Mengabdi Menyentuh Denyut Kehidupan
RUANG kelas tak lagi dibatasi dinding kampus. Masyarakat, dunia usaha, dan sekolah kini menjadi tempat belajar sekaligus mengabdi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Empat bulan ke depan, ribuan mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) akan meninggalkan rutinitas ruang kuliah. Mereka tidak hanya membawa buku atau laptop, tetapi juga pengetahuan yang akan diuji langsung di tengah masyarakat, sekolah, dunia usaha, hingga lembaga kemanusiaan.
Bagi mereka, kampus bukan lagi satu-satunya tempat belajar. Kehidupan nyata menjadi ruang kelas yang sesungguhnya.
Semangat itu menjadi ruh Program Mahasiswa Berdampak Mobilitas Akademik Tahun Akademik 2026/2027 yang resmi dimulai di Unesa, Senin. Sebanyak 16.000 mahasiswa diterjunkan ke berbagai daerah selama empat bulan untuk belajar dari persoalan riil sekaligus berkontribusi mencari solusi.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, mengatakan perguruan tinggi harus menghasilkan karya yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat, bukan sekadar memperbanyak publikasi ilmiah.
“Langkah ini diharapkan mampu menciptakan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha dan industri, masyarakat, serta media. Dengan demikian karya-karya akademik kampus tidak hanya berakhir sebagai tumpukan jurnal ilmiah, tetapi juga mampu memberikan solusi nyata dan manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya, seperti dikutip dari ANTARA.
Program tersebut melibatkan 1.152 mitra, baik di dalam maupun luar negeri. Mereka berasal dari pemerintah, dunia usaha dan industri, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, hingga berbagai institusi lainnya yang menjadi tempat mahasiswa belajar sekaligus mengabdi.
Bagi Fauzan, pengalaman di lapangan merupakan bekal penting untuk membentuk lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu beradaptasi, bekerja sama, menyelesaikan persoalan, dan memiliki empati terhadap masyarakat.
Rektor Unesa, Prof. Nurhasan, menyebut mobilitas akademik sebagai laboratorium kehidupan yang memberi kesempatan mahasiswa menguji teori yang selama ini dipelajari di bangku kuliah.
“Program ini sejalan dengan misi pembangunan nasional. Di era global saat ini mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kompetensi akademik, tetapi juga diuji dalam hal kedisiplinan, tanggung jawab, kemampuan problem solving, empati, dan kerja sama tim,” kata pria yang akrab disapa Cak Hasan itu. (gin)
Editor : Inilahkoran


