Pengungsi Longsor Pasirlangu Bertambah, Relokasi Tunggu Kajian Geologi

Proses pencarian korban masih menjadi prioritas utama pemerintah daerah bersama unsur TNI,Polri, dan para relawan. Relokasi menunggu kajian geologi.

Pengungsi Longsor Pasirlangu Bertambah, Relokasi Tunggu Kajian Geologi
Proses pencarian korban masih menjadi prioritas utama pemerintah daerah bersama unsur TNI,Polri, dan para relawan.

INILAHKORAN.ID – Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) memastikan penanganan bencana longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, terus difokuskan pada pencarian korban yang masih tertimbun serta pemenuhan kebutuhan warga terdampak yang kini mengungsi di sejumlah posko.

Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail, mengatakan hingga saat ini proses pencarian korban masih menjadi prioritas utama pemerintah daerah bersama unsur TNI, Polri, dan para relawan.

“Pemerintah Kabupaten Bandung Barat tetap fokus pada pencarian korban yang hingga kini masih belum diketahui keberadaannya. Selain itu, masyarakat terdampak kami tampung di posko pengungsian,” ujar Asep, Selasa (27/1/2026).

Asep mengungkapkan, jumlah pengungsi yang berada di posko mengalami peningkatan signifikan. Awalnya tercatat sekitar 115 orang, namun kini bertambah menjadi sekitar 550 orang. Bahkan pada waktu tertentu jumlah pengungsi sempat mencapai hampir seribu orang.

“Kemarin sempat sampai 950 orang. Siang ini kami cek sekitar 530 orang karena sebagian masih bekerja, biasanya sore atau malam hari jumlahnya kembali bertambah,” jelasnya.

Terkait rencana relokasi warga, Asep menyampaikan bahwa pemerintah daerah masih menunggu hasil kajian dari Badan Geologi. Kajian tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan langkah selanjutnya agar relokasi dilakukan secara aman dan tepat.

“Kami menunggu hasil pengkajian dari Badan Geologi. Setelah itu akan kami rapatkan kembali dengan dinas terkait. Ini harus betul-betul dikaji supaya tidak salah menempatkan warga,” katanya.

Untuk sementara, wilayah yang terdampak langsung longsor dinyatakan tidak boleh lagi ditempati. Pemerintah juga masih menunggu rekomendasi resmi terkait radius aman, termasuk wilayah di sekitar Desa Pasirlangu yang berpotensi terdampak.

“Wilayah yang terkena longsor sudah tidak diperbolehkan ditempati. Jumlah korban yang tertimbun tercatat 34 orang. Banyak warga yang datang ke posko karena khawatir area sekitarnya juga terdampak,” ungkap Asep.

Asep menegaskan, sesuai arahan Gubernur Jawa Barat, kawasan terdampak longsor direncanakan tidak lagi dijadikan permukiman. Wilayah tersebut akan dialihfungsikan menjadi kawasan hutan dengan penanaman pohon berukuran besar.

“Tidak mungkin masyarakat dikembalikan lagi ke sana. relokasi bersifat permanen, tentu setelah ada kajian dari Badan Geologi yang memastikan lokasi relokasi benar-benar aman,” tegasnya.

Saat ini, jumlah pengungsi tercatat sebanyak 186 kepala keluarga atau sekitar 552 jiwa. Mereka tersebar di beberapa titik pengungsian, dengan 306 orang berada di koridor pertama dan 258 orang di aula. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat kembali pada malam hari.

Mengenai kondisi pengungsi, Asep memastikan pemerintah daerah dalam kondisi siaga penuh. Pelayanan kesehatan dan pemenuhan kebutuhan dasar terus dilakukan secara berkelanjutan.

“Tenaga medis dari pemerintah daerah, kepolisian, universitas, termasuk Unjani dan tim dokkes, terus memantau kondisi kesehatan pengungsi. Selain itu, trauma healing juga dilakukan oleh TNI-Polri, pemerintah daerah, serta melibatkan Kementerian Agama melalui penyuluh dan rohaniawan,” pungkasnya.


Editor : Ahmad Sayuti