INILAH, Bandung - Di Kabupaten Bandung, siapa yang tak mengenal kuliner gepuk dan sate Cilampeni. Produk makanan itu berada di Jalan Raya Katapang-Soreang. Kendati tampilan rumah makan itu relatif sederhana namun keberadaanya cukup legendaris dan makanannya pun digemari berbagai kalangan dari dalam dan luar negeri.
Wiwin Rukmini (63) pemilik rumah makan gepuk dan sate Cilampeni mengatakan, usahanya itu ada sejak jaman kakeknya. Meski berbeda generasi, namun rumah makan itu tetap menjual gepuk dan sate sebagai menu andalan.
Gepuk yang dibuat terkenal empuk dan ukurannya pun relatif besar. Saat dimakan, daging sapi terasa lembut, tidak alot, dan mudah dikunyah. Tak sekadar besar, rasanya pun enak. Dagingnya terasa empuk dengan bumbu ketumbar, gula merah, dan bawang putih yang meresap hingga ke serat daging.
Gurih dan manisnya pas terasa di lidah. Taburan serundeng kelapa diatasnya menambah gurih dan lezat makanan yang banyak dicari oleh para penyuka kuliner lokal ini.
"Sudah lama, sejak jaman eyang saya usaha ini, saya saja sudah lebih dari 20 tahun. Dulu dari eyang berlanjut ke orang tua saya, kemudian kakak dan sekarang saya. Jadi saya ini generasi ketiga dari usaha yang turun temurun ini," kata Wiwin di rumah makannya, Minggu (24/3/2019).
Menurut Wiwin, selain ia yang mewarisi usaha serupa dari orang tuanya itua adalah kakaknya. Namun usaha kakaknya itu lebih menonjolkan sate sebagai menu andalan. Sedangkan ia lebih fokus pada menu gepuk. Kata dia, para konsumen yang banyak menjadi pelanggannya senang dengan gepuk yang dibuatnya karena empuk.
Wiwin mengatakan resep makanan gepuk miliknya tidak berbeda jauh dari resep pada umumnya dan tidak terdapat resep rahasia. Namun, ia mengaku sangat memperhatikan kualitas keempukan daging sapi.
Banyak konsumen yang datang ke rumah makan miliknya dari berbagai daerah. Seperti dari Kota Bandung, Bekasi, Jakarta dan lainnya. Bahkan, daging gepuk miliknya yang dipesan dibawa hingga mancanegara seperti Jepang dan Belanda.
"Sejak saya meneruskan usaha keluarga sampai sekarang banyak yang sudah langganan. Bahkan dari awal usaha. Yang pesan di Jepang dan Belanda sampai 20-30 buah gepuk," ujarnya.
Wiwin melanjutkan, dalam sehari ia bisa menjual sekitar 200 potong gepuk yang dibanderol Rp42 ribu per potong. Karena usahanya ini tergolong laris, maka tak heran jika rumah makan yang mempekerjakan delapan orang karyawan ini beromset ratusan juta rupiah per bulannya. Bahkan, rumah makan ini juga sempat membuka cabang di Ciranjang Cianjur. Namun, usaha itu tak berlangsung lama karena ingin lebih fokus di Katapang.
"Alhamdulillah, usaha ibu stabil dan berjalan lancar. Ke depan juga kalau ada kesempatan ingin membuka cabang lagi. Kalau anak saya yang perempuan, sekarang buka cabang di salah satu mall di Kota Bandung," katanya.
Saat ini, selain usaha rumah makan yang dijalaninya, ia pun banyak menerima pesanan katering dari sekolah-sekolah, perusahaan dan berbagai instansi pemerintahan.
"Sekarang juga banyak pelanggan yang memesan dan ingin diantarkan. Alhamdulilah konsumen selalu puas, karena saya juga terus berusaha memberikan pelayanan yang baik kepada mereka," katanya.
Salah seorang konsumen, Neni (42) mengaku seringkali membeli gepuk di rumah makan tersebut. Sebab menurutnya, tekstur gepuk yang dijualnya sangat empuk dan mudah dimakan. Selain itu, rasanya yang enak.
"Saya kalau beli gepuk selalu langganan kesini. Enak empuk dan gurih, dan kami sudah langganan sejak jamannya nenek saya," ujarnya.