Thailand Bantah Wabah COVID-19 Tak Lazim di Phuket
Kementerian Kesehatan Thailand membantah isu wabah COVID-19 tak lazim di Phuket. Data 2026 menunjukkan 99.691 kasus dan 15 kematian.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Kementerian Kesehatan Thailand membantah isu yang beredar di media sosial mengenai wabah COVID-19 dengan gejala parah dan tidak lazim yang disebut terjadi di negara tersebut.
Klarifikasi itu disampaikan Kementerian Kesehatan Thailand pada Kamis (10/9/2026), setelah sebelumnya sejumlah media Rusia melaporkan dugaan wabah COVID-19 di kalangan warga Rusia yang berada di pulau wisata Phuket.
Dalam laporan tersebut, penyakit disebut disertai gejala berupa demam tinggi, sakit kepala hebat, dan nyeri badan. Informasi mengenai dugaan wabah infeksi virus yang tidak lazim itu telah beredar di media sosial Thailand sejak akhir Agustus.
Namun, Kementerian Kesehatan Thailand menyatakan data resmi tidak menunjukkan adanya lonjakan kasus yang tidak biasa maupun peningkatan tingkat keparahan penyakit.
"Data periode 1 Januari-31 Agustus 2026 menunjukkan 99.691 kasus infeksi COVID-19 di Thailand dengan 15 kasus kematian, yang setara dengan 0,02 persen dari total kasus. Sebagai perbandingan, jumlah total kasus tahunan dalam 2–3 tahun sebelumnya berkisar antara 600.000-700.000 kasus," demikian pernyataan Kementerian Kesehatan Thailand.
Kasus COVID-19 Thailand Masih Lebih Rendah
Berdasarkan statistik Kementerian Kesehatan Thailand, pada 2025 tercatat 614.601 kasus COVID-19 dengan 274 kematian atau tingkat kematian sekitar 0,04 persen.
Pada 2024, Thailand mencatat 777.730 kasus dan 219 kematian, dengan tingkat kematian 0,03 persen. Sementara pada 2023 terdapat 618.793 kasus dan 852 kematian, atau sekitar 0,14 persen.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Thailand, Jurai Wongsawat, mengatakan jumlah kasus COVID-19 pada 2026 sejauh ini masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama dalam beberapa tahun sebelumnya.
"Jumlah saat ini masih lebih rendah dibandingkan dengan data dua atau tiga tahun lalu," kata Jurai.
Menurutnya, peningkatan kasus COVID-19 yang terjadi saat ini masih berkaitan dengan pola musiman. Thailand biasanya mengalami peningkatan berbagai infeksi saluran pernapasan ketika memasuki musim hujan.
Varian Omicron NB.1.8.1 Masih Dominan
Kementerian Kesehatan Thailand juga menyebut varian Omicron NB.1.8.1 masih mendominasi kasus COVID-19 di negara tersebut pada September 2026. Varian yang sama juga menjadi varian dominan di Thailand sepanjang 2025.
Kementerian menyatakan varian tersebut tidak menunjukkan karakteristik yang berkaitan dengan gejala parah seperti edema paru akut. Sebagian besar pasien juga tidak memerlukan penggunaan ventilator.
"Secara keseluruhan, meski insidensi COVID-19 sedang meningkat, mengingat biasanya awal musim hujan memicu lonjakan infeksi saluran pernapasan, jumlah saat ini masih lebih rendah dibandingkan dengan data dua atau tiga tahun lalu," ujar Jurai.
Dengan demikian, Kementerian Kesehatan Thailand menegaskan bahwa informasi mengenai adanya wabah COVID-19 yang tidak lazim dengan gejala parah di Phuket tidak sesuai dengan data epidemiologis yang dimiliki pemerintah.
Masyarakat pun diimbau mengacu pada informasi resmi pemerintah dan tidak langsung mempercayai informasi Kesehatan yang beredar di media sosial tanpa verifikasi.***
Editor : JakaPermana

