MBG di Tangsel Viral, Siswa Diberikan dalam Bentuk Mentahannya
MBG yang digulirkan di wilayah Tangerang Selatan menuai perhatian publik setelah viral di media sosial karena pembagiannya dilakukan dalam bentuk bahan mentah,
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan di wilayah Tangerang Selatan menuai perhatian publik setelah viral di media sosial karena pembagiannya dilakukan dalam bentuk bahan mentah, bukan makanan siap saji seperti yang banyak dibayangkan sebelumnya.
Kepala SPPG Yayasan Mualaf Indonesia Timur (Yasmit) Ciputat Timur, A. Basiro membenarkan bahwa distribusi program MBG memang dilakukan dalam bentuk bahan mentah kepada ribuan siswa.
“Betul, bahan makanan kami berikan dalam bentuk mentah dan langsung disalurkan kepada 4.075 siswa. Tujuannya agar bisa dibawa pulang dan disimpan lebih lama oleh keluarga,” jelasnya kepada awak media.
Hindari Makanan Ultra-Proses dan Kandungan Kimia
Distribusi dalam bentuk bahan mentah, kata Basiro, merupakan bagian dari strategi penyedia makanan sehat dan aman bagi siswa. Pihaknya tidak ingin menggunakan makanan kemasan instan yang mengandung pengawet, pewarna, atau pemanis buatan.
“Ini bentuk komitmen kami untuk menjauhkan anak-anak dari makanan ultra-proses. Kami ingin mereka mendapatkan makanan real food yang bisa dimasak sesuai kebutuhan di rumah,” ujarnya.
Lauk Siap Makan, Nasi Mentah Dibawa Pulang
Selain bahan pokok seperti beras yang dibagikan mentah, pihak yayasan tetap menyediakan lauk pauk dalam kondisi matang. Ini agar siswa tetap bisa mendapatkan asupan protein harian yang cukup tanpa khawatir basi atau rusak karena disimpan terlalu lama.
“Kami tidak menggunakan makanan beku, karena kalau siswa lupa memberi tahu orang tuanya, bisa basi dan malah mubazir,” tambah Basiro.
Program ini mendapat berbagai respons dari masyarakat, termasuk dukungan atas pendekatan distribusi bahan mentah yang dinilai lebih sehat dan fleksibel. Namun, ada juga suara kritis di media sosial yang menyoroti perlunya sosialisasi yang lebih jelas agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Editor : Firda Rachmawati
