Menjaga Harga dari Jalur Distribusi

Menjaga Harga dari Jalur Distribusi
DISTRIBUSI PANGAN: Warga membeli kebutuhan pokok di bazar murah. Wali Kota Bandung M Farhan mengatakan, kestabilan harga kebutuhan pokok, dipengaruhi kelancaran distribusi pangan.(Foto Ilustrasi)

Oleh: Yogo Triastopo

INILAH, Bandung - Harga pangan di pasar tidak selalu ditentukan oleh angka inflasi. Di Kota Bandung, kelancaran barang dari pemasok hingga sampai ke tangan warga justru menjadi perhatian yang kini lebih penting bagi pemerintah kota.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan inflasi bukan lagi menjadi perhatian utama Pemkot Bandung. Pemerintah lebih fokus memastikan pasokan kebutuhan pokok tetap tersedia dan distribusinya tidak tersendat.

“Sebetulnya yang paling penting, kalau inflasi memang sudah bukan concern utama kita lagi,” kata Farhan, akhir pekan lalu.

Menurut Farhan, harga kebutuhan pokok sangat dipengaruhi oleh distribusi. Ketika pasokan tetap mengalir dan barang tersedia dalam jumlah cukup, tekanan terhadap harga dapat lebih mudah dikendalikan.

“Kalau inflasi, betul-betul sangat tergantung kepada distribusi. Distribusi ini yang akan kita intervensi terus, memastikan barang kebutuhan pokok ke Kota Bandung tidak berkurang dan tetap melimpah,” ujarnya.

Karena itu, Pemkot Bandung tidak hanya memantau harga di pasar. Rantai pasok menjadi bagian penting yang terus diperhatikan agar kebutuhan masyarakat tidak mengalami gangguan.

Intervensi juga dilakukan melalui bazar murah yang digelar selama dua pekan di 30 kecamatan. Program tersebut melibatkan Bulog, distributor, pelaku UMKM, dan mitra pasar modern untuk menyediakan kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau.

Sejumlah komoditas dijual sekitar 20 persen lebih murah dibandingkan harga pasaran, baik melalui subsidi maupun potongan harga dari distributor dan toko ritel.

“Bazar murah memberikan kesempatan kepada masyarakat mendapatkan harga yang disubsidi,” kata Farhan.

Beras SPHP, Minyakita, telur, daging, dan sayuran menjadi sejumlah kebutuhan yang tersedia. Dari berbagai komoditas tersebut, telur menjadi salah satu yang paling banyak dicari masyarakat.

“Yang paling banyak dicari beras, Minyakita sama telur. Karena sekarang kebutuhan protein paling penting bagi warga Kota Bandung itu adalah telur, karena harganya paling terjangkau dan distribusinya paling banyak,” ujarnya.

Namun, harga murah melalui subsidi bukan solusi yang bisa berlangsung selamanya. Farhan menegaskan pemerintah tidak mungkin terus-menerus menanggung selisih harga kebutuhan pokok.

“Memang kita tidak bisa terus-menerus memberikan harga disubsidi,” tuturnya.

(gin)


Editor : Inilahkoran