Kunjungan Wisata Pantai Selatan Garut Merosot 80-90%
Tingkat kunjungan wisatawan ke obyek-obyek wisata sepanjang pantai selatan Kabupaten Garut merosit hingga 90 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Garut - Tingkat kunjungan wisatawan ke obyek-obyek wisata sepanjang pantai selatan Kabupaten Garut merosit hingga 90 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Hal itu diduga kuat akibat pengaruh bencana tsunami Selat Sunda yang memorakporandakan sejumlah kawasan pantai di wilayah Banten, dan Lampung beberapa waktu lalu.
Selain itu, peringatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berkaitan buruknya kondisi cuaca perairan laut selatan Jawa turut mempengaruhi minat wisatawan.
Obyek wisata pantai paling favorit, seperti pantai Sayangheulang Pameungpeuk, Santolo Cikelet, dan Rancabuaya Caringin, yang biasanya ramai dipadati pengunjung pada musim liburan pun sepi. Jalan menuju obyek wisata lengang. Penginapan pun sepi. Banyak pelaku usaha wisata gigit jari.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Garut Budi Gan Gan Gumilar melalui Sekretaris Ade Hendarsyah, sebenarnya semua obyek wisata di Garut termasuk wisata pantai sangat siap menyambut kedatangan wisatawan pada musim liburan akhir 2018 ini.
Selain dilakukan sejumlah penataan sarana prasarana, sumber daya manusia (SDM) petugas lapangan, bahkan kerjasama dengan aparat Polri dan TNI, serta puskesmas-puskesmas berkaitan keamanan, dan pelayanan kesehatan bagi wisatawan juga sudah siap. Demikian juga dengan para penjaga pantai/balawisata.
"Tetapi di luar dugaan, kunjungan wisata ke pantai selatan Garut ternyata sangat lesu karena ada tsunami selatan Sunda itu. Banyak yang takut mengunjungi pantai," kata Ade Hendarsyah, Ahad (30/12/18).
Senada dikemukakan Kepala UPT Wisata Santolo Edy. "Fakta di lapangan, kejadian tsunami sangat berpengaruh. Hampir 80 persen (kunjungan wisatawan) menurun dari tahun sebelumnya. Ditambah lagi ada peringatan BMKG tentang ancaman ombak tinggi di perairan pantai selatan. Kalau pun ada beberapa pengunjung masuk, hanya penduduk lokal. Dari luar tidak ada yang masuk," ujarnya.
Dengan kondisi seperti itu, Edy pesimis target kunjungan wisatawan ke Santolo dapat tercapai.
Sepinya pengunjung juga dirasakan Kepala UPT Wisata Sayangheulang Ateng, dan Kepala UPT wisata Rancabuaya Ahmad. Keduanya menyebutkan tingkat kunjungan wisatawan ke Sayangheulang pada musim liburan panjang liburan natal sekarang menurun hingga 90 persen dibandingkan tahun lalu.
Salah seorang warga Sukaregang Garut Kota Andri Rahmadani (46) menuturkan, persis pada malam tsunami Selat Sunda terjadi Sabtu (22/12/18) lalu, sebenarnya sudah mulai banyak rombongan pengunjung hendak berlibur di pantai.
Namun diduga karena ada informasi tsunami itu, mereka tidak berani masuk area pantai melainkan hanya nongkrong di sepanjang pinggiran jalan.
"Waktu lewat Rancabuaya, kendaraan mobil maupun motor banyak, bisa disebut macetlah. Saya juga awalnya mengira mungkin ada kecelakaan. Ternyata mereka hanya parkir di jalan lintas yang tempatnya memang tinggi, dan tak berani turun masuk pantai. Karena takut, mereka balik lagi. Enggak jadi liburan di pantai," kata Andri.
Kendati hingga saat ini kunjungan wisatawan sangat sepi, para pengelola obyek wisata di pantai selatan Garut berharap tingkat kunjungan wisatawan ada penambahan pada pergantian tahun.
Disparbud Garut mencatat dari sebanyak 31 obyek daerah tujuan wisata (ODTW) favorit di Garut terdapat sebanyak 8 ODTW pantai, yakni Santolo, Sayangheulang, Gunung Geder, Cijeruk Indah, Pantai Karangparanje, Cijayana, Manalusu, dan Rancabuaya.
Total kunjungan wisatawan ke 8 ODTW tersebut sepanjang Januari hingga Nopember 2018 mencapai sebanyak 932.873 orang, dengan didominasi wisatawan domestik.
ODTW panai terbanyak dikunjungi yakni pantai Santolo sebanyak 273.699 orang, disusul pantai Sayangheulang sebanyak 245.774 orang, dan pantai Rancabuaya sebanyak 221.883 orang.
Editor : inilahkoran

