Menelisik Aeroponik, Teknik Budidaya Pertanian yang Digunakan di Lembang KBB

Siapa yang tak mengenal teknologi sistem aeroponik? Sebuah metode budidaya dengan memberdayakan udara guna meningkatkan produktivitas lahan pertanian. 

Menelisik Aeroponik, Teknik Budidaya Pertanian yang Digunakan di Lembang KBB
Salah satu daerah yang pertama kali menggunakan teknologi sistem aeroponik adalah Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Di daerah itu teknologi budidaya pertanian tersebut dijalani sejak 1997. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Siapa yang tak mengenal teknologi sistem aeroponik? Sebuah metode budidaya dengan memberdayakan udara guna meningkatkan produktivitas lahan pertanian

Salah satu daerah yang pertama kali menggunakan teknologi sistem aeroponik adalah Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Di daerah itu teknologi budidaya pertanian tersebut dijalani sejak 1997.

Meski begitu, kala itu pemakaian sistem aeroponik di Lembang masih digunakan untuk budidaya satu jenis tanaman pertanian tertentu.

Seiring dengan perkembangan dan tingginya kebutuhan pangan, kini sistem aeroponik menjadi salah satu solusi bidang pertanian lantaran mampu meningkatkan produktivitas pertanian serta mendongkrak mutu hasil pertanian.

"Di Lembang sendiri, teknologi sistem aeroponik muncul pada tahun 1997," kata Ketua Kelompok Tani Agro Seed Farm Kayuambon, Lembang, Hendra Gunawan kepada wartawan, Selasa 28 Maret 2023.

Ia menuturkan, sistem tersebut digunakan dengan tujuan mengubah kualitas serta produktivitas tanaman, khususnya untuk jenis tanaman daun.

"Jadi memang di tahun 1997 itu tujuannya mengubah harga kangkung yang mulanya Rp500 per ikat agar bisa laku sampai Rp25.000 per kilogram itu awal mulanya," tuturnya.

Ia menjelaskan, dari yang semula sistem aeroponik diperuntukkan bagi jenis tanaman daun, pada tahun 2007-2008, sistem aeroponik dipergunakan juga untuk budidaya tanaman pertanian lainnya, khususnya, kentang granola.

Hal itu dikarenakan, pada tahun-tahun tersebut, benih kentang bermutu sangat jarang bahkan kebanyakan masih impor dari berbagai negara.

"Nah, dengan sistem aeroponik ini perbenihan menjadi lebih bermutu," jelasnya.

"Selain itu, pada pertanian kentang biasanya, satu pohon itu hanya tiga sampai enam umbi saja, makanya kita coba pada tahun 2008 dengan sistem aeroponik ternyata hasilnya luar biasa, produksinya bisa 10 sampai 30 umbi dalam satu tanaman kentang," bebernya.

Ia menyebut, sistem aeroponik merupakan sub sistem dari hidroponik yakni, pemberdayaan air melalui cara pengaliran, penyemprotan, penetesan, perendaman, serta pengkabutan yang disebut aeroponik.

Melalui sistem tersebut, suplai makanan dan nutrisi bagi tanaman disalurkan melalui air yang dikabutkan. 

"Sistem hidroponik itu sudah terkandung 9 sampai 11 unsur hara, makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman, beda lagi dengan yang ditanam di tanah yang makanannya ada di tanah dan belum tentu dibutuhkan tanaman," ujarnya.

"Tapi kalau hidro ataupun aeroponik itu sudah pasti sesuai yang dibutuhkan tanaman," tandasnya.*** (agus satia negara) 


Editor : Doni Ramdhani