Lionel Messi Tumbuh jadi Remaja Pemalu dalam Tim yang Berpengalaman dalam Pertempuran
Lionel Messi tumbuh menjadi remaja pemalu bersama Barcelona sebelum akhirnya pensiun di bawah tim nasional Argentina.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Sebelum mengumumkan pensiun diusua 39 tahun, Lionel Messi mengawali karier sepak bolanya sejak remaja
remaja pemalu yang meninggalkan Rosario menuju Barcelona pada usia 13 tahun, dan terkadang digambarkan di negaranya sebagai lebih Catalan daripada Argentina, telah menjadi pemimpin tim nasional yang tak terbantahkan.
Air mata dan frustrasi akibat kegagalan sebelumnya telah berganti dengan lagu-lagu, mural, dan perayaan bagi Lionel Messi.
Ini merupakan perbandingan dengan Diego Maradona tidak hilang, tetapi tidak lagi membawa bobot tuduhan yang sama.
Lionel Messi telah menjadi Messi-nya Argentina. Dia bisa saja berhenti saat itu juga namun ebaliknya, dia terus bermain, pindah dari Paris Saint Germain ke Inter Miami dan membantu Argentina mempertahankan Copa America pada tahun 2024 sebelum mencoba sekali lagi di Piala Dunia.
Pada tahun 2026, akselerasi eksplosif yang pernah membuat para bek tak berdaya telah memudar, tetapi Messi beradaptasi.
Lionel Messi lebih banyak berjalan, lebih banyak menunggu, dan memilih momen yang tepat, menghemat energinya sementara pemain-pemain muda di sekitarnya bekerja keras.
Namun, kualitas-kualitas penting tetap ada: kesadaran akan ruang, bobot sebuah umpan, dan kemampuan untuk mengubah jalannya pertandingan hanya dengan satu sentuhan. Sementara itu, Argentina telah berubah bersamanya.
TIM YANG BERPENGALAMAN DALAM PERTEMPURAN
Tim yang mencapai final 19 Juli bukan lagi sekadar kumpulan pemain yang berharap pada Messi untuk penyelamatan.
Itu adalah tim berpengalaman dan tangguh yang terbiasa menang dan dibentuk oleh tahun-tahun bermain bersama kapten mereka.
Evolusi tersebut memungkinkan Lionel Messi untuk memperpanjang karier internasionalnya jauh melampaui apa yang sebelumnya dianggap mungkin dan untuk meninggalkan dunia sepak bola sesuai keinginannya sendiri.
Angka-angkanya menempatkannya di antara para raksasa sepak bola internasional, tetapi statistik saja tidak menceritakan kisah perjalanannya dari harapan hingga penolakan, kemudian patah hati hingga kekaguman.
Selama bertahun-tahun, setiap kekalahan selalu dijadikan bukti perbedaan antara dirinya dan Maradona. Pada akhirnya, argumen tersebut menjadi tidak relevan.
Yang satu membawa Argentina ke Piala Dunia 1986. Yang lainnya, setelah bertahun-tahun berusaha, berhasil melakukannya pada tahun 2022 dan kembali empat tahun kemudian untuk membawa negaranya hampir meraih gelar juara lainnya.
Lionel Messi meninggalkan tim nasionalnya sebagai sosok yang memainkan peran penting dalam sejarah sepak bola Argentina.***
Editor : Irma Nurfajri

