'Manusia Silver' di Jalanan Kota Bandung Bakal Dibina hingga Jera

Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan (Dinsosnangkis) menyiapkan penanganan khusus untuk membuat jera para 'manusia silver' yang marak di jalanan.

'Manusia Silver' di Jalanan Kota Bandung Bakal Dibina hingga Jera
Ilustrasi
INILAH, Bandung - Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan (Dinsosnangkis) menyiapkan penanganan khusus untuk membuat jera para 'manusia silver' yang marak di jalanan.
 
Kepala Dinsosnangkis, Tono Rusdiantono menyatakan keberadaan manusia silver sudah terpantau turun lagi ke jalan. Utamanya, ketika jalanan di Kota Bandung dipenuhi kendaraan baik saat jam sibuk atau di waktu libur.
 
"Pasteur (Jalan Dr. Djunjunan) banyak lagi manusia silver. Ya mudah-mudahan nanti kita bisa operasi lagi," kata Tono saat berbincang belum lama ini.
 
Dari pengamatan awal Tono, ‎pembinaan terhadap manusia silver yang terjaring oleh operasi belum memberikan dampak. Karena, sambung dia, masa pembinaan cenderung lebih singkat, tidak pernah lebih dari satu pekan. 
 
Oleh karenanya, Tono mulai merancang agar manusia silver yang terjaring operasi diberi waktu pembuinaan lebih lama. Setidaknya, Dinsosnangkis bakal menggojlog mereka dalam kurun waktu tiga bulan.
 
"Kalau setelah penjangkauan itu biasanya di kita 3 hari sampai 7 hari.  ‎Mungkin nanti mah biar ada efek jera bisa antara 40 hari sampai 3 bulan," ujarnya.
 
Keputusan Tono untuk memperpanjang waktu pembinaan bagi manusia silver ini tidak terlepas dari tersedianya sarana-dan prasarana yang baru saja dibuat di Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) Rancasari‎. Dimana didalamnya memang dirancang sekaligus sebagai tempat pembinaan bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial, tanpa terkecuali manusia silver.
 
Oleh karenanya, Tono juga akan menyiapkan serangkaian program untuk mengisi pembinaan para manusia silver. Pastinya, ‎dia bakal memberikan beragam materi pembekalan baik keterampilan maupun soal pembangunan karakter.
 
"Jadi nanti didiklatkan, dibuatkan mekanismenya supaya dia ada efek jera jadi ga mau ke jalan lagi. Jadi mun beunang ku Dinsos ga bisa keluar langsung, tapi dididik di Puskesos, nanti disuruh keliling membersihkan area puskesos, bersihkan danau, bertani, dan banyak lagi lah," ungkapnya.
 
Untuk penanggulangan PMKS di 2019 ini, Tono menyatakan Dinsosnangkis sudah menganggarkan dana sebesar ‎Rp. 10 miliar. Anggaran tersebut termasuk pemeliharaan Puskesos beserta sejumlah program di dalamnya.
 
"Nanti kita cuma kasih makan aja, tapi bukan berarti mereka bisa berpikir enak ditangkap Dinsos selama 3 bulan dikasih makan. Popkoknya akan kita beri efek jera," pungkasnya.


Editor : inilahkoran