Krisis Mental Siswa Menguat, Disdik Jabar Minta Guru Jadi Garda Depan Pendampingan
Disdik Jabar meminta peran guru dalam pendampingan psikologis atau mental siswa agar kasus bunuh diri pelajar tidak lagi terulang
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Deretan kasus pelajar yang mengakhiri hidup atau bunuh diri menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan di Jawa Barat. Di tengah derasnya arus digital dan tekanan sosial yang kian kompleks, sekolah dinilai belum sepenuhnya siap menjadi ruang aman bagi kesehatan mental siswa.
Sebab itu, Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat menegaskan peran guru tak bisa lagi berhenti pada urusan akademik. Guru harus hadir sebagai pendamping psikologis, bukan sekadar pengajar di ruang kelas.
Kepala Disdik Jabar, Purwanto mengatakan, perubahan zaman memaksa dunia pendidikan beradaptasi secara radikal. Sekolah kini bersaing dengan gawai, media sosial, dan banjir informasi yang tak terbendung.
“Sekarang sekolah berpacu dengan stimulasi digital. Jadi tata kelola zaman dulu dengan sekarang berbeda. Maka model pembelajaran itu, guru harus bisa melakukan pendampingan terhadap anak,” ujar Purwanto dikutip Minggu 22 Februari 2026.
Menurutnya, di tengah kehadiran kecerdasan buatan dan mesin pencari, fungsi guru sebagai sumber informasi utama sudah tidak lagi dominan. Siswa bisa mengakses materi pelajaran kapan saja, bahkan dalam hitungan detik.
“Sekarang itu ada Google atau ChatGPT, kalau untuk cari informasi dan materi. Jadi tugas guru sekarang, tidak hanya di bagian BK (Bimbingan Konseling) saja, mendampingi anak-anak keluar dari masalah pribadi maupun sosial,” ucapnya.
Purwanto menilai, kesehatan mental adalah fondasi utama proses belajar. Tanpa kondisi psikologis yang stabil, materi pelajaran sebaik apa pun tak akan terserap optimal.
“Kalau sudah keluar dari masalah pribadi dan sosial, akan enak belajarnya. Jadi yang harus diatasi itu sebenarnya kesehatan mentalnya dulu,” katanya.
Merespon ini, Disdik Jabar memperkuat kapasitas guru melalui In-House Training (IHT) Panca Waluya. Program ini difokuskan pada peningkatan kemampuan guru dalam mengenali, menangani, dan mencegah persoalan kesehatan mental di lingkungan sekolah.
“Guru-guru harus belajar bagaimana cara menangani kesehatan mental anak dan menciptakan lingkungan sekolah yang menumbuhkan potensi mereka. Kami sudah mulai ciptakan itu melalui pelatihan IHT Panca Waluya,” tuturnya.
Editor : Ahmad Sayuti
