Menjangkau Ujung Biak, SF ITB Perkuat Pencegahan Stunting dan Literasi Kesehatan
SF ITB menggelar pengabdian masyarakat di Desa Amyas, Supiori, Papua, dengan edukasi pencegahan stunting, skrining penyakit degeneratif, dan literasi obat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Tim dosen Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (SF ITB) melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat Skema Bottom-Up ITB 2026 di Desa Amyas, Distrik Supiori Barat, Kabupaten Supiori, Papua, pada 2–3 Oktober 2026.
Selama dua hari, kegiatan difokuskan pada penguatan kapasitas masyarakat dan kader kesehatan dalam pencegahan stunting, pengelolaan penyakit degeneratif, serta penggunaan obat secara rasional melalui swamedikasi.
Program tersebut diketuai apt. Yangie Dwi Marga Pinanga, M.Sc., Ph.D., bersama Dr. apt. Hubbi Nashrullah, M.Si., apt. Bhekti Pratiwi, M.Si., apt. Fitriani Jati Rahmania, Ph.D., dan apt. Annisa Rahma, Ph.D.
Untuk mencapai Desa Amyas, tim SF ITB menempuh perjalanan menuju wilayah Supiori Barat yang berada jauh dari pusat perkotaan. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi kunjungan pertama tim ITB untuk melaksanakan edukasi kesehatan masyarakat secara langsung di Desa Amyas.
Remaja Didorong Cegah Stunting Sejak Dini
Kegiatan hari pertama berlangsung di SMAN 7 Urmboridori, Jumat (2/10/2026), melalui program bertajuk “Remaja Cerdas Amyas, Cegah Stunting dan Anemia: Misi dari Timur”.
Tema tersebut dipilih karena persoalan stunting masih menjadi perhatian di Kabupaten Supiori. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, prevalensi stunting balita di Kabupaten Supiori tercatat 40,2 persen.
Sebanyak 30 siswa mengikuti skrining anemia melalui pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb). Selain pemeriksaan, tim memberikan edukasi mengenai anemia dan gejalanya, kebutuhan gizi pada masa remaja, pemanfaatan pangan lokal bergizi, serta penggunaan tablet tambah darah secara tepat.
Hasil skrining awal menunjukkan hampir 30 persen siswa yang diperiksa memiliki kadar hemoglobin di bawah rentang normal. Temuan tersebut terutama terdapat pada remaja putri.
Tim menegaskan bahwa hasil skrining tersebut bukan merupakan diagnosis klinis. Siswa yang memperoleh hasil pemeriksaan dan memerlukan perhatian lebih lanjut diarahkan untuk mendapatkan pemeriksaan serta tindak lanjut di fasilitas kesehatan.
Ketua tim pengabdian masyarakat, apt. Yangie Dwi Marga Pinanga, mengatakan pencegahan stunting perlu dilakukan sejak sebelum seseorang memasuki masa kehamilan.
“Ketika seseorang sudah dewasa, yang terlihat bukan lagi diagnosis stunting seperti pada anak, melainkan dampak jangka panjang dari gangguan pertumbuhan dan kekurangan gizi pada masa sebelumnya. Karena itu, remaja perlu memahami sejak sekarang bahwa status gizi mereka akan berpengaruh terhadap kesehatan dirinya pada masa depan dan, kelak, terhadap kesehatan generasi berikutnya,” ujarnya.
Menurutnya, anemia pada remaja tidak secara langsung berarti seseorang akan memiliki anak stunting. Namun, anemia dan kekurangan gizi pada masa remaja perlu dicegah karena remaja putri yang memasuki masa kehamilan dengan status gizi dan hemoglobin yang kurang baik memiliki risiko lebih besar mengalami masalah kehamilan dan kelahiran. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan pertumbuhan pada anak.
Tim SF ITB juga menekankan bahwa pencegahan stunting bukan hanya tanggung jawab remaja putri.
“Selama ini edukasi banyak menitikberatkan pada remaja putri, termasuk melalui pemberian tablet tambah darah. Padahal, membangun generasi yang sehat merupakan tanggung jawab bersama. Remaja putra juga perlu memahami gizi, anemia, kesehatan keluarga, dan perannya kelak sebagai bagian dari upaya memutus mata rantai stunting,” kata apt. Fitriani Jati Rahmania, Ph.D.
Untuk membuat edukasi lebih dekat dengan kehidupan remaja Papua, SF ITB turut memperkenalkan buku komik edukasi “Yohan dan Maria: Misi dari Timur”.
Komik tersebut menggunakan karakter remaja Papua untuk menyampaikan pesan mengenai anemia, gizi, stunting, serta peran remaja dalam menjaga kesehatan dengan pendekatan yang lebih komunikatif.
Kegiatan di SMAN 7 Urmboridori mendapat sambutan dari kepala sekolah, guru, dan siswa. Kepala SMAN 7 Urmboridori, Gerard Rumainum, S.Pd., mengatakan kunjungan tersebut tidak hanya memberikan edukasi kesehatan, tetapi juga membuka kesempatan bagi siswa untuk mengenal pendidikan tinggi.
“Setelah sembilan tahun sekolah ini berdiri, baru kali ini kami mendapat kunjungan dari ITB untuk memberikan edukasi kepada siswa. Kehadiran tim juga menjadi motivasi bagi anak-anak kami untuk berani melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi, terutama ke ITB,” ujarnya.
Skrining Penyakit Degeneratif
Pada hari kedua, Sabtu (3/10/2026), kegiatan berlanjut bersama masyarakat dan kader kesehatan Desa Amyas.
Sekitar 40 warga mengikuti pemeriksaan tekanan darah, glukosa darah, kolesterol total, trigliserida, dan asam urat.
Hasil skrining kemudian menjadi dasar edukasi mengenai faktor risiko, pencegahan, serta pengelolaan awal hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, dan hiperurisemia.
Sekitar 40 persen peserta yang diperiksa memiliki tekanan darah dan/atau kadar kolesterol di atas rentang yang dianjurkan. Peserta dengan hasil pemeriksaan di luar rentang normal dianjurkan melakukan pemeriksaan lanjutan di fasilitas kesehatan.
Dr. apt. Hubbi Nashrullah, M.Si., mengatakan profil kolesterol seseorang dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, usia, hingga faktor familial dan genetik.
“Temuan skrining ini belum dapat digunakan untuk menyimpulkan penyebab tertentu, tetapi dapat menjadi dasar untuk meningkatkan kewaspadaan dan mendorong pemeriksaan kesehatan secara berkala,” ujarnya.
Sementara itu, apt. Bhekti Pratiwi, M.Si., menekankan pentingnya pengendalian penyakit kronis untuk mencegah komplikasi.
“Pada penyakit kronis, targetnya adalah menjaga tekanan darah, gula darah, maupun profil lipid tetap terkendali sehingga risiko komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal dapat ditekan,” katanya.
Edukasi Penggunaan Obat
Selain skrining, masyarakat mendapatkan edukasi mengenai swamedikasi atau pengobatan mandiri secara rasional.
Materi mencakup pengenalan golongan obat, cara membaca informasi pada kemasan, batasan swamedikasi, hingga kondisi yang memerlukan rujukan ke fasilitas kesehatan.
Peserta juga diperkenalkan dengan prinsip DAGUSIBU, yakni Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang obat dengan benar. Tim turut mengingatkan risiko penggunaan antibiotik tanpa indikasi dan tanpa resep.
Edukasi tersebut dinilai penting bagi masyarakat di wilayah dengan keterbatasan akses terhadap fasilitas dan tenaga kesehatan. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat diharapkan mampu membedakan keluhan yang masih dapat ditangani melalui swamedikasi dengan kondisi yang membutuhkan pertolongan tenaga kesehatan.
Dorong Program Berkelanjutan
Kegiatan di Desa Amyas dibuka Kepala Kampung Amyas dan dihadiri Sekretaris Distrik Supiori Barat, perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Supiori, Shondian Hutabalian, ketua adat, serta sejumlah tokoh masyarakat.
Sekretaris Distrik Supiori Barat, Charles Halomoan, S.E., menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut.
Menurutnya, kehadiran dosen SF ITB memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperoleh pengetahuan sekaligus pemeriksaan kesehatan secara langsung.
“Program seperti ini sangat bermanfaat dan kami berharap dapat terus dilanjutkan melalui kerja sama dengan pemerintah distrik, kampung, dan tenaga kesehatan setempat,” ujarnya.
Kepala Kampung Amyas, Yosafat Rumainum, juga mengapresiasi kedatangan tim SF ITB ke wilayahnya.
Keterlibatan kader dan tenaga kesehatan setempat dinilai penting agar edukasi dan manfaat program dapat diteruskan setelah tim perguruan tinggi menyelesaikan kegiatan di lapangan.
Program pengabdian masyarakat tersebut juga mendukung sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan serta SDG 4 mengenai pendidikan berkualitas.
Pelaksanaan program di wilayah dengan keterbatasan akses informasi dan pelayanan kesehatan juga berkaitan dengan SDG 10 tentang pengurangan kesenjangan. Sementara keterlibatan pemerintah daerah, puskesmas, sekolah, tokoh adat, kader, dan masyarakat mencerminkan semangat kolaborasi dalam SDG 17.
Melalui kegiatan tersebut, SF ITB berupaya mendekatkan pengetahuan farmasi dan kesehatan kepada masyarakat sekaligus memperkuat kapasitas lokal dalam pencegahan, deteksi dini, dan pengelolaan masalah kesehatan. ***
Editor : Gin gin T Ginulur

