Malam Panjang Ahmad Rohimat saat Longsor Hantam Cisarua

Suara gemuruh itu datang tiba-tiba, memecah sunyi dini hari dan mengubah hidup Ahmad Rohimat (32) dalam hitungan detik. 

Malam Panjang Ahmad Rohimat saat Longsor Hantam Cisarua
Tak ada firasat buruk sebelumnya. Malam itu, Ahmad Rohimat tidur seperti biasa bersama istri, dua anaknya, dan sang bapak. Hujan yang turun sejak malam tak ia anggap sebagai pertanda bahaya longsor. Hingga akhirnya, tanah runtuh dan menghantam permukiman warga tanpa ampun. (cesar yudistira)

INILAHKORAN.ID - Suara gemuruh itu datang tiba-tiba, memecah sunyi dini hari dan mengubah hidup Ahmad Rohimat (32) dalam hitungan detik. 

Sabtu 24 Januari 2026 sekitar pukul 03.00 WIB, rumah yang ia tempati bersama keluarga di Kampung Pasirkuning RT 04/11, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), ambruk diterjang longsor besar dari lereng kaki Gunung Burangrang.

Tak ada firasat buruk sebelumnya. Malam itu, Ahmad Rohimat tidur seperti biasa bersama istri, dua anaknya, dan sang bapak. Hujan yang turun sejak malam tak ia anggap sebagai pertanda bahaya longsor. Hingga akhirnya, tanah runtuh dan menghantam permukiman warga tanpa ampun.

Ahmad menjadi satu dari 78 orang yang berhasil selamat dari bencana tersebut. Namun, di balik keselamatannya, tersimpan duka mendalam. 

Sebanyak 80 warga dilaporkan hilang, dan hingga hari keenam pencarian, tim SAR gabungan telah mengevakuasi sekitar 55 kantung jenazah dari timbunan material longsor.

“Waktu saya sadar rumah sudah rubuh dan di lumpur sudah masuk semua,” kata Ahmad lirih, saat ditemui di depan puing-puing kendaraannya yang terparkir tak jauh dari reruntuhan rumahnya, Sabtu 31 Januari 2026.

Ia sempat terkubur bersama seluruh anggota keluarganya. Material longsor dan puing-puing rumah menekan tubuhnya, membuat kesadaran nyaris hilang. 

Saat tersadar, kondisi rumahnya sudah separuh runtuh. Setengah badannya terbenam lumpur. Napas terasa sesak, gerak tubuh nyaris tak mungkin dilakukan.

Dalam gelap dan kondisi tubuh yang lemah, naluri sebagai kepala keluarga mengambil alih. Ahmad meraba-raba, memastikan keberadaan istri, kedua anaknya, dan sang bapak. Kepanikan bercampur tekad membuatnya terus bergerak, meski tubuhnya seolah tak lagi patuh.

Ia menemukan bapaknya dalam kondisi paling mengkhawatirkan. Setengah badan orang tua itu terjebak lumpur dan material longsor. Tanpa bantuan siapa pun, Ahmad mengerahkan sisa tenaganya untuk menarik sang bapak keluar.

“Waktu itu saya juga cari Bapak, dan ketemu dalam kondisi setengah badannya terkubur. Saya seorang diri menyelamatkan dia, alhamdulillah keluarga saya selamat,” ujarnya, matanya berkaca-kaca.

Namun, keselamatan nyawa tak sejalan dengan keselamatan hidup yang ia bangun selama ini. Rumah yang menjadi tempat berteduh lenyap. Empat unit mobil bak—sumber penghidupannya sebagai buruh angkut hasil sayuran—rusak berat tertimbun longsor.

Kendaraan-kendaraan itu selama ini menjadi tumpuan ekonomi keluarganya. Dari mengangkut hasil pertanian warga, Ahmad biasanya memperoleh penghasilan sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per hari. Kini, semua itu terkubur bersama lumpur.

Petaka belum berhenti di situ. Sepetak lahan sayuran yang ia kelola turut hilang, berubah menjadi hamparan lumpur luas yang menyerupai danau kecil.

Di tengah kepedihan, Ahmad masih menyimpan satu ingatan yang ia yakini sebagai pertolongan Tuhan. Malam sebelum longsor, rumahnya sempat disinggahi empat anggota Marinir TNI yang tengah menjalani tugas dan latihan di sekitar lokasi.

“Empat orang marinir menginap di rumah saya. Alhamdulillah semua selamat,” tutur Ahmad.

Keempatnya selamat dari bencana, berbeda dengan 23 anggota Marinir lainnya yang dilaporkan hilang pascalongsor.

Kini, Ahmad bersama istri dan dua anaknya mengungsi ke rumah mertuanya. Kawasan tempat tinggalnya termasuk wilayah dengan dampak terparah. Di blok tempat rumahnya berdiri, sebanyak 22 rumah terkubur material longsor. Berdasarkan data sementara Pos Penanganan Bencana, total 48 rumah terdampak langsung longsor Pasirlangu.

“Iya semuanya hilang karena memang di area sini batasnya rumah saya. Mungkin sekitar 60 orang yang di blok ini dan semuanya saya kenal,” imbuhnya pelan.

Di tengah ketidakpastian, Ahmad masih menunggu janji bantuan dana tunggu hunian (DTH) dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebesar Rp10 juta untuk biaya kontrak rumah sementara sebelum relokasi.

“Kalau saya memang belum menerima uangnya. Kalau didata sudah. Tapi yang lain sudah pada menerima. Makanya saya tinggal di rumah saudara dahulu,” tandasnya.

Bagi Ahmad, longsor bukan hanya merenggut rumah dan mata pencaharian, tetapi juga meninggalkan pertanyaan besar tentang masa depan. Namun, selama keluarganya masih selamat, ia percaya masih ada harapan untuk kembali berdiri—meski harus dimulai dari nol, di atas tanah yang tak lagi sama.


Editor : Doni Ramdhani