KPID Jabar Tanamkan Literasi Media Sehat Lewat Storytelling untuk Anak dan Orang Tua
Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat menggagas pendekatan literasi media yang menyentuh langsung akar keluarga, yakni anak-anak dan orang tua, di tengah derasnya arus digitalisasi dan banjir konten daring.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat menggagas pendekatan literasi media yang menyentuh langsung akar keluarga, yakni anak-anak dan orang tua, di tengah derasnya arus digitalisasi dan banjir konten daring.
KPID Jabar menggelar kegiatan storytelling, sebagai media edukatif yang menggugah kesadaran tentang pentingnya memilih tayangan yang sehat dan aman bagi generasi muda di SD Plus Baiturrahman, Kota Bandung.
Ketua KPID Jabar Adiyana Slamet menegaskan, kegiatan tersebut merupakan kolaborasi lintas lembaga, sebagai bentuk komitmen bersama dalam membentengi anak-anak dari dampak negatif media digital.
“Kami ingin anak-anak dan orang tuanya memahami bahwa tidak semua tontonan layak dikonsumsi. Jangan sampai anak tantrum, lalu diberi HP begitu saja. Ini sangat berbahaya karena bisa merusak kognisi mereka,” ujar Adiyana, Jumat 17 Oktober 2025.
Menurutnya, konten yang diproduksi lembaga penyiaran jauh lebih aman untuk ditonton anak dibandingkan dengan konten berbasis internet yang hingga kini belum memiliki regulasi yang jelas.
“Kalau di lembaga penyiaran, ya di televisi dan radio relatif aman karena aturannya sudah jelas. Nah, yang kami khawatirkan itu ketika ibu-ibunya memberikan HP bebas ke anak-anaknya. Apalagi di sana belum ada aturan main yang jelas. Ini yang kami coba narasikan dalam storytelling,” tambahnya.
Selain sesi storytelling, kegiatan juga dirangkai dengan pemeriksaan kesehatan gigi dan simulasi pelestarian lingkungan. KPID Jabar menilai, literasi media tak bisa dipisahkan dari pembentukan karakter dan kepedulian sosial.
Anggota Komisi I DPRD Jabar Sidkon Djampi mengapresiasi langkah KPID yang terus berupaya menyelamatkan 'mata dan telinga' anak bangsa di tengah derasnya arus informasi tanpa batas.
“Saya reugreug, dalam arti menaruh harapan besar. Pesantren dan sekolah seperti ini adalah jalur generasi masa depan dengan akhlakul karim. Tapi 70 persen tanggung jawab tetap ada di orang tua,” tegas Sidkon.
Ia mengingatkan, kontrol orang tua terhadap konsumsi media anak-anak harus menjadi prioritas utama, terutama di era ketika gawai begitu mudah diakses tanpa filter.
Sementara itu, Kepala SD Plus Baiturrahman Dini Anggini mengaku bangga, sekolahnya menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan literasi media ini. Menurutnya, tantangan pendidikan masa kini bukan hanya soal akademik, tetapi juga pembentukan karakter.
“Kami sangat terbantu dengan kehadiran KPID. Literasi adalah PR besar yang tak bisa diselesaikan sendiri. Harus ada kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat,” ujar Dini.
Ia berharap, kegiatan storytelling tersebut dapat menumbuhkan semangat membaca dan berpikir kritis di kalangan siswa, guru, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan.***
Editor : JakaPermana
