Mengungkap Makna Tradisi Lisan Tumbalan Gunung Batu Desa Langensari Lembang
Keberadaan tradisi lisan atau folklor di Kabupaten Bandung Barat (KBB) seakan tak pernah habis untuk dikupas. Itu lantaran kekayaan dan keanekaragaman yang tersebar di setiap sudut wilayah yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Bandung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Keberadaan tradisi lisan atau folklor di Kabupaten Bandung Barat (KBB) seakan tak pernah habis untuk dikupas. Itu lantaran kekayaan dan keanekaragaman yang tersebar di setiap sudut wilayah yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Bandung.
Salah satu tradisi lisan yang masih dijaga saat ini, yakni ritual Tumbalan Gunung Batu yang kerap dilaksanakan warga Kampung Buniasih, Desa Langensari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Tradisi Tumbalan Gunung Batu merupakan satu ritus yang diisi dengan beragam perayaan di dalamnya.
Komunitas Budaya Pelestari, sekaligus Tim Rorokan Sadulur Raksa Bumi Gunung Batu, Sukma mengatakan, ritual Tumbalan Gunung Batu merupakan tradisi yang diturunkan secara turun temurun.
"Kampung tempat kelahiran saya dikelilingi oleh Gunung Batu batu di mana di kawasan tersebut ada garis patahan sesar Lembang," katanya.
"Oleh karenanya, perlu adanya ritual tumbalan agar alam bisa tetap terjaga, sesuai dengan amanat dari para leluhur," sambungnya.
Ia menjelaskan, ritual Tumbalan Gunung Batu ini dilakukan sebagai simbol paku bumi, di mana ritual ini merupakan bagian dari mitigasi bencana yang dilakukan para leluhur terdahulu agar semuanya selamat.
"Saya sebagai juru kunci generasi ke tujuh bertanggung jawab atas ritual tumbalan ini karena sudah ada aturannya," jelasnya.
Ia menuturkan, ritual Tumbalan Gunung Batu ini merupakan bagian dari tradisi lisan atau folklore yang diturunkan secara turun-temurun yang dilaksanakan sampai sekarang.
"Oleh karenanya, kami akan rawat dan pelihara agar tetap terjaga, serta terlestarikan," tuturnya.
Sementara itu, Juru Kunci Tumbalan Gunung Batu Lembang Abah Ujang mengatakan, berdasarkan tradisi lisan yang beredar di masyarakat, Tumbalan Gunung Batu ini merupakan ungkapan rasa syukur atau ruwatan untuk tolak bala.
"Keutamaan ruwatan ini adalah amanat Eyang Dalem Mangku Nagara bahwa gunung batu ini harus dijaga, dirawat dan jangan sampai dirusak," ungkapnya.
"Makanya, setiap bulan ruwah warga kerap mengadakan tumbalan kambing hitam," sambungnya.
Ia menyebut, Gunung Batu ini merupakan jalur Sesar Lembang yang membentang sepanjang 29 kilometer yang meliputi Gunung Manglayang, Gunung Putri, Gunung Burangrang, dan Bukit Tunggul.
"Untuk mengantisipasi gempa yang terjadi, paku bumi tersebut ditancapkan melalui Tumbalan Gunung Batu Lembang dengan cara mengubur kaki serta kepala kambing hitam agar tidak terjadi gempa di kawasan Sesar Lembang," sebutnya.*** (agus satia negara)
Editor : Doni Ramdhani

