Lima Perubahan Dibawa Ralf Ragnick yang Mengubah Wajah Manchester United
Ralf Ragnick mengawali debut dengan sempurna. Manchester United menang 1-0 atas Crystal Palace. Apa perubahan yang dia bawa?
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Manchester – Ralf Ragnick mengawali debut dengan sempurna. Manchester United menang 1-0 atas Crystal Palace. Apa perubahan yang dia bawa?
Dalam laga yang berlangsung Minggu, Ralf Ragnick melakukan kickoff sempurna. Dia memimpin Manchester United mengalahkan Crystal Palace 1-0. Dia harus berterima kasih kepada Fred, pencetak gol yang tak biasa bagi Manchester United.
Setelah melakkan permainan menawan dari sayap kanan di babak kedua, pemain pengganti Mason Greenwood menyodorkan bola ke arah Fred. Tanpa banyak rintangan, gelandang asal Brasil itu melepaskan tendangan keras ke gawang Vicente Guaita.
Crystal Palace terbatas permainannya. Mereka tak menunjukkan performa menawan seperti ketika mengalahkan Manchester City 2-0 awal musim ini.
Baca Juga: Taklukkan Watford, Manchester City Akhirnya Rebut Puncak Klasemen Liga Inggris
Kemenangan ini memberi arti Manchester United kini hanya berselisih tiga poin dari zona Liga Champions. Tapi, hal paling positif adalah pertandingan ini ditandai dengan sejumlah perubahan yang dilakukan Ralf Ragnick. Apa saja?
Bek sayap menyerang
Gaya main Ralf Ragnick yang mengandalkan serangan melalui bek sayap bukan rahasia lagi. Minggu itu pun bukanlah jadi pengecualian.
Baca Juga: Empat Pemain Manchester United Ini Dipuji Carrick Lawan Chelsea, Kok Tak Ada Nama Cristiano Ronaldo?
Alex Telles dan Digo Dalot lebih menyerupai sebagai gelandang sayap ketimbang pemain belakang. Posisi mereka memberi keuntungan bagi Manchester United.
Kedua pemain berkali-kali menghadirkan ancaman bagi bek lawan. Mereka bermain melebar meski kadang-kadang mereka juga kembali terlambat untuk menutup pertahanan.
Alex Telles maupun Diogo Dalot selama ini jarang tampil mengesankan di Old Trafford. Tapi, sistem baru yang digunakan Ralf Ragnick memberi mereka harapan.
Tekanan tinggi Ronaldo
Saat diumumkan jadi pelatih, pertanyaan paling banyak yang muncul adalah bagaimana dia memposisikan Cristiano Ronaldo di dalam timnya.
Hanya dalam beberapa hari, Ralf Ragnick sudah menjawabnya. Dia tampaknya ingin mengubah Ronaldo menjadi penyerang dengan yang mampu menghadirkan tekanan tinggi dan bermain dengan agresif.
Kapten Portugal itu tak segan lagi melakukan permainan keras, kadang kasar, menghadapi Crystal Palace. Tekanannya, kadang-kadang, membuat pemain lawan melakukan permainan kasar untuk menghentikannya.
Ronaldo bahkan memimpin rekan-rekannya untuk merebut bola dari lawan. Inilah yang membuat semangat juang pemain lain hidup dan terlihat jelas Ralf Ragnick memberikan tugas itu untuk Ronaldo.
Penguasaan bola
Sudah lama Manchester United tak menunjukkan penampilan yang dominan di Old Trafford. Tapi, menghadapi Crystal Palace, mereka mengembalikan dominasi penguasaan bola itu.
Baca Juga: Bukan Mauricio Pochettino! Sosok Ini Segera Resmi Latih Manchester United
Manchester United menikmati 61% penguasaan bola secara keseluruhan. Mereka pun tampil dengan intensitas, ingin menguasai bola sebanyak mungkin di lapangan ketimbang tergesa-gesa mengirim umpan ke pertahanan lawan.
Strategi Ralf Ragnick juga membuat Crystal Palace tak memiliki kesempatan memainkan gaya mereka, yakni serangan balik yang cepat dengan tendangan bebas. Peluang terbaik mereka gagal dimanfaatkan.
Meskipun tempo permainan menjadi lamban di akhir pertandingan, sudah pasti gaya permainan Manchester United ini mengesankan bagi pendukungnya.
Mengurangi peran Fernandes
Menyerang melalui sayap, sistem yang memanfaatkan lebar lapangan, membuat Bruno Fernandes kesulitan memainkan peran sebagai pemain paling berpengaruh dalam permainan Manchester United.
Dengan Dalot dan Telles menekan begitu tinggi, pemain sayap seperti Jadon Sancgho dan Marcus Rashford bahkan kadang-kadang terpaksa masuk ke kotak penalti. Ini sekaligus kian mengurangi ruang bagi Bruno Fernandes melakukan akselerasi.
Baca Juga: Menyentuh, Ini Pesan Terakhir Ole Gunnar Solskjaer untuk Manchester United
Jelas, Bruno Fernandes, mantan gelandang Sporting Lisbon, sadar bahwa kesempatannya akan terbatas. Dia mencoba memanfaatkan waktu di sepertiga terakhir, tapi dia tak seperti penampilan biasanya.
Dengan Donny van Beek juga menunggu kesempatan di sektor sayap, gelandang berusia 27 tahun itu memiliki kesempatan terakhir untuk memberikan kesan bagi Ragnick. Dari apa yang terlihat, kemungkinan Bruno Fernandes hanya akan dimanfaatkan jika lawan tampil dengan pertahanan yang lebih dalam.
Lini depan fleksibel
Dengan tertutupnya peran Bruno Fernandez, hasilnya positif bagi eksistensi penyerang sayap Jadon Sancho dan Marcus Rashford.
Duet pemain Inggris ini diberi banyak kebebasan di sepertiga terakhir lapangan untuk ikut melebar atau berganti posisi mengelabuhi pertahanan lawan.
Baca Juga: Solskjaer Dipecat, Pengumumkan Resmi Segera Digelar Manchester United
Jadon Sancho kini tampil dengan kepercayaan diri yang tinggi menghadapi Crystal Palace dan menjadi salah satu pemain berpenampilan menawan, terutama di babak pertama.
Marcus Rashford dan Jadon Sancho adalah pemain yang memiliki banyak posisi dan bisa membentuk trio penyerang. Dengan begitu, Ragnick akan memberi mereka kebebasan memainkan peran itu tanpa terpaku pada posisi tertentu.***
Editor : inilahkoran


