Polda Jabar Latih 23 Ribu Pelajar SMA Melek AI, Cegah Kejahatan Digital
Polda Jabar melatih 23 ribu pelajar SMA sederajat memahami AI untuk menangkal hoaks, deepfake, provokasi, dan berbagai penipuan digital.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Polda Jawa Barat telah memberikan pelatihan Artificial Intelligence (AI) kepada sekitar 23 ribu pelajar SMA sederajat di wilayah hukumnya. Program tersebut dilakukan sebagai upaya meningkatkan literasi digital sekaligus mengantisipasi berbagai kejahatan yang memanfaatkan teknologi.
Pelatihan diberikan oleh 74 trainer yang merupakan perwira dari jajaran Polres di bawah Polda Jabar. Para trainer sebelumnya telah mendapatkan pelatihan dari Mabes Polri.
Kabar Binkar Biro SDM Polda Jabar AKBP Condro Sasongko mengatakan, para trainer tersebut telah menjalankan program pelatihan selama sekitar satu bulan.
"Ada 74 trainer yang merupakan perwira dari polres jajaran seluruh Polda Jabar, yang selama satu bulan berjalan, sudah mampu melatih 23 ribu siswa SMA sederajat," ujar Condro, Jumat (11/9/2026).
Menurutnya, pelatihan AI tersebut menjadi bagian dari langkah antisipasi terhadap kejahatan digital yang kerap menyasar masyarakat, terutama kalangan remaja.
Materi yang diberikan mencakup cara menghadapi hoaks, mengenali deepfake, hingga mewaspadai berbagai modus penipuan digital seperti arisan online, love scam, dan penipuan daring lainnya.
Literasi AI juga diharapkan membuat pelajar dan masyarakat mampu menyaring informasi yang beredar di media sosial. Dengan begitu, masyarakat dapat membedakan informasi yang benar dengan konten yang sengaja dibuat untuk menyesatkan atau memprovokasi.
Polri Dorong Masyarakat Mampu Cek Fakta
Condro mengatakan kemampuan melakukan pengecekan fakta atau fact checking perlu dimiliki tidak hanya oleh personel kepolisian, tetapi juga masyarakat.
Hal itu dinilai penting karena perkembangan teknologi AI memungkinkan pembuatan berbagai konten yang sulit dibedakan dari informasi asli. Sebagian konten tersebut bahkan dapat digunakan untuk memicu provokasi di media sosial.
Ia menjelaskan, Polri menghadapi sedikitnya empat tantangan dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi, yakni Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity atau VUCA.
Volatility menggambarkan perubahan situasi di lapangan yang berlangsung sangat cepat. Uncertainty berkaitan dengan informasi dan kondisi keamanan yang semakin sulit diprediksi.
Sementara Complexity menunjukkan persoalan masyarakat yang semakin saling terhubung dan rumit. Adapun Ambiguity menggambarkan derasnya arus informasi yang tidak selalu jelas dan benar.
"Saat ini kita sudah mampu melatih 23 ribu siswa SMA sederajat di wilayah Polda Jabar. Semoga di akhir Oktober nanti bisa mencapai 40 ribu siswa," jelas Condro.
Trainer Diminta Sebarkan Literasi AI ke Masyarakat
Program literasi AI tersebut diharapkan tidak berhenti pada lingkungan sekolah. Para trainer Polri juga diminta membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
Sekretaris 1 Tim TOT Paham AI Brigjen Pol Boro Windu Danandito mengatakan, pengetahuan mengenai AI akan lebih bermanfaat apabila dapat dibagikan kepada masyarakat luas.
"Ini yang diharapkan, anda punya ilmu, bagikan ke yang lain, buat orang lain tersenyum," ujar Boro.
Menurutnya, trainer maupun peserta pelatihan dapat membuat berbagai konten edukasi yang mudah dipahami oleh masyarakat dari berbagai kelompok usia, mulai dari pelajar hingga orang tua.
Konten tersebut dapat membahas penggunaan teknologi secara positif dan aman dalam kehidupan sehari-hari.
"Buatkan konten edukatif, seperti cara belajar siswa aktif atau terkait arus mudik misalnya. Bisa juga buatkan e-sport untuk siswa-siswa baik kita," jelasnya.
Selain edukasi digital, kegiatan positif seperti e-sport juga dinilai dapat menjadi sarana untuk menjangkau kalangan remaja yang semakin akrab dengan teknologi.
Melalui program tersebut, Polda Jabar berharap literasi AI dapat semakin meluas sehingga masyarakat tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi, tetapi juga lebih waspada terhadap hoaks, provokasi, deepfake, dan berbagai modus penipuan digital.***
Editor : JakaPermana

