Kisah Pedagang Terdampak Penertiban Bangli : Barang Hancur, Relokasi Belum Jelas

Pedagang terdampak penertiban bangunan liar di kawasan Jalan Dipatiukur - Singaperbangsa, Kota Bandung mengeluhkan minimnya solusi relokasi setelah pembongkaran

Kisah Pedagang Terdampak Penertiban Bangli : Barang Hancur, Relokasi Belum Jelas
Pedagang terdampak penertiban bangunan liar di kawasan tersebut, mengaku belum mendapatkan kepastian relokasi dan masih menunggu solusi dari pemerintah./INILAHKORAN-Yogo Triastopo

INILAHKORAN.ID - pedagang terdampak penertiban bangunan liar di kawasan Jalan Dipatiukur - Singaperbangsa, Kota Bandung mengeluhkan minimnya solusi relokasi setelah pembongkaran kios yang selama ini menjadi tempat mereka mencari nafkah

Para pedagang mengaku, telah menerima surat pemberitahuan dari Satpol PP sebelum penertiban dilakukan. Namun mereka menilai, belum ada kepastian tempat usaha pengganti yang disiapkan pemerintah.

Salah satu pedagang kacamata, Fahri mengatakan, pihaknya sempat mengajukan permohonan kepada kecamatan agar difasilitasi dalam mencari solusi bersama. Para pedagang tidak menolak penertiban, namun berharap ada pendekatan yang lebih manusiawi di tengah kondisi ekonomi yang sulit.

“Kami sudah diberitahu sebelumnya oleh Satpol PP, ada suratnya. Tapi kami juga minta ke kecamatan supaya bisa dicari solusi bersama pemerintah,” kata Fahri, Rabu (24/6/2026).

Menurutnya, para pedagang hanya berusaha bertahan hidup dari usaha kecil mereka di tengah melemahnya kondisi ekonomi. “Kami di sini hanya mencari makan. Untuk makan saja sudah bersyukur. Kami tidak minta macam-macam, kami hanya minta solusi,” ucapnya.

Fahri juga menyebut pihaknya sempat mendatangi DPRD meminta bantuan, namun hingga pembongkaran dilakukan belum ada tanggapan atau kepastian yang diterima pedagang.

“Kami sudah ke DPRD, tapi belum ada jawaban. Sampai akhirnya pembongkaran terjadi begitu saja,” ujar dia.

Ketika ditanya mengenai alternatif tempat berjualan, dia mengaku belum mendapatkan lokasi pengganti. “Belum ada. Kami masih mencari tempat, tapi sekarang sangat sulit,” jelasnya.

Sementara itu, pedagang stempel Yuyu Koswara mengungkapkan dirinya sempat menerima informasi berbeda sebelum pembongkaran dilakukan. Adanya kunjungan dari pihak Satpol PP yang menyampaikan, untuk sementara tidak akan ada pembongkaran di wilayah tersebut.

“Tiga hari sebelumnya ada empat orang dari Satpol PP datang mencari saya. Katanya untuk sementara tidak dibongkar,” kata Yuyu, Koswara.

Dia juga mengaku mendapat informasi akan ada tindak lanjut dari pemerintah daerah termasuk kemungkinan kehadiran pejabat meninjau langsung kondisi di lapangan.

“Katanya nanti ada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) dan Wali Kota turun langsung. Saya sempat tenang karena ada kabar itu,” ucapnya.

Namun, menurut Yuyu, pembongkaran tetap terjadi tanpa pemberitahuan lanjutan sehingga membuat para pedagang tidak sempat menyelamatkan seluruh barang dagangan maupun peralatan usaha mereka.

“Tiba-tiba dibongkar. Kami tidak siap sama sekali. Kalau ada pemberitahuan, kami bisa pindahkan barang-barang penting,” ujar dia.

Dia yang telah berjualan stempel selama sekitar 43 tahun itu, mengaku kehilangan sejumlah peralatan kerja yang bernilai cukup besar. “Alat cetak stempel itu harganya puluhan juta. Banyak yang tidak sempat diselamatkan,” ucapnya.

Yuyu berharap ada perhatian dan kebijakan dari pemerintah terhadap para pedagang kecil yang terdampak penertiban. “Kami bukan menolak aturan. Kami mendukung program pemerintah. Tapi berikan kami solusi, jangan sampai kami kehilangan mata pencaharian tanpa jalan keluar,” tutur dia.

Pihaknya menambahkan, para pedagang tidak ingin menjadi beban pemerintah. Melainkan ingin tetap bisa bertahan dengan usaha yang layak. “Kami cinta kota ini. Kami ingin kota ini tertib dan bersih. Tapi tolong kami juga dimanusiakan,” harapnya

Hingga saat ini, para pedagang masih menunggu kejelasan mengenai relokasi maupun solusi lanjutan dari pemerintah daerah terkait penataan kawasan tersebut.***


Editor : JakaPermana