Menengok Produksi Sprei Hasil Warga Binaan Lapas Jelekong

Menjadi warga binaan di Lembaga Permasyara (Lapas) bukan berarti harus kehilangan produktivitas. Ini buktinya!

Menengok Produksi Sprei Hasil Warga Binaan Lapas Jelekong
Menjadi warga binaan di Lembaga Permasyara (Lapas) bukan berarti harus kehilangan produktivitas.
INILAH,Bandung- Menjadi warga binaan di Lembaga Permasyara (Lapas) bukan berarti harus kehilangan produktivitas. Ini buktinya!
 
Apa yang dilakukan para warga binaan di LP Narkotika Kelas II A Jelekong di Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung, patut jadi sumber inspirasi.
 
Sejak pagi, Jamjam (45) nampak asyik menjahit sebuah pakaian di bengkel kerja yang ada di salah satu ruangan di Lapas Narkotika Kelas II A Jelekong. Kedua tangannya nampak sibuk dan terampil mengoperasikan mesin jahit. Ia tengah menyelesaikan pesanan berupa pakaian dinas milik para pegawai di Lapas tersebut.
 
Berada di ruangan itu, rasanya siapapun akan lupa jika tengah berada di dalam sebuah LP dan berhadapan dengan para warga binaan. Karena memang di ruangan itu tak ubahnya seperti aktivitas disebuah tempat usaha konveksi. 
 
"Saya sedang bikin kemeja dinas pesanan dari para pegawai di Lapas ini. Saya kerjakan dari nol sampai jadi. Kalau yang lain semuanya sedang mengerjakan pembuatan seprei maklunan. Yah setiap hari pekerjaan kami disini menjahit, sprei, pakaian atau apa saja tergantung permintaan,"kata Jamjam di bengkel kerja Lapas Narkotika Kelas II A Baleendah Rabu (20/2).
 
Jamjam adalah salah seorang warga binaan yang sejak tiga tahun terakhir ini menjalani pekerjaan sebagai penjahit. Pria warga Soreang ini tersandung sebuah kasus hingga harus menjalani hukuman sebagai warga binaan di LP tersebut selama 12 tahun. 
 
Di ruangan yang cukup luas itu juga terdapat belasan orang warga binaan lainnya yang tengah sibuk dihadapan mesin jahit listrik.Tumpukan kain bahan untuk sperei aneka warna yang tengah dijahit oleh mereka nampak dimana mana.
 
"Sebelum masuk kesini memang saya sudah punya keahlian menjahit. Sehingga kawan kawan disini juga ada yang saya ajarkan menjahit, sekarang sudah mahir dan bekerja membuat sperei borongan dari perusahaan yang memang kerjasama dengan pihak Lapas ini,"ujar Jamjam.
 
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Narapodana Lapas Narkotika Kelas II A Jelekong, Ramdan, Ginanjar mengatakan, sejak 2016 lalu, pihaknya bekerjasama dengan salah satu produsen sprei. 
 
Yakni dalam hal pemberdayaan warga binaan di LP tersebut, warga binaan dilatih berbagai keterampilan kerja dan salah satunya adalah menjahit. Setelah mereka menguasai ketetampilan menjahit, mereka dipekerjakan membuat sprei. Di ruangan tersebut memang terdapat puluhan mesin jahit standar sebuah usaha konveksi hibah CSR dari BJB.
 
"Dalam sebulan rata rata mereka menghasilkan 1000 setel sprei. Dari pekerjaan itu mereka mendapatkan upah. Ini adalah bagian dari upaya pemberdayaan warga binaan, agar suatu saat mereka kembali ke masyarakat punya keterampilan kerja untuk bekal hidupnya,"ujar Ramdan.
 
Dikatakan Ramdan, selain keahlian menjahit, warga binaan lainnya pun mendapatkan pelatihan kerja sesuai dengan minat dan bakatnya. Seperti yang dilaksanakan saat ini, yakni pelatihan keahlian pengelasan. 
 
Sebanyak 20 orang warga binaan mendapatkan pelatihan pengelasan dari Balai Latihan Kerja (BLK) dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bandung.
 
"Setiap tahun juga kami mengadakan pelatihan keterampilan kerja untuk para warga binaan ini. Seperti pelatihan pertanian, budidaya jamur, pelatihan sablon, pembuatan sandal hotel dan lain sebagainya. Harapanya, suatu saat mereka kembali ke masyarakat sudah punya bekal keahlian, sehingga tidak mengulangi kesalahanya di masa lalu,"ujarnya. 
 


Editor : inilahkoran