Iran Sebut Diplomasi dengan AS Rusak Akibat Serangan Militer
Pemerintah Iran menyatakan komunikasi dengan Amerika Serikat (AS) masih berlangsung melalui pertukaran pesan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Pemerintah Iran menyatakan komunikasi dengan Amerika Serikat (AS) masih berlangsung melalui pertukaran pesan. Namun, Teheran menegaskan kondisi saat ini belum memungkinkan untuk memulai kembali perundingan karena tindakan militer Washington dinilai telah merusak jalur diplomasi.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan prioritas utama pemerintah Iran saat ini adalah menjaga kedaulatan, integritas wilayah, dan keselamatan rakyat di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
"Kami masih saling bertukar pesan, tetapi prioritas kami saat ini adalah mempertahankan kedaulatan, integritas wilayah, dan rakyat Iran," kata Baqaei dalam wawancara dengan stasiun televisi Austria ORF, Minggu (27/7/2026).
Menurut Baqaei, Amerika Serikat telah berulang kali merusak upaya diplomasi yang sebelumnya dibangun antara kedua negara. Ia menilai aksi militer Washington telah menghilangkan prasyarat penting untuk melanjutkan proses negosiasi.
Ia juga menyebut serangan terbaru AS sebagai kelanjutan dari "perang ilegal" terhadap Iran dan menilai langkah tersebut menunjukkan kegagalan Washington dalam memenuhi komitmen yang pernah disepakati.
Iran Soroti Keamanan Selat Hormuz
Dalam pernyataannya, Baqaei turut menyinggung situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.
Ia mengatakan Iran selama ini telah menjalankan tanggung jawab dalam menjaga keamanan pelayaran internasional. Meski demikian, Teheran tidak akan membiarkan jalur tersebut dimanfaatkan untuk mengancam keamanan nasionalnya.
Baqaei juga menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas meningkatnya ketegangan di kawasan timur tengah akibat berbagai aksi militer yang dilakukan dalam beberapa waktu terakhir.
Singgung Perjanjian Nuklir 2015
Iran juga kembali menyoroti implementasi perjanjian nuklir 2015. Menurut Baqaei, negara-negara Eropa gagal memenuhi kewajibannya setelah Amerika Serikat memutuskan keluar dari kesepakatan tersebut.
Ia bahkan menyatakan negara-negara Eropa "berutang besar kepada Iran" karena tidak melaksanakan komitmen yang telah disepakati dalam perjanjian nuklir tersebut.
Ketegangan Iran-AS Kembali Memanas
Hubungan Iran dan Amerika Serikat kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir setelah Washington melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran.
Sebagai balasan, Teheran mengaku menyerang fasilitas dan peralatan militer AS di beberapa negara kawasan, termasuk Bahrain, Yordania, dan Kuwait.
Pada 8 Juli lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan nota kesepahaman dengan Iran telah berakhir dengan alasan Teheran dinilai melanggar kesepakatan. Pernyataan tersebut disampaikan setelah insiden serangan terhadap tiga kapal tanker di Selat Hormuz yang kembali memicu perdebatan mengenai kebebasan pelayaran di jalur strategis tersebut.
Amerika Serikat menginginkan kebebasan pelayaran tanpa pembatasan di Selat Hormuz. Sebaliknya, Iran menegaskan kapal-kapal internasional harus melintas melalui jalur yang berada di dekat pesisir Iran sesuai mekanisme navigasi yang dikelola pemerintah setempat.
Di tengah meningkatnya ketegangan, laporan Axios menyebut Presiden Donald Trump telah memerintahkan militer AS untuk menghentikan serangan baru terhadap Iran, sehingga mengakhiri hampir dua pekan operasi militer harian. Meski demikian, hubungan kedua negara masih diwarnai ketidakpercayaan sehingga peluang dimulainya kembali perundingan dinilai masih terbatas.***
Editor : JakaPermana

