Longsor Mengintai, 5 Lokasi Wisata di Cisarua Ditutup Sementara
Penutupan objek wisata yang ada di kawasan Cisarua dilakukan sebagai langkah antisipatif guna menjamin keselamatan wisatawan dan pengelola.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Sejumlah destinasi wisata alam andalan Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), antara lain Curug Bugbrug, Curug Tilu, Curug Pelangi, Curug Layung, dan Situ Reret, kini ditutup sementara akibat ancaman tanah longsor yang mengintai kawasan perbukitan dan aliran sungai di wilayah tersebut.
Penutupan objek wisata yang ada di kawasan Cisarua dilakukan sebagai langkah antisipatif guna menjamin keselamatan wisatawan dan pengelola.
Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) KBB, David Oot menjelaskan, tindakan ini sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengelolaan destinasi wisata alam yang berada di zona rawan bencana.
“Curug Bugbrug, Curug Tilu, dan Curug Pelangi berada di satu aliran sungai yang sama, jadi risikonya juga sama ketika ada cuaca ekstrem atau pergerakan tanah," kata David, Selasa 27 Januari 2026.
"Kami dan pengelola sepakat untuk menghentikan aktivitas wisata dulu,” ujarnya.
David menegaskan bahwa sektor pariwisata bukan hanya bisnis yang menjual destinasi atau tiket, melainkan business of trust (bisnis berbasis kepercayaan) yang harus memberikan jaminan keselamatan kepada setiap pengunjung.
“Wisatawan membeli rasa aman bersama dengan pengalaman wisatanya. Tanpa itu, kepercayaan mereka akan hilang dan itu lebih sulit diperbaiki daripada kehilangan kunjungan sementara,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi global yang tengah menghadapi polycrisis, mulai dari perubahan iklim ekstrem hingga ketidakpastian geopolitik membuat pariwisata menjadi salah satu industri paling rentan, namun juga berpotensi pulih dengan cepat.
Oleh karena itu, Disparbud KBB mendorong pergeseran paradigma dari pariwisata berbasis jumlah kunjungan menuju pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.
“Inti dari pariwisata berkelanjutan adalah keamanan dan ketahanan. Tanpa jaminan keselamatan, tidak ada yang bisa kita bangun,” tegasnya.
Tak cuma itu, David juga mengakui bahwa selama ini fokus pengembangan pariwisata lebih condong pada promosi, sementara aspek mitigasi risiko dan kebencanaan masih perlu diperkuat.
“Keselamatan harus jadi fondasi utama sebelum kita bicara soal promosi dan target kunjungan,” pungkasnya.***
Editor : Ahmad Sayuti

