INILAH, Bandung - Sekolah Tinggi Musik Bandung (STiMB) menggelar wisuda ke-7 dan Dies Natalis ke-17 di De Majestic Jalan Braga, Kota Bandung, Kamis (31/1/2019). Ada 32 wisudawan yang mengikuti prosesi tersebut.
Ketua STiMB Bucky Wikagoe mengatakan, sebanyak 32 wisudawan tersebut berasal dari program S1 Seni Musik dan D3 Penyaji Musik.
"Ada 32 orang wisudawan, cukup besar untuk sekolah seperti STiMB," kata Bucky.
Bucky mengatakan, lulusan musik di Indonesia menghasapi tantangan di era revolusi industri. Karena itu, STiMB sedang melakukan persiapan supaya civitas akademinya tidak keteter menghadapi persiapan dunia industri digital seperti sekarang.
"Kita tidak ingin seperti fase sebelumnya yang sering keteteran menghadapi industri musik. Kita songsong dengan persiapan dan menguasai tekhnologi, digital market, melindungi musik dengan kekayaan intelektual, dan e-learning," ujarnya.
Bucky mengingatkan masyarakat untuk tidak mengandalkan kemampuan otodidak dalam revolusi industri seperti sekarang. Seniman musik tidak boleh mengandalkan bakat.
"Harus ada proses belajar. Kalau otodidak akan melalui prosea panjang. Kalau belajar secara akademis, kita bekali diri supaya siap siap di era 4.0 ini," jelasnya.
Praktisi musik Dani Java Jive sepakat dengan Bucky. Dia menyebutkan, musisi yang memiliki keilmuan musik akan tampil beda. Paling terlihat ketika musisi seperti itu bisa tampil sebagai pemain, di belakang layar, hingga akademisi musik.
"Lulusan musisi bisa mensiasati, melewati tantangan revolusi industri. Saat industri musik mati suri, lulusan musik sudah siap dengan kanalisasi baru. Bagaimana memperoleh benefit dari industri digital," katanya.
Ketua Yayasan Musik Bandung Nicky Astria mengatakan, dirinya berharap para wisudawan bisa menjaga gelar akademisnya untuk menfaat masyarakat. Selanjutnya mengembangkan kreativitas, memperluas jaringan kolaborasi, dan menguasai teknologi.
"Kalau modal tersebut dikuasai, saya yakin wisudawan ini akan menjadi insan musik sukses berkepribadian positif," kata Lady Rocker Indonesia ini.