhan pokoklah dari masyarakat menjelang Idul Adha ini.
"Ya kami lakukan upaya-upaya itu tadi GPM dan cek harga juga tetap kerja sama sama offtaker untuk memasok barang-barang yang dibutuhkan oleh masyarakat," pungkasnya. ***
Editor : JakaPermana

