Lewat Dua Buku Sajak, Daddy Rohanady Kritik Arah Pembangunan Jawa Barat
Anggota DPRD Jabar Daddy Rohanady menyampaikan kritik pembangunan Jawa Barat melalui dua buku sajak yang dibedah dalam Festival Literasi Jawa Barat 2026.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Kritik terhadap arah Pembangunan Jawa Barat dituangkan Anggota DPRD Jawa Barat, Daddy Rohanady, melalui dua buku berbentuk sajak.
Kedua buku tersebut yakni Sajak-sajak Perjuangan: Antara Perut dan Maut dan Sajak-sajak Pembangunan: Kertajati. Keduanya dibedah dalam rangkaian Literasi'>Festival Literasi Jawa Barat 2026 di Dispusipda Jabar, Kota Bandung, Selasa (15/9/2026).
Daddy mengatakan, meski dikemas dalam bentuk sajak, kedua buku tersebut tetap memiliki muatan Politik. Buku pertama lebih banyak merefleksikan perjuangan Politik dan partai tempatnya bernaung, sementara buku kedua mengangkat berbagai persoalan pemerintahan dan Pembangunan di Jawa Barat.
“Sebenarnya dua-duanya buku Politik. Hanya satu mengarah ke pemerintahan, satu mengarah ke partai tempat saya bernaung,” kata Daddy usai bedah buku.
Menurut Daddy, buku tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk menuangkan gagasan pribadi. Ia ingin pengalaman dan pengetahuannya selama berkecimpung di dunia Politik dapat menjadi bahan pembelajaran bagi generasi muda.
Ia menyadari pengalaman yang dimilikinya tidak akan banyak berarti apabila tidak diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, Literasi Politik dan Pembangunan dinilai penting untuk membentuk generasi yang nantinya meneruskan kepemimpinan bangsa.
“Bukan apa-apa, saya pengin generasi muda belajar dari mereka yang terdahulu. Kebetulan saja saya umurnya sudah 64 tahun. Jadi saya pengin apa yang saya miliki, apa yang saya tahu, setidaknya spirit-nya diwarisi oleh para generasi muda. Mereka harus sadar betul bahwa mereka adalah calon pemegang tongkat estafet berikutnya dari bangsa ini,” ucapnya.
Daddy menilai masa depan generasi muda tidak dapat diprediksi. Pelajar yang saat ini masih duduk di bangku sekolah, menurutnya, bisa saja kelak menjadi pemimpin, pengambil kebijakan, atau memiliki peran penting dalam menentukan arah Pembangunan.
“Kita enggak pernah tahu kita bakal jadi siapa,” katanya.
Sajak untuk Membaca Pembangunan Jabar
Daddy menjelaskan, pemilihan sajak sebagai medium untuk menyampaikan gagasan bukan tanpa alasan. Ia mengaku telah lama menulis dan kerap menuangkan pemikirannya secara spontan ketika melakukan perjalanan.
Catatan-catatan tersebut kemudian berkembang menjadi sajak yang mengangkat berbagai sektor Pembangunan di Jawa Barat, mulai dari perhubungan, infrastruktur, lingkungan hidup hingga sumber daya mineral.
“Saya menulis beraneka ragam sektor, ya. Mau perhubungan, mau bina marga, mau lingkungan hidup, mau sumber daya mineral, semua saya tuliskan di situ. Tapi juga memang sesederhana mungkin,” tuturnya.
Melalui bahasa yang sederhana, Daddy ingin pembaca, khususnya pelajar, dapat langsung menangkap persoalan yang diangkat. Ia tidak ingin pesan mengenai Pembangunan justru sulit dipahami karena penggunaan bahasa yang terlalu rumit.
“Saya ingin mengingatkan poin-poinnya supaya, 'Oh, ternyata di Jawa Barat itu bidang Pembangunan lingkungan hidup ada ini.' Lingkungan hidup ada Citarum, Gerakan Citarum Harum, GCH. Silakan dilihat,” ujarnya.
Selain persoalan lingkungan, Daddy juga menyinggung sejumlah proyek Pembangunan yang menurutnya layak menjadi bahan refleksi. Salah satunya proyek Caringin yang berkaitan dengan sektor sumber daya air.
“Jabar udah keluar Rp40-an miliar, tapi ternyata pusatnya bilang mau turun Rp400, (miliar) batal,” katanya.
Bagi Daddy, penggunaan bahasa sederhana menjadi strategi agar sajaknya tidak hanya dapat dinikmati kalangan tertentu, tetapi juga mudah dipahami oleh pelajar SMA.
“Untuk apa? Kalau kita pakai rumit-rumit gaya-gaya Rendra disuruh baca anak-anak SMA, mereka suruh nafsirkan sendiri. Tadi yang saya singgung, 'Tergantung Pada Kata'. Profesor A. Teeuw, itu orang Belanda menuliskan judul bukunya begitu,” ucapnya.
Pada akhirnya, Daddy mengakui kedua buku tersebut merupakan bentuk kritik terhadap kebijakan Pembangunan di Jawa Barat. Sajak dipilih sebagai medium untuk menyampaikan kritik sekaligus merekam berbagai persoalan Pembangunan yang dinilainya penting diketahui generasi berikutnya.
“Ya, saya kira kritik saya satu terhadap kebijakan Pembangunan yang ada di Jawa Barat,” tegas Daddy.
Bedah buku tersebut diikuti sekitar seratus pelajar jenjang SMA. Kegiatan menghadirkan pembahas Hening Widiatmoko dan Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ateng Kusnandar.***
Editor : JakaPermana

