Menteri Energi AS: Kesepakatan Nuklir Iran Belum Tentu Terwujud
Menteri Energi AS Chris Wright menyebut kesepakatan nuklir dengan Iran belum tentu terwujud. AS bahkan membuka kemungkinan menghancurkan kemampuan nuklir Tehera
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Chris Wright mengatakan kesepakatan nuklir dengan Iran belum tentu dapat terwujud. Menurutnya, Washington mungkin harus menempuh langkah lain dengan menghancurkan kemampuan nuklir Teheran.
Pernyataan tersebut disampaikan Wright dalam wawancara dengan ABC News pada Minggu. Ia mengakui kemungkinan tidak tercapainya kesepakatan nuklir antara AS dan Iran.
"Mungkin tidak ada kesepakatan nuklir," kata Wright kepada ABC News. "Mungkin caranya hanya dengan menghancurkan kemampuan mereka untuk melakukannya. Kesepakatan itu mungkin menunggu pemerintahan berikutnya di Iran. Kami benar-benar tidak tahu."
Wright mengatakan Amerika Serikat perlu memastikan Iran tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir.
AS Disebut Harus Hancurkan Kemampuan Nuklir Iran
Presiden AS Donald Trump sebelumnya berulang kali mengeklaim bahwa kepemimpinan Iran telah berubah secara mendasar sejak serangan AS-Israel dimulai pada akhir Februari.
Namun, sistem pemerintahan Iran disebut masih bertahan di bawah pemimpin tertinggi yang baru.
Ketika ditanya apakah pemboman berkelanjutan akan menjadi strategi untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, Wright mengatakan langkah tersebut tampaknya memang diperlukan.
"Anda harus menghancurkan kemampuan mereka untuk melakukannya," ujarnya.
Wright juga menyinggung kemampuan Iran dalam membangun infrastruktur rudal. Menurut dia, Iran sebelumnya membangun infrastruktur besar untuk memproduksi rudal yang kini digunakan dalam serangan.
"Mereka membangun infrastruktur rudal besar untuk memproduksi rudal, yang sekarang Anda lihat mereka tembakkan, tetapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk membuat lebih banyak rudal," kata Wright.
Arus Minyak Selat Hormuz Capai 9 Juta Barel per Hari
Selain isu nuklir Iran, Wright membahas kondisi arus minyak melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu titik penting dalam perdagangan energi global.
Menurut Wright, rata-rata tujuh hari arus minyak melalui Selat Hormuz kini mencapai lebih dari 9 juta barel per hari.
Ia menyebut angka tersebut sebagai rata-rata tujuh hari tertinggi yang pernah tercatat. Pernyataan serupa sebelumnya juga disampaikan Wright pada awal Agustus.
Jika ditambah dengan aliran minyak melalui jaringan pipa di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), total arus minyak yang keluar dari kawasan tersebut mencapai sekitar 13 juta hingga 14 juta barel per hari.
AS dan Iran Saling Tuduh soal Kesepakatan
Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman pada Juni yang dimediasi Pakistan dan Qatar.
Nota tersebut mencakup sejumlah langkah menuju penghentian permusuhan, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta penyelesaian pembatasan ekonomi.
Namun, setelah kesepahaman tersebut tercapai, AS dan Iran justru saling menuduh gagal menjalankan komitmen yang telah disepakati.
Persoalan Selat Hormuz juga masih menjadi titik rawan. Kedua negara menyampaikan klaim yang bertolak belakang mengenai status keterbukaan jalur tersebut, pihak yang mengendalikannya, hingga tingkat keamanan bagi pelayaran komersial.
Pejabat AS menyatakan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz telah dibersihkan dari ranjau Iran dan puluhan kapal melintas setiap hari.
Sebaliknya, Teheran bersikeras Selat Hormuz masih berada di bawah kendali Iran serta belum sepenuhnya terbuka dan aman dari ancaman ranjau.***
Editor : JakaPermana

