Memilah Sampah dari Rumah
BOGOR mendorong pemilahan sampah dimulai dari rumah. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menata pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh : Rizki Mauludi
Sampah tidak selalu berakhir sebagai sesuatu yang harus dibuang. Jika dipilah sejak dari rumah, benda-benda yang semula dianggap tidak berguna masih dapat memiliki nilai dan bahkan membuka peluang ekonomi.
Gagasan itulah yang kembali didorong Pemerintah Kota Bogor melalui peringatan World Clean Up Day tingkat Kota Bogor yang dipusatkan di halaman parkir Museum PETA, Kecamatan Bogor Tengah, Minggu (4/10).
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengatakan, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan mengandalkan pengangkutan dan tempat pembuangan. Perubahan harus dimulai dari gaya hidup masyarakat.
Pemerintah, kata Dedie, ingin mendorong agar sampah menjadi bagian dari tanggung jawab pribadi setiap warga. Pada saat yang sama, sampah juga perlu dilihat sebagai sesuatu yang dapat dikelola menjadi sumber ekonomi baru.
"Jadi sampah itu selain menjadi tanggung jawab, tetapi juga punya peluang untuk dikelola dengan baik. Nah, kemudian nanti menimbulkan namanya circular economy," ungkap Dedie kepada wartawan.
Karena itu, Pemkot Bogor menyiapkan kebijakan pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Pada sisi hilir, Kota Bogor ditargetkan memiliki dua Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL), yakni Bogor Raya 1 dan Bogor Raya 2, yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.
Namun sebelum fasilitas tersebut berjalan, perubahan perilaku masyarakat dinilai menjadi bagian penting yang tidak bisa ditunda.
Dedie menekankan pemilahan sampah harus dilakukan sejak awal. Ketika berbagai jenis sampah masih tercampur dalam satu tempat atau kendaraan, proses pengelolaannya menjadi lebih rumit.
"Kalau semua sampah masih disatukan dalam satu kendaraan atau dalam satu tempat, maka nanti truk yang akan mengangkut mungkin akan terhambat di jalan karena ada kepentingan dari pemulung dan sebagainya. Nah, kami ingin yang namanya pemilahan itu di awal saja, di hulunya," terangnya.
Sampah yang telah dipilah kemudian memiliki peluang untuk masuk kembali ke dalam proses produksi. Sampah dapat dikumpulkan dan didaur ulang menjadi bahan baru, termasuk untuk kebutuhan produksi botol dan berbagai produk lainnya.
Dengan cara itu, sampah tidak hanya berkurang dari lingkungan, tetapi juga dapat kembali memiliki nilai.
Kesadaran tersebut terus didorong melalui berbagai cara. Sosialisasi dilakukan melalui talkshow, podcast, kampanye, iklan televisi, hingga berbagai kegiatan komunikasi lainnya.
Namun, Dedie menilai gerakan tersebut tidak akan cukup jika hanya dilakukan pemerintah. Seluruh perangkat pemerintahan hingga tingkat kelurahan perlu ikut menyampaikan pentingnya memilah sampah dari sumber.
Sejumlah gerakan masyarakat juga mulai tumbuh. TPS3R dan bank sampah berkembang, sementara sejumlah pengusaha muda di Bogor mulai melihat pengelolaan sampah sebagai peluang usaha.
"Jadi memang ini harus menjadi suatu gerakan besar, dan insyaAllah Bogor gerakannya akan terus kami kuatkan supaya pada saat nanti PSEL 1 Bogor Raya dan PSEL 2 Bogor Raya jalan, masyarakat semakin juga punya tingkat kesadaran yang tinggi dalam memilah sampahnya di rumah," tambah Dedie. (gin)
Editor : Inilahkoran

