Menelisik Makna di Balik Perang Tomat Lembang, Dari Derita Petani Menjadi Sajian Kesenian yang Berjiwa

Di lereng Gunung Tangkuban Perahu, di mana hamparan hijau alam Lembang menyambut setiap matahari yang muncul, tersembunyi sebuah tradisi yang tak hanya menghibur, melainkan juga menyimpan makna mendalam seperti akar pohon yang mengakar kuat di bumi Sunda.

Menelisik Makna di Balik Perang Tomat Lembang, Dari Derita Petani Menjadi Sajian Kesenian yang Berjiwa
Di lereng Gunung Tangkuban Perahu, di mana hamparan hijau alam Lembang menyambut setiap matahari yang muncul, tersembunyi sebuah tradisi yang tak hanya menghibur, melainkan juga menyimpan makna mendalam seperti akar pohon yang mengakar kuat di bumi Sunda.

INILAHKORAN.ID- Di lereng Gunung Tangkuban Perahu, di mana hamparan hijau alam Lembang menyambut setiap matahari yang muncul, tersembunyi sebuah tradisi yang tak hanya menghibur, melainkan juga menyimpan makna mendalam seperti akar pohon yang mengakar kuat di bumi Sunda.

Rempug Tarung Adu Tomat atau yang lebih dikenal sebagai perang tomat Lembang, bukan sekadar permainan melempar buah merah berwarna meriah, ini adalah cerita tentang perjuangan, kreativitas, dan kebijaksanaan masyarakat Kampung Cikareumbi yang menghadirkan kebahagiaan dari tengah kesulitan.

Pada tahun 2010, ketika para pelaku seni Sisingaan di Cikareumbi mendekati budayawan lokal Abah Nanu dengan harapan untuk menciptakan sebuah kegiatan yang bisa menggali potensi budaya dan agrowisata kampung mereka, tak ada yang menyangka bahwa jawaban atas harapan itu akan lahir dari sebuah kondisi yang menyakitkan.

Hingga tahun 2011, ketika hasil panen tomat melimpah mengalir seperti sungai musim hujan, harga komoditas ini justru anjlok ke bawah batas yang wajar.

Keringat dan jerih payah para Petani yang sudah direndam dalam tanah subur, malah berubah menjadi beban ekonomi yang membuat mereka terpuruk.

Alih-alih menjadi sumber rejeki, buah tomat yang matang berwarna merah menyala itu dibiarkan membusuk di kebun, sebuah bentuk protes yang terdiam namun penuh makna kepada pemerintah daerah.

Dari lautan kesedihan itu, Abah Nanu melihat peluang untuk mengubah cerita. Ia membayangkan bagaimana buah yang dianggap tidak berharga bisa menjadi alat untuk membangun kebersamaan dan menyebarkan tawa.

Sejak saat itu, ide perang tomat mulai berkecambah seperti tunas baru di musim semi.

Setiap tahun, pada minggu terakhir bulan Oktober, lapangan terbuka di Kampung Cikareumbi RW 03, Desa Cikidang, menjadi panggung bagi aksi yang penuh semangat.

Tomat-tomat yang sudah tidak layak jual atau dikonsumsi yang dulunya menjadi simbol kemelaratan, kini bertransformasi menjadi "peluru" yang membawa kegembiraan.

Peserta dari berbagai kalangan, baik warga lokal maupun pengunjung dari luar daerah, berkumpul dengan wajah penuh senyum, bahkan sebagian menggunakan topeng untuk menambah keseruan.

Saat sinyal dimulai, suasana langsung menjadi riuh dengan teriakan bahagia dan suara tomat yang menghantam dengan lembut. Hujan tomat merah menyelimuti setiap sudut lapangan, menciptakan pemandangan yang meriah dan penuh warna.

Namun, di balik keseruannya, tidak ada rasa permusuhan, hanya tawa yang bergema dan rasa kebersamaan yang terjalin erat antar peserta.

perang tomat Lembang bukan sekadar hiburan belaka. Sebab, bagi masyarakat lokal, tradisi ini menyimpan makna budaya yang dalam, yakni sebagai ucapan rasa syukur.

Meskipun awalnya lahir dari rasa kecewa, kini acara ini menjadi bentuk terima kasih kepada alam atas limpahan air dan hasil bumi yang melimpah, diwujudkan sebagai sebuah kesenian yang hidup.

Kedua, pembersihan diri, sebagaimana konsep ngruwat atau miceun rereged, melempar dan terkena tomat dianggap sebagai cara untuk membersihkan diri dari hal buruk, membuang sial, dan menyucikan jiwa.

Ketiga, menghapus kepalsuan, aksi melempar tomat ke arah mereka yang menggunakan topeng melambangkan usaha untuk membuka tabir kepalsuan dan menghilangkan sifat tidak terpuji dalam diri manusia.

Tak hanya memberikan kebahagiaan, tradisi perang tomat ini juga menunjukkan kecerdasan masyarakat dalam mengelola sumber daya. Setelah acara berakhir, tomat-tomat yang sudah hancur tidak dibuang begitu saja. Warga bekerja sama untuk mengumpulkannya dan mengolah menjadi pupuk kompos yang bermanfaat bagi tanaman tomat dan sayuran lainnya. Ini adalah bukti bahwa apa yang dianggap tidak berharga bisa kembali menjadi berkah jika dikelola dengan bijak.

Meskipun sering dibandingkan dengan festival La Tomatina di Spanyol, perang tomat Lembang memiliki ciri khas sendiri yang tumbuh dari akar budaya lokal, kondisi ekonomi Petani, dan kreativitas seni yang khas Sunda.

Tradisi ini bukan hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga sebagai jembatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan hasil pertanian Lembang kepada dunia.***


Editor : JakaPermana