Korban Militer AS dalam Perang Iran Bertambah, Total Capai 838 Orang
Jumlah personel militer AS yang tewas dan terluka dalam konflik dengan Iran mencapai 838 orang. Sebanyak 18 personel tewas dan 820 lainnya luka-luka.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Jumlah total personel militer Amerika Serikat yang tewas atau terluka dalam konflik dengan Iran dilaporkan telah mencapai 838 orang.
Angka tersebut berdasarkan analisis RIA Novosti terhadap data terbaru Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon pada Selasa (8/9/2026).
Berdasarkan data terbaru tersebut, sebanyak 26 personel Militer AS tambahan masuk ke dalam daftar korban.
Dengan penambahan tersebut, jumlah personel militer Amerika Serikat yang mengalami luka-luka mencapai 820 orang, sementara jumlah korban tewas masih tercatat sebanyak 18 orang.
Pentagon Tambahkan 26 Personel ke Daftar Korban
Data terbaru menunjukkan jumlah korban di pihak militer Amerika Serikat terus mengalami perubahan seiring perkembangan konflik.
RIA Novosti melaporkan bahwa tambahan 26 personel tersebut membuat total korban tewas dan luka dalam konflik AS-Iran mencapai 838 orang.
Dari jumlah tersebut, mayoritas merupakan personel yang mengalami luka-luka.
Sementara jumlah anggota Militer AS yang dilaporkan tewas dalam konflik tersebut masih berada di angka 18 orang. Laporan Reuters sebelumnya juga menyebut angka kematian personel Militer AS tetap 18 orang, dengan jumlah korban luka yang terus bertambah.
Konflik AS dan Iran Dimulai pada Akhir Februari
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran memasuki bulan ketujuh setelah serangkaian serangan mulai terjadi pada akhir Februari 2026.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran.
Iran kemudian membalas dengan serangan terhadap sasaran-sasaran yang terkait dengan Amerika Serikat dan sekutunya.
Ketegangan tersebut berkembang menjadi konflik berkepanjangan dengan serangkaian serangan balasan yang terjadi di sejumlah wilayah Timur Tengah. Reuters melaporkan konflik tersebut telah berlangsung sejak akhir Februari dan kembali mengalami eskalasi dalam beberapa pekan terakhir.
Memorandum Penghentian Permusuhan Sempat Ditandatangani
Pada pertengahan Juni 2026, Teheran dan Washington menandatangani memorandum yang bertujuan menghentikan permusuhan dan meredakan konflik.
Namun, kesepakatan tersebut tidak mampu menghentikan ketegangan secara permanen.
Perselisihan mengenai pelaksanaan kesepakatan dan situasi keamanan di kawasan kemudian menyebabkan permusuhan kembali terjadi.
Laporan mengenai perkembangan konflik menunjukkan bentrokan dan serangan antara kedua pihak kembali meningkat, terutama setelah serangkaian operasi militer terbaru.
AS Tingkatkan Tekanan Ekonomi terhadap Iran
Di tengah konflik yang belum sepenuhnya berakhir, Washington juga meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan kebijakan dan operasi militer yang terus menjadi bagian dari strategi Amerika Serikat terhadap Iran.
Situasi terbaru menunjukkan ketegangan di kawasan Timur Tengah masih tinggi, dengan aksi saling serang yang berpotensi kembali memperluas konflik.
Serangan terbaru terhadap aset dan kapal yang terkait Iran serta ancaman serangan balasan memperlihatkan bahwa hubungan Washington dan Teheran masih berada dalam kondisi sangat rentan.***
Editor : JakaPermana

