Data Center AI Butuh Banyak Air, Pakar ITB Ingatkan Jangan Ganggu Pasokan Warga

Kebutuhan air data center AI BDx di Jatiluhur menjadi perhatian. Pakar ITB mengingatkan penggunaan air untuk pendinginan tidak mengganggu pasokan warga.

Data Center AI Butuh Banyak Air, Pakar ITB Ingatkan Jangan Ganggu Pasokan Warga
Pakar Rekayasa Termal Institut Teknologi Bandung (ITB), Poetro Lebdo Sambegoro

INILAHKORAN.ID - Sorotan terhadap kebutuhan air pusat data (Data Center) berbasis kecerdasan buatan (AI) milik BDx di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, membuka persoalan yang lebih besar. 

Di balik pesatnya pertumbuhan industri digital nasional, Jakarta masih menjadi pusat konsentrasi data center terbesar di Indonesia, sementara kebutuhan ruang, energi, dan sumber daya air mulai bergeser ke wilayah penyangga, termasuk Jawa Barat.

Data Center Map mencatat, Indonesia memiliki 204 data center yang tersebar di 32 pasar. Dari jumlah tersebut, 107 fasilitas berada di Jakarta atau sekitar 52,5 persen dari total pusat data yang terdata. Sebaliknya, pasar Jawa Barat yang mencakup Bekasi, Bogor, Bandung, Cirebon, dan Purwakarta hanya memiliki 19 fasilitas.

Ketimpangan itu menunjukkan, aktivitas industri digital masih terkonsentrasi di ibu kota. Namun, ketika kebutuhan lahan dan kapasitas terus meningkat, ekspansi mulai bergerak ke kawasan penyangga yang memiliki ketersediaan ruang dan infrastruktur lebih besar.

Fenomena tersebut kini menjadi perhatian, setelah pembangunan data center AI milik BDx di kawasan Jatiluhur memunculkan perdebatan, mengenai kebutuhan air dan potensi dampaknya terhadap lingkungan serta sektor pertanian di Jawa Barat.

Pakar Rekayasa Termal Institut Teknologi Bandung (ITB), Poetro Lebdo Sambegoro menjelaskan, penggunaan air dalam sistem pendingin data center merupakan praktik yang lazim diterapkan di berbagai negara.

Menurut dia, data center pada dasarnya merupakan kumpulan ribuan komputer yang bekerja tanpa henti dan menghasilkan panas dalam jumlah besar, sehingga membutuhkan sistem pendingin yang andal.

“Jadi, data center itu sebenarnya adalah kumpulan dari komputer-komputer yang mungkin jumlahnya ribuan, yang diletakkan di suatu ruangan atau gedung,” kata Poetro, Kamis (1/10/2026).

Ia menjelaskan, prinsip kerjanya tidak berbeda dengan perangkat elektronik lain yang menghasilkan panas saat digunakan.

“Nah, sama seperti peralatan elektronik lainnya, seperti handphone kita atau laptop. Itu kan menghasilkan panas. Nah, kalau dia terlalu panas, dia bisa rusak. Nah, oleh karena itu dia harus didinginkan,” ujarnya.

Mengapa Data Center Membutuhkan Banyak Air?

Poetro mengatakan, air menjadi media pendingin yang paling banyak digunakan, karena memiliki kemampuan menyerap panas yang tinggi dan relatif mudah diperoleh dalam jumlah besar.

Namun, air yang digunakan tidak bisa langsung masuk ke sistem pendingin. Air harus melalui proses pengolahan terlebih dahulu, agar kandungan mineral maupun partikel yang dapat mengganggu kinerja peralatan dapat diminimalkan.

“Air itu digunakan sebagai medium pendingin karena air itu punya kemampuan mendinginkan yang relatif tinggi. Dan air itu relatif mudah untuk didapatkan dalam jumlah banyak. Jadi, air yang digunakan dalam sistem pendingin itu tentu harus ditreatment terlebih dahulu,” tuturnya.

Dalam proses operasional, air berfungsi memindahkan panas dari komponen elektronik ke sistem pendinginan sebelum didinginkan kembali dan digunakan secara berulang.

“Jadi, air ini digunakan untuk mendinginkan dengan cara memindahkan panas dari komponen elektronik di data centernya ke airnya. Nah, kemudian air ini harus didinginkan lagi. Jadi, air ini sebagai medium perantara,” jelasnya.

Besarnya kebutuhan air sangat bergantung pada kapasitas data center, konsumsi listrik, serta teknologi pendinginan yang digunakan.

“Jadi, banyaknya air yang diperlukan tentu ditentukan oleh salah satunya besarnya data center itu sendiri. Tentu data centernya makin besar, listrik yang digunakan semakin besar, panas yang dihasilkan semakin besar sehingga jumlah air yang digunakan, yang diperlukan untuk mendinginkan jadi semakin besar,” katanya.

Maka dari itu, perhitungan kebutuhan air harus dilakukan secara detail sejak tahap perencanaan.

“Nah, ini yang harus dilihat secara seksama sehingga kita bisa menghitung atau memperkirakan berapa sebenarnya kebutuhan air yang diperlukan untuk sistem pendingin ini,” ujarnya.

Jakarta Menikmati Pertumbuhan, Jawa Barat Menjadi Penyangga

Riset Mordor Intelligence memperkirakan, kapasitas pasar data center Jakarta mencapai 728,91 megawatt (MW) pada 2026, naik dari 658,78 MW pada 2025. Kapasitas tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 1.336,09 MW pada 2032 dengan pertumbuhan rata-rata 10,64 persen per tahun.

Sementara itu, koridor Bekasi-Cikarang diproyeksikan menjadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan tercepat, akibat ekspansi industri data center dari Jakarta.

Menurut Mordor Intelligence, keterbatasan lahan dan tingginya biaya di Jakarta, menjadi faktor utama yang mendorong investasi baru bergerak ke wilayah penyangga.

Kondisi tersebut membuat manfaat ekonomi industri digital tetap terkonsentrasi di kawasan metropolitan, sementara kebutuhan terhadap lahan, energi, dan air mulai dirasakan daerah sekitar, termasuk Jawa Barat.

Persoalan air menjadi semakin penting, karena industri data center tidak hanya bergantung pada pasokan listrik. Ketua Indonesian Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma sebelumnya menyebut, air akan menjadi salah satu tantangan strategis industri pusat data setelah energi.

Kebutuhan air sangat ditentukan oleh teknologi pendinginan yang digunakan. Sistem cooling tower atau evaporative cooling membutuhkan volume air lebih besar dibanding teknologi pendinginan yang mengandalkan udara.

Mordor Intelligence memperkirakan, konsumsi air industri data center Indonesia mencapai 37,8 miliar liter pada 2025 dan berpotensi melonjak menjadi 86,47 miliar liter pada 2030.

Ketika Pertumbuhan Data Center Bersinggungan dengan Air Jawa Barat

Persoalan menjadi lebih kompleks, karena kebutuhan air Jakarta memiliki keterkaitan erat dengan infrastruktur sumber daya air di Jawa Barat.

Salah satu sumber utama air baku Jakarta berasal dari Waduk Jatiluhur di Kabupaten Purwakarta. Data PAM JAYA menunjukkan pasokan air baku dari Jatiluhur mencapai sekitar 18.000 liter per detik untuk mendukung kebutuhan ibu kota.

Meski belum terdapat data publik yang menunjukkan berapa volume air yang digunakan secara khusus oleh ratusan data center di Jakarta tersebut. Namun, faktanya Jakarta menjadi pusat konsentrasi data center terbesar dan pada saat yang sama, bergantung pada sistem sumber daya air yang sebagian infrastrukturnya berada di Jawa Barat, sehingga ada keterhubungan yang tidak bisa diabaikan.

Dalam konteks itulah pembangunan data center AI di Jatiluhur menjadi perhatian. Pada kapasitas penuh, proyek BDx diperkirakan membutuhkan air hingga 384 liter per detik atau sekitar 33.000 meter kubik per hari. Pada tahap awal, kebutuhan air diperkirakan mencapai sekitar 6.000 meter kubik per hari.

Poetro menegaskan, kebutuhan pendinginan data center tidak boleh mengurangi hak masyarakat terhadap air bersih.

“Hanya memang yang perlu kita perhatikan adalah jangan sampai tentu air untuk kebutuhan pendinginan data center ini kemudian mengambil porsi air yang dibutuhkan untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari,” tegasnya.

Menurut dia, tantangan tersebut dapat diatasi melalui tata kelola sumber daya air yang baik, pemanfaatan teknologi daur ulang, dan penerapan sistem yang lebih efisien.

“Nah, ini sebenarnya bisa kita kelola dengan baik tentu mengikuti aturan yang sudah ada dan juga menggunakan teknologi-teknologi mungkin recycling air ataupun teknologi-teknologi lain yang ramah lingkungannya,” katanya.

Ia juga mengingatkan, agar sumber air untuk industri tidak mengganggu pasokan yang selama ini digunakan masyarakat.

“Baik, jadi untuk pendinginan data center kita memerlukan air. Nah, tentu pemenuhan kebutuhan air ini harus kita kelola dengan baik. Jangan sampai supply airnya kemudian mengambil sumber-sumber air, yang selama ini menjadi supply untuk kebutuhan warga,” ujarnya. 


Editor : Ahmad Sayuti