Kopi Paratag Gununghalu, Nikmatnya Sajian Hangat di Tengah Cuaca Dingin
Di tengah dinginnya udara Gununghalu, KBB yang menyapa setiap pagi dan sore, ada sajian hangat yang menjadi kebanggaan lokal yakni Kopi Paratag Gununghalu.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Di tengah dinginnya udara Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang menyapa setiap pagi dan sore hari, ada sajian hangat yang telah menjadi kebanggaan lokal, yakni Kopi Paratag Gununghalu.
Dijajakan langsung di kediamannya, penjual kopi Cahyana telah menggeluti bisnis Kopi Paratag Gununghalu ini selama bertahun-tahun. Kopi ini tak hanya sekadar minuman, melainkan bagian dari cerita hidup dan identitas kawasan pegunungan ini.
Tak perlu jauh-jauh mencari kedai mewah. Rumah sekaligus warung kopi milik Cahyana menjadi tujuan sendiri bagi para pencinta kopi dari Gununghalu dan sekitarnya.
Banyak yang datang khusus hanya untuk merasakan sensasi Kopi Paratag Gununghalu yang disajikan dalam takaran khas. Mulai satu kap atau sekitar 14 gram biji kopi per gelas.
"Kualitas biji itu yang utama, saya selalu pakai yang segar dan terpilih," kata Cahyana.
Ia pun tak segan mrngungkap rahasia di balik rasa yang membuat banyak orang kembali lagi dan lagi. Hasilnya, cuan didapatnya bisa mencapai sekitar Rp7 juta per bulan dan membuktikan bahwa cita rasa yang otentik mampu menarik hati dan isi dompet konsumen.
Dengan harga yang sangat terjangkau, hanya Rp7.000 per gelas, kopi ini menjadi teman setia bagi siapa saja yang ingin menghangatkan badan di tengah hawa dingin Gununghalu.
Rasa yang kaya dan menggugah selera telah membuatnya dikenal luas di kawasan lokal, namun impian Cahyana tidak berhenti sampai di situ.
"Saya ingin Kopi Paratag Gununghalu sebagai ciri khas ini bisa dikenal lebih luas lagi, tidak hanya di sini, tapi juga sampai ke luar Bandung Barat," ujarnya.
Bagi siapa saja yang berkunjung ke Gununghalu, rasanya kurang lengkap jika tak mampir ke rumah Cahyana dan mencicipi sajian hangat yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat setempat.
Editor : Doni Ramdhani


