Celentung, Tren Alat Musik Baru dari Bambu Warga Selaawi
Calung, dan angklung sejak lama dikenal sebagai alat musik tradisional khas masyarakat tatar Sunda/Jawa Barat berbahan baku bambu.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Garut- Calung, dan angklung sejak lama dikenal sebagai alat musik tradisional khas masyarakat tatar Sunda/Jawa Barat berbahan baku bambu.
Bukan hanya dikenal masyarakat Sunda melainkan bahkan masyarakat internasional. Begitu dengan seruling yang juga berbahan baku bambu.
Tapi celentung, lengkapnya celentung selaawi ? Apakah itu ? Bagi kebanyakan orang tampaknya masih asing terdengar di telinga. Kendati saat ini, celentung sudah mulai naik daun menjadi tren mainan baru yang melekat pada warga Kecamatan Selaawi Garut, khususnya dalam budaya bermusik tradisional.
Celentung merupakan alat musik baru berbentuk pipa bulat memanjang berbahan baku utama bambu hitam (Gigantochloa atroviolacea), ditambah kayu, dan fiber elastis.
Bambu digunakan bagian ujung ruasnya yang dipotong pendek dengan ukuran terpendek 27 centimeter, dan terpanjang 33 centimeter. Bagian atasnya dilobangi memanjang dari atas ke bawah pada dua sisi ruas dengan ukuran panjang lobang berkisar 6 centimeter hingga terpanjang 14 centimeter.
Lalu diberi bandulan kecil dari kayu keras yang ditempelkan pada ujung per kawat setelah diikat tambahan ruas bambu di bagian sisi ruasnya. Sehingga ketika digerak-gerakkan menghasilkan bunyi ‘tung, tung, tung’, atau ‘ngelentrung’.
Satu set celentung terdiri 14 buah (satu setengah oktav).
Memainkan celentung sangat mudah dengan cara menggoyangkannya secara beraturan. Bunyi khas bernada diatonis (do re mi fa sol la si do) dikeluarkannya menjadi daya tarik tersendiri terutama bagi kalangan muda mudi. Memainkan celentung membawa keceriaan, dan kesenangan tersendiri.
Tak heran, alat musik hasil kreasi Camat Selaawi Ridwan Effendi pada 2016 itu dengan cepat digemari masyarakat terutama para kawula muda, dan menjadi ciri khas tren bermusik tradisional warga Selaawi terkini. Kendati baru diperkenalkan resmi ke masyarakat luas pada peringatan Hari Jadi Garut ke-206 pada 2016.
Selain mudah dimainkan, celentung juga dapat dipadukan dengan beragam alat musik lainnya.
Menurut Ridwan, penciptaan celentung terinspirasi dari pagelaran alat musik bambu “Angklung” di Saung Aklung Udjo Bandung pada 2016, dan tiktak awi yakni mainan anak-anak terbuat dari bambu pemberian pakar bambu terkemuka Pon S. Purajatnika.
Sedangkan di wilayah kerjanya Kecamatan Selaawi kaya potensi bambu, mulai ketersediaan bahan baku hingga sumber daya manusianya. Sehingga terbetiklah ide mengeluarkan berbagai inovasi produk bambu termasuk alat musik bambu.
Dengan bantuan ahli pembuatan alat musik Oman yang sudah berusia sepuh warga Kampung Desa Putrajawa Selaawi, terlahirlah alat musik bambu dinamainya celentung selaawi karena mengeluarkan bunyi tung, tung, tung, atau ngelentrung.
Dibantu beberapa rekan lainnya, alat musik celentung tersebut terus disempurnakan, dan dikembangkan hingga benar-benar laik ditampilkan.
“Mudah-mudahan celentung ini memberi warna baru, sekaligus menambah koleksi alat musik tradisi dari bambu yang sudah ada sebelumnya. Juga bisa menambah nilai ekonomis bagi masyarakat, dengan banyaknya permintaan alat musik celentung, serta meningkatkan minta kunjungan wisata budaya, baik wisatawan domestik maupun mancanegara,” ujar Ridwan, Jum’at (4/10/2019).
Untuk melindungi pembajakan pihak lain, Ridwan pun telah mendaftarkan kepemilikan hak cipta atas celentung selaawi tersebut ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia belum lama ini. (zainulmukhtar)
Editor : JakaPermana

