Kuttab, Menjawab Kegelisahan Orangtua Menyangkut Pendidikan Anak

Orang tua bukanlah CCTV yang sepenuhnya menemani anak selama 24 jam. Mereka tidak dapat memantau semua aktivitas anak. Apa yang dilakukan anak ketika di sekolah ataupun di luar sekolah, terlebih untuk orang tua yang yang memiliki kesibukan sebagai pekerja.

Kuttab, Menjawab Kegelisahan Orangtua Menyangkut Pendidikan Anak
Lina Nurhayati, Mahasiswa S-3 Pendidikan Matematika, Universitas Pendidikan Indonesia, Dosen Fakultas Teknik, Universitas Sangga Buana Bandung.

INILAHKORAN.ID,Bandung- Orang tua berperan penting dalam memilih pendidikan yang tepat untuk anak. Tidak sedikit Orangtua yang merasa kesulitan memilih sekolah ketika anak dihadapkan pada masa usia sekolah.

Mulai dari memilih PAUD, TK, SD, bahkan sampai ke perguruan tinggi sekalipun.  Pada umumnya, Orangtua mau melakukan apa pun dan memberikan yang terbaik untuk pendidikan anaknya.   

Tidak hanya sekolah formal, sekolah nonformal pun Orangtua berikan untuk anaknya. Tidak sedikit dana yang dikeluarkan oleh Orangtua untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya. Mulai dari les bahasa, les keterampilan, les bimbingan belajar agar bisa meningkatkan prestasi di sekolahnya maupun prestasi di kancah yang lebih luas. 

Apakah dengan semua yang telah Orangtua berikan tersebut, tujuan pendidikan tercapai? Sebetulnya apa yang diinginkan Orangtua dalam memilih sekolah yang terbaik untuk anak-anaknya?

Pertanyaan tersebut menjadi momok yang sangat menakutkan bagi sebagian Orangtua dalam memasuki masa pendidikan global saat ini. 

Globalisasi berarti tersebar luasnya pengaruh ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang ada di setiap penjuru dunia seolah tidak ada sekat antara satu negara dan negara lainnya. Kecanggihan teknologi mewarnai pendidikan pada masa globalisasi. 

Orang tua bukanlah CCTV yang sepenuhnya menemani anak selama 24 jam. Mereka tidak dapat memantau semua aktivitas anak. Apa yang dilakukan anak ketika di sekolah ataupun di luar sekolah, terlebih untuk orang tua yang yang memiliki kesibukan sebagai pekerja.

Kondisi yang memprihatinkan pada saat ini adalah tidak bisa terlepasnya anak dari gawai. Gawai menjadi sesuatu yang wajib digunakan setiap saat. 

Semua informasi yang baik dan buruk dapat masuk dengan mudah. Anak yang tidak punya fondasi iman yang kuat dan pendidikan yang baik sejak dini dari keluarga tidak memiliki filter yang memadai untuk dirinya sendiri. Hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya masalah pada anak. Tercatat 3.408 kasus anak pada  2022. 

Di sini mulailah kegelisahan Orangtua, bagaimana seharusnya pendidikan yang telah mereka pilih dapat menjadikan anak bisa bertahan dan mampu menghadapi masa globalisasi ini dengan filter yang baik untuk dirinya sendiri. 

Berhasil atau tidaknya Orangtua dalam memilih sekolah yang tepat untuk anaknya akan terlihat dari adab dan perilaku anaknya. 

Pada masa globalisasi ini, banyak sekolah berbondong-bondong menawarkan kurikulum yang terbaik demi meraup banyak peserta didik. Sekolah internasional sebagai contohnya, menawarkan kemampuan bahasa, fasilitas yang lengkap, dan kemudahan dalam melanjutkan sekolah ke luar negeri, tetapi  tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan dan hanya kalangan tertentu saja yang dapat menyekolahkan anaknya di sana. 

Selain itu, sekolah Islam terpadu menjadi sangat diminati oleh kebanyakan Orangtua yang ada di Indonesia dengan motivasi anak mendapatkan pendidikan agama yang lebih banyak porsinya untuk bekal anak menghadapi tantangan pada era globalisasi. 

Akan tetapi, kebanyakan dari kurikulum yang ada, sekolah hanya memberikan pendidikan terbatas, hanya pada saat di sekolah. Dengan kurangnya kerja sama antara sekolah dan Orangtua, pendidikan di luar sekolah tidak dapat  terpantau dengan baik. 

Kuttab hadir menjawab kegelisahan para Orangtua. Kuttab adalah konsep Islam yang mempunyai sejarah panjang melahirkan orang-orang besar. Kuttab hadir dengan tiga fondasi utama, yaitu (1) Iman, (2) Adab dan (3) Quran. 

Fondasi tersebut menjadi bekal penting untuk bisa mencetak generasi emas. Berbekal iman yang kuat, anak bisa menghadapi tantangan era globalisasi ini dengan penuh keyakinan dan ketauhidan yang kuat bahwa semua ilmu dunia maupun akhirat itu milik Allah. Hanya Allah yang dapat memberikan ilmu kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Adab sebelum ilmu itu penting,

“Pergilah, Nak, belajarlah dari adab gurumu sebelum engkau mengambil ilmunya.” Di sini pentingnya belajar adab dari seorang guru. Guru harus memiliki sifat keteladanan dan kesalehan yang penting untuk ditiru oleh murid-muridnya.  

Kesalehan seorang guru akan memengaruhi transfer keilmuan untuk anak didiknya. Guru yang saleh, tanpa bicara keras pun anak didik akan mudah untuk menuruti apa yang dikatakannya. Selain kesalehan seorang guru, penting juga kesalehan Orangtua dalam mendidik anak-anaknya. 

Di sini, Orangtua dituntut untuk mengetahui apa yang diajarkan sekolah kepada anaknya dan sama-sama mendampingi anaknya saat belajar sehingga memudahkan tercapainya tujuan pendidikan untuk mencetak generasi emas bangsa ini. 

Fondasi ketiga adalah Quran yakni kalam Allah, adalah sebaik-baiknya petunjuk untuk bisa menjalani semua aspek kehidupan di dunia dan akhirat dengan baik. Ketika guru, Orangtua, dan anak didik sama-sama menjadikan Quran sebagai pedoman hidup, maka siapa pun tidak akan mudah terpeleset dalam menghadapi tantangan era globalisasi ini. 

Harapan akan lahirnya generasi emas bangsa yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, cakap, kreatif, serta memiliki kepedulian dan tanggung jawab kepada bangsanya adalah hal yang harus kita upayakan bersama.*** 

Penulis
Lina Nurhayati
Mahasiswa S-3 Pendidikan Matematika, Universitas Pendidikan Indonesia,
Dosen Fakultas Teknik, Universitas Sangga Buana Bandung. 

(sumber https://www.kuttabalfatih.com/)


Editor : Ghiok Riswoto