Mahasiswa Unsil Geruduk Bale Kota Tasik, Desak Pemkot Serius Lindungi Petani
BEM Fakultas Pertanian Unsil menggeruduk Bale Kota Tasikmalaya menuntut Pemkot melindungi petani
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi (Unsil) menggelar aksi unjuk rasa di depan gerbang Bale Kota Tasikmalaya, Rabu (23/9/2026) siang.
Aksi tersebut Dalam rangka refleksi hari tani nasional yang jatuh pada tanggal 24 september, massa membawa sejumlah spanduk berisi aspirasi dan tuntutan terkait pembangunan sektor pertanian di Kota Tasikmalaya. Massa juga menyampaikan tuntutan melalui orasi dan menggelar aksi teatrikal.
Mahasiswa menyoroti sejumlah persoalan pertanian, termasuk pelaksanaan Peraturan Daerah tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), perlindungan lahan pertanian, akses pasar hingga kondisi petani yang dinilai masih menghadapi berbagai persoalan.
Ketua BEM Fakultas Pertanian Unsil, Alik Abidin, mengatakan pihaknya menilai masih terdapat kesenjangan antara aturan mengenai pertanian dengan kondisi yang terjadi di lapangan.
"Berbicara tuntutan, penegakan reforma agraria, di 66 tahun ini reforma agraria, ada undang undang reforma agraria yang disahkan, ketika kita lihat realitas pertanian di kota tasik sangat jomplang, bagaimana undang undang itu seharusnya bisa berjalan," kata Alik usai pelaksanaan aksi.
Menurutnya, mahasiswa juga mendorong adanya aturan turunan yang lebih jelas untuk memastikan implementasi perda terkait LP2B dan perlindungan lahan pertanian dapat berjalan.
"Ketika berbicara masalah kedaerahan, kita mencoba membawa isu penegakan implementasi perda lp2b juga perda perlintan, kondisi di lapangan sangat jauh dengan kondisi yang dituliskan perda tersebut, kami menuntut harus ada aturan turunan untuk memperlihatkan dan secara jelas mengatur hak yang ada di pertanian seperti apa," ujarnya.
Mahasiswa juga menyoroti kondisi kepemilikan lahan petani di Kota Tasikmalaya. Dari sekitar 19 ribu petani pengguna lahan yang disebut dalam aksi tersebut, mayoritas disebut memiliki lahan kurang dari 0,5 hektare.
"Terjadinya kemiskinan di petani, dari 19.000 petani pengguna lahan di kota tasik, 17.800-an merupakan petani yang memiliki lahan kurang dari 0,5 hektar sehingga," kata Alik.
Dalam aksinya, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Pemerintah Kota Tasikmalaya. Di antaranya mengevaluasi pelaksanaan LP2B dan kinerja pemerintah daerah, memperkuat sosialisasi serta edukasi terkait LP2B, dan segera menerbitkan peraturan wali kota sebagai aturan teknis pelaksanaan LP2B.
Massa juga mendesak adanya jaminan harga dan akses pasar bagi petani, evaluasi program sarana dan prasarana agar sesuai kebutuhan petani, serta pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Selain itu, mahasiswa meminta perbaikan jaringan irigasi serta pembangunan sistem informasi harga hasil pertanian secara real time yang mudah diakses petani.
Namun, aksi tersebut diwarnai kekecewaan massa karena Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan, Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya, serta sejumlah kepala dinas yang diundang tidak hadir menemui massa.
Hanya Pelaksana Tugas (Plt) Asisten Daerah I Kota Tasikmalaya, Ade Hendar, yang terpantau menemui massa aksi.
"Kami seluruh Fakultas Pertanian Unsil merasa kecewa kepada Pemkot Tasikmalaya atas ketidakhadiran seluruh undangan. Kami akan mengawal dan melawan kebijakan yang tidak berpihak kepada petani," demikian pernyataan sikap massa.
Mahasiswa menyatakan akan kembali menggelar aksi lanjutan atau aksi jilid II apabila aspirasi yang disampaikan belum mendapatkan respons.
"Minimalnya pemerintah bisa mendengarkan aspirasi kami," pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

