Kota Baru Parahyangan Stage Hadirkan Kolaborasi Musik Lintas Generasi di TPJF 2026

Kota Baru Parahyangan Stage di TPJF 2026 menghadirkan kolaborasi musik lintas generasi, dari Ruth Sahanaya hingga Mahalini, Frank Sinatra hingga Koes Plus.

Kota Baru Parahyangan Stage Hadirkan Kolaborasi Musik Lintas Generasi di TPJF 2026
Penyanyi Mahalini saat tampil di Kota Baru Stage The Papandayan Jazz Fest (TPJF) 2026, Minggu (4/10/2026). (Istimewa)

INILAHKORAN.ID - Musik tidak selalu berhenti pada nada dan irama. Di tangan para musisi, musik bisa menjadi ruang pertemuan, antara masa lalu dan masa kini, warisan dan eksperimen, juga antara generasi yang tumbuh dengan selera musik berbeda.

Semangat itulah yang terasa dalam kolaborasi Kota Baru Parahyangan (KBP) dan The Papandayan Jazz Fest (TPJF) 2026. Melalui Kota Baru Parahyangan Stage, festival menghadirkan panggung khusus yang mempertemukan beragam warna musik Indonesia dalam satu ruang pertunjukan.

Selama dua hari penyelenggaraan, Suagi Ballroom, The Papandayan Hotel Bandung, menjadi tempat bertemunya para musisi dari lintas generasi. Ada legenda, inovator, hingga nama-nama dari generasi baru yang tengah memberi warna pada perjalanan musik Indonesia.

Bukan sekadar menghadirkan pertunjukan, setiap program dikurasi untuk memperlihatkan bagaimana musik terus tumbuh. Genre boleh berbeda, pendekatan artistik bisa berubah, tetapi selalu ada ruang untuk saling berdialog.

Salah satu yang mencuri perhatian adalah “A Night of Frank Sinatra”. Dwiki Dharmawan bersama Dira Sugandi, Dirly Dave, dan Bandung Jazz Orchestra membawa kembali karya-karya Frank Sinatra melalui format big band.

Lagu-lagu klasik sang legenda musik dunia itu mendapat interpretasi baru. Aransemen yang megah sekaligus membuka ruang eksplorasi menunjukkan, karya dari masa lalu tidak harus berhenti sebagai kenangan. 

Nuansa berbeda hadir melalui Diskoria feat Andien. Estetika disko modern bertemu karakter vokal elegan Andien, menciptakan pertunjukan yang hangat dan sarat nostalgia.

Kolaborasi tersebut sekaligus memperlihatkan wajah musik populer Indonesia yang terus bergerak. Ada pengaruh masa lalu, ada sentuhan masa kini, tetapi identitasnya tetap terasa.

Panggung ini juga menjadi tempat lahirnya proyek yang secara khusus disiapkan untuk TPJF 2026. Freedom Jazz Society feat. Rinni, yang terdiri atas Greybox, Jevin Julian, Kenny Gabriel, dan Winky Wiryawan bersama Rinni, tampil dalam format yang belum pernah dipresentasikan sebelumnya di festival maupun panggung musik lainnya.

Jazz, elektronik, soul, dan groove modern bertemu dalam satu pertunjukan. Eksperimen tersebut menjadi salah satu penanda bahwa festival musik tidak hanya menjadi tempat untuk menampilkan karya yang sudah dikenal, tetapi juga ruang untuk mencoba kemungkinan baru.

Dari generasi berbeda, dua penyanyi perempuan turut mengisi panggung dengan karakter masing-masing.

Ruth Sahanaya, diva yang telah melewati perjalanan lebih dari tiga dekade, membawa pengalaman panjangnya dalam bermusik. Kualitas vokal dan musikalitasnya kembali menjadi bagian dari perayaan musik lintas generasi.

Sementara itu, Mahalini datang dengan energi generasi baru. Kekuatan vokalnya dan lagu-lagu yang dekat dengan pengalaman emosional pendengar membuat penampilannya mampu membangun koneksi dengan penonton yang memenuhi area pertunjukan.

Perjalanan lintas generasi itu kemudian berlanjut melalui The Gentlemen's Club. Adikara, Bilal Indrajaya, dan Teza Sumendra menghadirkan program khusus “Tribute to Koes Plus”.

Karya salah satu grup paling berpengaruh dalam sejarah musik Indonesia tersebut ditafsirkan kembali dengan pendekatan musikal generasi hari ini. Lagu-lagu lama pun menemukan ruang baru tanpa kehilangan akar sejarahnya.

Event Director The Papandayan Jazz Fest 2026, Tyagita R Hermawan, mengatakan semangat kolaborasi menjadi salah satu benang merah kurasi festival tahun ini.

“Sekitar 60 persen program TPJF 2026 dikemas dalam format kolaborasi. Kami ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya berkualitas secara artistik, tetapi juga eksklusif dan tidak bisa ditemukan di panggung lain,” ujar Tyagita dalam keterangan persnya.

Menurut Tyagita, Kota Baru Parahyangan Stage menjadi salah satu representasi kuat dari pendekatan tersebut. Mulai dari A Night of Frank Sinatra, Freedom Jazz Society, hingga Tribute to Koes Plus, seluruhnya dikembangkan secara khusus untuk festival.

Pendekatan itu, kata dia, sekaligus menjadi upaya TPJF mendorong lahirnya gagasan kreatif baru dan mempertemukan musisi lintas generasi dalam ruang apresiasi yang setara.

Bagi Kota Baru Parahyangan, kolaborasi tersebut tidak sekadar berkaitan dengan musik. Ada gagasan lebih luas tentang bagaimana sebuah kawasan dapat menjadi ruang tumbuh bagi seni, budaya, dan kreativitas.

Marketing Manager Kota Baru Parahyangan, Joseph Ijong Dachlan, mengatakan kota tidak cukup hanya menyediakan ruang fisik untuk tinggal dan beraktivitas.

“Kota Baru Parahyangan percaya bahwa sebuah kota yang baik tidak hanya menyediakan ruang fisik untuk tinggal dan beraktivitas, tetapi juga ruang bertumbuh untuk pribadi maupun komunitas secara berbudaya, adaptif dan kreatif,” ujarnya.

Melalui kolaborasi dengan The Papandayan Jazz Fest, pihaknya ingin menghadirkan panggung yang mempertemukan karya-karya terbaik musisi Indonesia sekaligus memberikan pengalaman berbudaya yang menyenangkan bagi masyarakat.

Sebagai kawasan yang dibangun dengan filosofi Mandiri, Madani, dan Alami, Kota Baru Parahyangan secara konsisten mendukung berbagai inisiatif di bidang kreativitas, pendidikan, seni, dan budaya. Kota Baru Parahyangan Stage menjadi salah satu wujud dari komitmen tersebut. ***


Editor : Gin gin T Ginulur