Daddy Rohanady Soroti Irigasi saat Kunjungan ke Desa Jatianom Kabupaten Cirebon
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Daddy Rohanady menemukan tumpukan pekerjaan rumah (PR) di Desa Jatianom, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Daddy Rohanady menemukan tumpukan pekerjaan rumah (PR) di Desa Jatianom, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon, saat melaksanakan kegiatan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan di balai desa setempat.
Desa Jatianom tercatat sebagai desa dengan luas sawah terbesar ketiga di Kecamatan Susukan, mencapai 700 hektare. Posisi tersebut berada di bawah Desa Susukan dengan 1.000 hektare dan Desa Ujung Gebang seluas 800 hektare. Namun, potensi pertanian itu dinilai belum ditopang infrastruktur memadai.
“Desa Jatianom ini potensinya besar, tapi PR-nya juga tidak sedikit. Mulai dari irigasi, jalan usaha tani, sampai persoalan sosial yang langsung dirasakan warga,” ujar Daddy dalam keterangannya, dikutip Kamis 29 Januari 2026.
Salah satu kebutuhan mendesak yang disorot adalah jaringan irigasi air tanah (JIAT). Menurut Daddy, keberadaan JIAT penting untuk membantu sawah yang sulit dialiri irigasi teknis, terutama lahan dengan posisi lebih tinggi dari saluran air.
“JIAT ini sangat dibutuhkan, sebagai solusi selain pompanisasi. Banyak sawah di sini yang posisinya lebih tinggi dari saluran irigasi, sehingga kesulitan air,” katanya.
Selain irigasi, ketersediaan benih pertanian yang sesuai kondisi alam juga menjadi perhatian. Daddy menekankan, bukan hanya kualitas benih yang penting, tetapi juga ketepatan waktu distribusi, karena sangat berpengaruh terhadap hasil panen.
Masalah lain yang tak kalah krusial adalah jalan usaha tani (JUT). Akses ini dinilai vital untuk memudahkan mobilitas petani menuju sawah, terutama saat musim panen. Di samping itu, jaringan irigasi teknis disebut sebagai syarat mutlak agar produktivitas sawah bisa optimal.
Tak hanya sektor pertanian, kondisi jalan poros desa sepanjang sekitar 3 kilometer juga dikeluhkan warga. Jalan tersebut disebut sudah rusak parah, berlubang dalam, dan membahayakan aktivitas harian masyarakat.
Persoalan lingkungan turut mengemuka. Desa Jatianom membutuhkan alat angkut sampah atau insinerator mini untuk mengurangi volume sampah yang dikirim ke wilayah hilir. Apalagi, hingga kini Cirebon Raya belum memiliki TPPAS Regional.
“Kalau desa punya alat pengolahan sampah sendiri, tidak semua sampah harus dibuang ke luar. Ini penting untuk jangka panjang,” tutur Daddy.
Di sektor sosial, warga menyampaikan keluhan terkait banyaknya kepesertaan BPJS Kesehatan yang dinonaktifkan. Selain itu, Posyandu, RT, dan RW juga membutuhkan perhatian karena honor mereka terus menyusut seiring pemotongan dana desa yang kini hanya tersisa sekitar 30 persen.
Kondisi serupa dialami Lembaga Masyarakat Desa (LMD), guru ngaji, hingga imam masjid, yang honornya kian menciut. Situasi ini dinilai berdampak langsung pada kehidupan sosial dan pelayanan masyarakat di desa.
“Harapan warga sederhana, keuangan desa bisa kembali sehat, sehingga roda pemerintahan dan kehidupan masyarakat bisa normal lagi,” kata Daddy.
Daddy menegaskan, berbagai catatan tersebut akan menjadi bahan dorongan kepada Pemerintah Kabupaten Cirebon, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, hingga Pemerintah Pusat, agar potensi besar Desa Jatianom tidak terhambat oleh persoalan infrastruktur dan sosial yang berlarut-larut.***
Editor : JakaPermana

