IDAI Peringatkan Dampak Pola Pengasuhan Orang Tua Terhadap Kesehatan Mental Anak

IDAI mengingatkan para orang tua soal kesehatan mental anak sangat dipengaruhi oleh pola pengasuhan (parenting), tekanan keluarga dan lingkungan

IDAI Peringatkan Dampak Pola Pengasuhan Orang Tua Terhadap Kesehatan Mental Anak
Warga membuka aplikasi Jateng Ngopeni Nglakoni (JNN) untuk mengakses Layanan Online Psikolog Gratis (Logis) di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (3/7/2026). Layanan itu dihadirkan untuk mendeteksi dini masalah kesehatan mental warga, khususnya anak-anak dan pelajar. ANTARA

INILAHKORAN.ID - Pengurus Pusat Ikatan Dokter anak Indonesia (IDAI) mengingatkan para orang tua bahwa kesehatan mental anak sangat dipengaruhi oleh pola pengasuhan (parenting), serta tingkat tekanan (pressure) di dalam keluarga maupun lingkungan sekolah.

Ketua PP IDAI,Piprim Basarah Yuniarto, menyampaikan ekspektasi dan target berlebihan dari orang tua sering kali membuat anak berada dalam kondisi tertekan.

"Perilaku parenting orang tua yang punya target tertentu dan senantiasa menekan anaknya membuat anak berada dalam suasana under pressure. Kita sering mengira anak-anak jarang mengalami gangguan mental, padahal gangguan ini tidak mudah dideteksi sehingga butuh kepekaan tinggi," ujar Piprim dalam webinar di Jakarta seperti dikutip dari Antara, Selasa (21/7/2026).

Piprim mengajak para orang tua untuk menciptakan suasana rumah yang hangat, penuh kasih sayang, serta konsisten menerapkan prinsip dasar pengasuhan: Asah, Asih, dan Asuh.

Faktor Risiko mental Remaja dan Media Sosial

Pada kesempatan yang sama, anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Angga Wirahmadi, menyebutkan fase remaja merupakan periode krusial munculnya berbagai faktor risiko gangguan fisik maupun mental.

Menurut Angga, kesehatan mental remaja dapat terguncang oleh berbagai pemicu, di antaranya:

1. Lingkungan pertemanan dan perundungan (bullying).

2. Tekanan akademis di sekolah.

3. Penggunaan media sosial secara berlebihan.

4. Konflik internal dalam keluarga.

5. Gaya hidup tidak sehat.

Belajar dari Kasus Ledakan Bom Pelajar di Padang

Angga menegaskan krusialnya perhatian terhadap mental remaja dengan menyoroti kasus peledakan bom rakitan berdaya ledak rendah oleh seorang pelajar di MAN 3 Kota Padang pada Selasa (14/7/2026).

Meski tidak memakan korban jiwa, aksi tersebut sempat memicu kepanikan luar biasa di lingkungan sekolah.

Berdasarkan hasil pemeriksaan pihak kepolisian, pelajar berusia 17 tahun tersebut melakukan aksinya lantaran menjadi korban perundungan (bullying). 

Pelaku merakit bom sendiri setelah mempelajari tutorial di internet dan YouTube, lalu membeli bahan-bahannya dari toko daring tanpa sepengetahuan keluarga.

Kejadian ini, menurut IDAI, menjadi alarm keras bagi orang tua, pendidik, dan masyarakat untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku serta kondisi psikologis anak di sekitar mereka.


Editor : Ahmad Sayuti