MCK Minim, Warga Cikawung Buang Hajat ke Sungai dan Empang
Fasiltas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang minim memaksa sebagian warga Kampung Cikawung, Kelurahan Wargamekar, Kecamatan Baleendah buang hajat ke sungai dan empang.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung- Fasiltas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang minim memaksa sebagian warga Kampung Cikawung, Kelurahan Wargamekar, Kecamatan Baleendah buang hajat ke sungai dan empang.
MCK yang tersedia di kampung itu sangat tidak layak dan berpotensi menyebarkan bibit penyakit. Mereka membutuhkan fasilitas mandi cuci kakus (MCK) yang laik.
Rata rata di kampung itu setiap pagi menggunakan tempat pemandian umum yang ada di RT 06 untuk membersihkan diri, mencuci pakaian hingga buang hajat. Memang tempat pemandian umum tersebut berada di tengah pemukiman yang padat penduduk. Pemandangan kumuh terlihat jelas, karena di sekitar tempat mandi umum tersebut dipenuhi sampah yang menumpuk sepanjang saluran air.
Di RW 08 itu, terdapat lima pemandian umum yang kondisinya sama memprihatinkan dan biasa digunakan oleh ratusan warga yang berada di 10 RT dari RT 01 sampai RT 10.
"Sebenarnya di kampung ini ada lima namun memang kondisinya masih kurang baik," kata Ketua RW 08 Aep Saepudin, Selasa (18/6/2019).
Dikatakan Aep, sebenarnya sumber air di kampungnya itu tergolong bagus. Namun memang bangunan pemandian umumnya masih dalam kondisi buruk. Bahkan dari lima tempat mandi umum yang ada di kampungnya itu, tak ada satu pun yang dilengkapi fasilitas untuk buang air besar (BAB). Sedangkan untuk BAB sebagian warga buang hajat ke sungai dan empang yang ada disekitar pemukiman penduduk. Dari sekitar 576 KK yang tinggal di RW 08 Kampung Cikawung, hanya sekitar 65 persen sudah memiliki MCK dan sisanya belum memiliki.
"Sekitar 35 persen yang belum punya. Ini digunakan oleh warga untuk mandi dan mencuci, sedangkan untuk BAB harus berjalan jauh ke bawah ke sungai dan ke empang," ujarnya.
Maka tak heran jika mengunjungi kampung ini, mudah didapati tempat BAB yang didirikan dengan asbes diatas empang atau di aliran sungai. Tempat BAB ini biasa digunakan warga yang memang di rumahnya tak memiliki jamban yang dilengkapi dengan WC.
"Biasanya digunakan sama anak-anak, kalau orang dewasa harus jalan ke bawah. Tapi ya kalau yang enggak punya WC ya ada yang BAB disitu juga," ujarnya.
Salah seorang warga, Ai Darwati (30) mengatakan, ia harus mandi dan mencuci di tempat tersebut karena tidak memiliki kamar mandi sendiri. Namun untungnya untuk urusan buang hajat, di rumahnya sudah dibuat jamban untuk BAB.
"Di rumah ada buat BAB, kalau mandi dan mencuci suka disini, minum juga disini. Sumber airnya bagus, cuman kondisi bangunannya segini adanya," katanya.
Meski sebagian warga telah memiliki jamban lengkap dengan WC, namun untuk keperluan mandi dan mencuci mereka menggunakan fasilitas tersebut karena jarak sumber air dan rumahnya terbilang jauh. Sedangkan untuk kebutuhan minum, mereka juga menampung air bersih di tempat tersebut untuk dibawa ke rumahnya.
Ai bersama warga lainnya harus mengantre untuk mandi atau mencuci pakaian. Ia berharap pemerintah bisa memberikan fasilitas pemandian umum ditambah fasilitas kakus yang laik untuk warga.
"Harapannya sih pemerintah bisa bantu kami dengan menyediakan fasilitas MCK yang layak dan sehat," ujarnya.
Disisi lain, Bupati Bandung Dadang M Naser terkejut mendapatkan informasi mengenai masih yang masih melakuan buang air besar (BAB) di empang. Ia berjanji akan menerjunkan dinas terkait ke lapangan.
"Terimakasih informasinya. Minggu ini harus segera selesai, telepon camat dan lurahnya," kata Dadang.
Dadang terkejut saat disodorkan foto tempat warga melakukan BAB yang dibuat di atas empang yang dibangun menggunakan material seadanya dan hanya ditutupi menggunakan asbes dan baliho bekas. Ia berjanji akan segera membangunkan fasilitas MCK untuk warga kampung tersebut.
"Minggu ini harus ada gerakan, minggu ini saya kesana. Ini reaktif, anggaran ada di kelurahan, kenapa tidak inovatif. Seminggu harus selesai," katanya.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat Pemukiman dan Pertanahan Kabupaten Bandung Erwin Rinaldy menambahkan, akses sanitasi di Kabupaten Bandung sudah mencapai 72 persen.
"Kalau itu masih ada, itu akan kita prioritas. Kita respon dan juga kita menunggu masukan dan akan diajukan di program regular dan musrembang. Semua masukan kita tampung dan kita tindaklanjuti," kata Erwin.(rd dani r nugraha).
Editor : Bsafaat

