Membungkam Keterbatasan, Kisah 4 Remaja Dayeuhkolot Mengguncang Panggung Menteri

Empat remaja berpidato dengan bahasa asing berbeda membuat dua menteri di Politeknik Pariwisata Dayeuhkolot tercengang

Membungkam Keterbatasan, Kisah 4 Remaja Dayeuhkolot Mengguncang Panggung Menteri
Empat remaja dari Sekolah Rakyat (SR) silih berganti berpidato menggunakan 4 bahasa asing di hadapan Mensos dan Menteri Pariwisata di Politeknik Pariwisata, Dayeuhkolot, Kamis (23/7/2026). Rd Dani R Nugraha

INILAHKORAN.ID - Di balik kemegahan seremoni penandatanganan nota kesepahaman  antara Kementerian Sosial dan Kementerian Pariwisata di Kompleks Politeknik Pariwisata, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Kamis (23/7/2026), terselip kisah yang jauh lebih menyentuh hati.

Empat remaja berdiri tegap di atas panggung. Tanpa rasa canggung, mereka bergantian menyampaikan pidato dalam empat bahasa asing, Inggris, Jepang, Mandarin, dan Arab, di hadapan Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, serta ratusan tamu undangan.

Sulit membayangkan bahwa beberapa tahun lalu, mereka adalah anak-anak dari keluarga kurang mampu yang nyaris kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan.

Salah satunya adalah Dedeh Sarinah (16), siswi kelas XI Sekolah Rakyat (SR) Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Dengan suara mantap, anak pertama dari dua bersaudara asal Kampung Sukasari 2, Desa Pagarwangi, Kecamatan Lembang ini melafalkan pidatonya dalam bahasa Inggris. Tidak terlihat sedikit pun keraguan dari putri seorang buruh tani tersebut. Padahal, sebelum mengenal Sekolah Rakyat, Dedeh hampir mengubur impiannya untuk lanjut ke jenjang SMA.

"Saya sudah berpikir, kalau tidak dapat beasiswa, saya tidak akan melanjutkan sekolah karena orang tua tidak mampu membiayai," kata Dedeh kepada INILAHKORAN, Kamis (23/7/2026).

Dedeh ingat betul momen ketika tim Sekolah Rakyat mendatangi sekolahnya saat ia duduk di kelas IX SMP swasta. Momen pencarian anak-anak dari keluarga rentan itu langsung disambutnya hangat—bukan semata demi dirinya, tetapi juga untuk meringankan beban ekonomi orang tua.

Keputusan itu menjadi titik balik hidupnya. Di asrama Sekolah Rakyat, Dedeh tak hanya mendapatkan pendidikan gratis, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, serta keterampilan linguistik.

"Saya senang sekali bisa sekolah di SR. Fasilitasnya bagus, guru-gurunya lengkap, dan kami diajarkan bahasa asing. Apa yang kami tampilkan hari ini adalah hasil belajar selama dua tahun," ungkapnya.

Kini, mimpi Dedeh melambung jauh melampaui garis kemiskinan. Ia bertekad melanjutkan kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) mengambil jurusan Hukum.

Asa Yang Kembali Menyala

Harapan serupa menggeliat dalam diri Alimin (17), remaja asal Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat. Sebagai anak keempat dari lima bersaudara yang lahir dari keluarga buruh tani, biaya sekolah menengah adalah sebuah kemewahan yang tak terjangkau.

"Untuk sekolah di SMA biasa saja terasa berat. Orang tua hanya bekerja sebagai buruh tani di sawah milik orang lain," kata Alimin, yang sebelumnya menimba ilmu di sebuah madrasah tsanawiyah.

Namun, vonis keterbatasan itu gugur ketika ia diterima di SR Lembang. Tinggal di asrama dengan fasilitas memadai memberinya ruang untuk menguasai bahasa Jepang, yang kemudian ia tampilkan dengan percaya diri di hadapan para pejabat negara.

"Alhamdulillah saya diterima di SR Lembang. Sekarang saya punya cita-cita kuliah di Universitas Indonesia jurusan Hubungan Internasional," tuturnya optimis. Bagi Alimin, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang yang mengembalikan hak anak-anak miskin untuk berani bermimpi.

Komitmen Memperluas Akses Pendidikan

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan, transformasi yang dialami Dedeh, Alimin, dan ribuan siswa lainnya menjadi alasan utama pemerintah terus memperluas jangkauan Sekolah Rakyat.

Saat ini, sekitar 15 ribu siswa telah menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat yang tersebar di 166 kabupaten/kota. Untuk tahun ajaran 2026/2027, jumlah tersebut ditargetkan bertambah 15 ribu siswa lagi.

"Tahun ini kami akan membangun 100 Sekolah Rakyat baru, termasuk di atas lahan milik Kementerian Pariwisata di Dayeuhkolot ini. Targetnya seluruh kabupaten dan kota memiliki Sekolah Rakyat agar anak-anak rentan putus sekolah mendapatkan pendidikan berkualitas," ujar Saifullah.

Saifullah menambahkan, perubahan para siswa tidak hanya terlihat dari capaian akademik, tetapi juga dari meningkatnya rasa percaya diri, kesehatan, serta kedisiplinan.

Pada akhirnya, di balik deretan angka target dan pembangunan fisik pemerintah, ada pesan sederhana yang bergaung nyaring: Ketika kesempatan yang setara diberikan kepada anak-anak yang terpinggirkan, mereka mampu berdiri sejajar dengan siapa pun.

Empat bahasa yang menggema di panggung siang itu menjadi bukti nyata—kemiskinan boleh saja membatasi keadaan, tetapi tak pernah berhak mematikan cita-cita.


Editor : Ahmad Sayuti