Menelisik Sisi Lain Sosok Deni Firman Rosadi, Penyelenggara Demokrasi di KBB Abdikan Diri untuk Tanah Kelahiran
Bakti diri ka lemah cai, seba raga ka balarea, menjadi salah satu prinsip yang dipegang teguh Deni Firman Rosadi (37) warga Kampung Babakan Resmi RW16, Desa Sirnajaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Bakti diri ka lemah cai, seba raga ka balarea, menjadi salah satu prinsip yang dipegang teguh Deni Firman Rosadi (37) warga Kampung Babakan Resmi RW16, Desa Sirnajaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Ungkapan dalam bahasa Sunda yang berarti 'Mengabdiri diri tanah kelahiran, persembahkan raga untuk masyarakat' ini mengungkap sisi lain pria yang juga menjabat sebagai Kadiv Sosdiklih Parmas dan SDM KPU Kabupaten Bandung Barat itu.
Berbeda dengan kehidupan kebanyakan pejabat pada umumnya, Deni bersama istri dan dua orang putrinya hidup dengan sederhana di sebuah rumah berukuran 5x8 meter persegi dengan beralaskan kayu.
Bahkan, Glass-fiber Reinforced Cement atau GRC yang digunakan sebagai dinding terlihat pecah dan berlubang. Tak ayal, ketika angin berhembus seketika udara dingin masuk dan menusuk ke tubuh.
Namun, dibalik itu semua Deni juga ternyata aktif dalam membangun dan memberdayakan masyarakat di kampung halamannya di Gununghalu.
Salah satunya dengan menggagas program Jumat Hijau, sebuah kegiatan menanam pohon-pohon produktif di sepanjang jalan lingkungan hingga gang-gang kecil di wilayah Kampung Babakan Resmi.
"Program Jumat Hijau tujuannya untuk menghijaukan wilayah kampung Babakan Resmi, termasuk menjaga alam dan lingkungan agar tetap lestari karena di wilayah selatan Bandung Barat ini dikenal rawan bencana seperti tanah longsor," kata Deni saat ditemui di lokasi, Minggu 22 Juni 2025.
Menurutnya, dengan banyaknya pepohonan tentunya penyerapan air tatkala terjadi cuaca ekstrem, khususnya saat musim penghujan bisa lebih maksimal.
Disamping itu, tujuan tanaman-tanaman produktif untuk mendapatkan income, sehingga bisa berkontribusi untuk membangun dan mengisi berbagai hal yang dibutuhkan oleh warga.
"Dengan begitu, Kampung Babakan Resmi bisa hidup dengan mandiri tanpa harus bergantung dari pemerintah," tuturnya.
"Hingga saat ini kita sudah menanam 315 pohon cengkeh. Sementara target kami bisa tertanam 1.000 pohon cengkeh," sambungnya.
Ke depan, terang Deni, pihaknya berencana menanam berbagai tanaman di halaman warga, seperti vanili, lada dan kopi. Hasilnya, sebagian untuk pemilik lahan dan sebagian untuk kebutuhan kampung.
"Asumsinya kalau hari ini bisa tertanam 1.000 pohon cengkeh dan satu pohon bisa menghasilkan 1 kilo gram, harga cengkeh kering Rp80 ribu misalnya. Maka, hasil yang didapat penjualan bisa mencapai Rp80 juta dalam sekali panen," terangnya.
Oleh karenanya, dirinya optimistis bahwa kampung mandiri itu bukan sekadar mimpi. Namun bisa jadi kenyataan dan taraf ekonomi masyarakat meningkat dan kampung pun terkelola dengan baik.
Dari uang hasil penjualan tersebut bakal diwadahi oleh koperasi kampung, dimana saldo yang dimiliki bisa digunakan untuk membantu masyarakat dalam meningkatkan usahanya, untuk membangun fasos dan fasum, serta sarana keagamaan.
Intinya harus kembali untuk kebutuhan warga Kampung Babakan Resmi dan segala sesuatu harus dimulai dari hal yang kecil dan dilakukan secara konsisten, terutama dalam menjaga semangat mewujudkan kemandirian.
"Ketika semua itu tercapai, optimis segala sektor mulai dari sosial, ekonomi, budaya pendidikan, serta politik bisa teraktualisasi secara masif," tegasnya.*** (agus satia negara)
Editor : Ahmad Sayuti


