Harga BBM Nonsubsidi Turun, Disperindag Jabar Optimistis Tekanan Inflasi Terkendali
Penurunan harga BBM nonsubsidi Pertamina pada Agustus 2026 dinilai Disperindag Jabar mampu meredam tekanan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat Jawa Barat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Penurunan harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi Pertamina pada Agustus 2026, menjadi kabar positif bagi perekonomian Jawa Barat.
Setelah sempat memicu tekanan inflasi pada Juli lalu, koreksi harga Pertamax dan produk BBM nonsubsidi lainnya diperkirakan mampu meredam gejolak harga sekaligus menjaga daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke atas.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat, Nining Yuliastiani mengatakan, kenaikan harga Pertamax beberapa waktu lalu, sempat memberi andil terhadap inflasi pada Juli 2026. Namun tekanan tersebut berhasil diredam oleh turunnya harga kelompok makanan dan minuman, yang menjadi komponen utama pengeluaran masyarakat.
“Kalau ini kan saya melihat dari bagian yang dilakukan oleh BPS kaitannya dengan dampak dari Pertamax. Karena kemarin dengan kenaikan Pertamax di bulan Juli itu, dari awal bulan Juli gitu ya, ini kan berdampak pada posisi inflasi yang ada. Kalau inflasi month to month, kita mengalami deflasi karena dibantu banget dengan tadi komponen harga kecil makanan minuman yang mengalami penurunan, relatif penurunan,” kata Nining saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Jumat (7/8/2026).
Data BPS menunjukkan Jawa Barat mencatat deflasi 0,05 persen secara bulanan pada Juli 2026. Kondisi tersebut mengindikasikan tekanan harga dari sektor energi belum cukup kuat untuk mengerek inflasi, karena tertahan oleh turunnya harga sejumlah komoditas pangan.
Menurut Nining, kelompok harga yang diatur pemerintah, termasuk BBM, sebenarnya mengalami inflasi. Namun dampaknya berhasil diimbangi oleh penurunan harga kebutuhan pokok.
“Sehingga untuk komponen inti dan komponen harga yang diatur oleh pemerintah termasuk dengan BBM yang mengalami inflasi, ini bisa ke-absorb (terserap). Inflasinya itu lebih turun lagi karena dengan bantuan dari yang tadi, penurunan harga komponen kecil makanan,” ujarnya.
Saat ini, harga Pertamax (RON 92) turun menjadi Rp15.950 per liter dari sebelumnya Rp16.250 per liter. Pertamax Green 95 turun menjadi Rp16.600 per liter dari Rp17.000 per liter, sementara Pertamax Turbo terkoreksi menjadi Rp18.300 per liter dari sebelumnya Rp19.300 per liter.
Bagi kalangan menengah ke atas yang menjadi pengguna utama BBM nonsubsidi, penurunan tersebut dinilai dapat mengurangi beban pengeluaran transportasi dan operasional harian. Di sisi lain, tren ini juga memberi sinyal jika tekanan biaya logistik tidak lagi sekuat beberapa bulan sebelumnya.
Nining menilai, stabilisasi harga energi tidak lepas dari mulai meredanya ketegangan global yang sebelumnya memengaruhi harga minyak dunia.
“Kalau kita lihat posisinya kan, kecuali Pertamax yang RON 92, yang RON 95, terus kemudian yang Pertamax, itu kan semuanya mengalami penurunan dari semula. Nah ini pada posisi itu, kami melihat karena ada kecenderungan menurun dibanding awal di Juli, yang sekarang menurun gitu ya, apalagi kemudian kalau kondisi di global, terutama di Timur Tengah ini sudah mulai slowdown, maka posisinya sudah mulai stabil,” tuturnya.
Meski demikian, Disperindag Jabar menilai harga BBM kemungkinan tidak akan kembali ke level sebelum gejolak energi global terjadi. Namun, masyarakat dinilai mulai beradaptasi dengan struktur harga baru yang lebih stabil.
“Walaupun mungkin secara harga tidak kembali ke semula seperti dulu lagi, tapi masyarakat ini sudah mulai bisa menyesuaikan. Karena kecenderungan menurunnya juga besar. Jadi kami berharap nantinya tidak terlalu berdampak terhadap inflasi selanjutnya,” katanya.
Penurunan harga BBM nonsubsidi ini menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi Jawa Barat di tengah tantangan perlambatan ekonomi global. Jika tren harga energi tetap terkendali, ruang bagi inflasi untuk bergerak naik diperkirakan semakin terbatas pada semester kedua 2026.
Editor : Ahmad Sayuti


