Manusia Harus Mati Sebelum Kematiannya
ALKISAH ada seorang yang sangat kaya dan murah hati (dermawan) di Bukhara. Karena memiliki tingkatan yang tinggi dalam hirarki yang tak tampak, dia dikenal sebagai Pemimpin Dunia.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
ALKISAH ada seorang yang sangat kaya dan murah hati (dermawan) di Bukhara. Karena memiliki tingkatan yang tinggi dalam hirarki yang tak tampak, dia dikenal sebagai Pemimpin Dunia.
Dia telah membuat suatu persyaratan mengenai pemberian dermanya. Setiap hari ia memberi emas kepada satu kategori orang-orang dalam masyarakat --seperti orang sakit, janda, dan sebagainya. Tetapi tidak satu pun diberikan kepada orang yang menuntut ('membuka mulutnya').
Tidak semua orang dapat bertahan untuk 'menutup mulut'. Suatu hari, giliran para pengacara yang mendapatkan bagian mereka untuk menerima hadiah. Salah seorang diantara mereka tidak dapat mengendalikan diri dan meminta lebih banyak.
Tidak satu pun yang diberikan kepadanya.
Bagaimanapun, ini bukan akhir dari usahanya. Hari berikutnya, saat orang-orang cacat dibantu oleh sang Dermawan, maka ia (si Pengacara) berpura-pura bahwa lengannya patah.
Tetapi sang Dermawan mengetahuinya, dan dia pun tidak mendapatkan apa-apa.
Hari berikutnya, ia berpura-pura, dalam samaran lain, 'menutupi' wajahnya, sesuai dengan orang-orang dari kategori lain. Namun ia dikenali lagi dan diusir.
Lagi dan lagi, pengacara itu tak henti-hentinya mencoba, bahkan menyamar menjadi seorang perempuan; dan lagi-lagi tanpa hasil.
Akhirnya, pengacara tersebut menemukan seorang penggali kubur dan meminta agar menutup dirinya dengan papan. "Ketika sang Dermawan melewatinya, mungkin ia akan mengira bahwa ini adalah jenazah. Dia mungkin akan melemparkan beberapa keping uang ke 'kubur'-ku, dan aku akan memberimu sebagian!"
Rencana itu dilaksanakan. Sepotong emas dari tangan sang Dermawan jatuh di atas jenazah. Si pengacara menangkapnya, takut kalau-kalau penggali kubur itu akan mengambilnya lebih dulu. Kemudian ia berbicara pada sang Dermawan; "Engkau telah menolakku atas hadiahmu. Lihat Bagaimana aku mendapatkannya!"
"Tidak ada satu pun yang dapat kau miliki dariku," jawab sang Dermawan, "hingga engkau mati. Inilah makna dari sebuah ungkapan bijak: 'Manusia harus mati sebelum kematiannya.' Hadiah ini datang setelah 'kematian' bukan sebelumnya. Dan 'kematian' ini, bahkan, tidak mungkin tanpa bantuan."
Perusakan Sebuah Kota
Seorang Sufi suatu saat berseru, di dalam keadaan lengang: "Aku akan menjadi sebab kerusakan kota ini."
Orang-orang telah mengira dia gila, atau sekadar mencoba menakut-nakuti masyarakat. Mereka tidak mengganggunya. Mereka juga tidak sedikit pun menaruh perhatian dengan apa yang dia katakan. Bagaimanapun, ia hanya seorang yang lemah dan tidak memiliki suatu kedudukan sosial.
Suatu hari, sang Sufi memanjat sebuah pohon dan jatuh. Tubuhnya menimpa dan mematahkan dinding waduk di bawahnya. Banjir yang diakibatkan oleh pecahnya dinding waduk tersebut, telah merusakkan dan menenggelamkan kota.
Hanya setelah peristiwa tersebut, ketika tubuhnya ditemukan, kata-katanya diingat orang. []
Editor : Bsafaat

