Menyingkap Pasar Lifestyle Global ala Pala Nusantara
Pala Nusantara memahami benar tren pasar global relatif menghargai sustainable product. Setiap produk ramah lingkungan kini digandrungi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Pala Nusantara memahami benar tren pasar global belakangan ini relatif menghargai sustainable product. Setiap produk ramah lingkungan kini digandrungi.
Sejumlah nilai tambah setiap produk yang dihasilkan menjadi fokus produsen arloji kayu asal Kota Kembang ini. Tengoklah rumah produksinya di kawasan Cipaganti.
Di ‘pabrik’ jam tangan kayu itu terasa aura produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang senantiasa mengedepankan kualitas produk. Satu hal pasti, arloji buatannya mengusung tema warisan budaya negeri. Kendati tampak seperti hunian biasa, di situlah lahir sejumlah hasil karya anak bangsa yang patut dibanggakan.
Gian Cahyana mengisahkan, penciptaan arloji kayu ini dari awal dipikirkan segalanya. Tak hanya sekadar menghasilkan, produk buatannya pun disisipkan cerita yang dibagikan kepada konsumen sebagai experience menyenangkan tersendiri.
Baca Juga: Foto Story: Mendobrak Fashion Jam Tangan dengan Kearifan Nusantara
Tengoklah produk awal Pala Nusantara. Pada 2017, co-Founder Pala Nusantara tersebut mengaku saat itu diluncurkan tiga produk seri Warna. Dengan balutan khas kayu dan kulit beraneka warna, tercipta tiga arloji berwarna merah, cokelat, dan biru.
“Setiap warna itu bisa merepresentasikan kebudayaan masing-masing daerah. Di seri produk itu, merah melambangkan Toraja, cokelat merepresentasikan Jawa, dan biru itu mewakili Baduy,” tutur Gian di teras rumah produksinya yang berada di Jalan Kaum No 44/35a Cipaganti, Kota Bandung.
Konsep itu hingga ini dipertahankan. Tujuannya, tak lain agar konsumen tidak hanya sekadar membeli barang ‘mati.’ Selain mendapatkan produk idamannya, setiap konsumen akan mendapat cerita dibalik proses pembuatan yang diharapkan bisa ‘hidup’ di benak konsumen.
“Intinya, di setiap produk yang kita ciptakan ini kita membikin dengan sentuhan desain dan cerita. Setiap cerita itu kita lampirkan dalam kemasan produk yang menjadi satu kesatuan produk. Plus logo spesial. Kita ingin menggaungkan kembali cerita Nusantara yang melimpah,” ucap alumnus Universitas Padjadjaran (Unpad) itu.
Saat ini, Gina menyebutkan perusahaan rintisannya mengembangkan proyek sustainability resources. Keberlanjutan material itu dilakukan secara kolaboratif. Inovasi tersebut tak lepas dari isu green economy yang menjadi perhatian global agar setiap material yang digunkan relatif lebih ramah lingkungan.
Bersama Mycotech, Pala Nusantara mendesaian tali jam yang akan menggantikan kulit binatang. Eksplorasi resources itu diakuinya memberikan alternatif solusi material yang cenderung mengarah ke animal abuse.
Baca Juga: Adaptasi Digital Bangkitkan Asa UMKM Bertahan dan Tumbuh saat Pandemi
Gina menyebutkan, Mycotech merupakan start-up yang membuat material komposit serta kulit yang ramah lingkungan. Sebab, material yang dibuat merupakan produk daur ulang dari limbah pertanian.
Limbah pertanian yang dipakai itu mengandung selulosa, seperti serbuk kayu, tandan kosong, kelapa sawit, ampas serat tebu, dan lain-lain. Produknya juga menggunakan perekat alami yang didapat dari miselium jamur.
Rencananya, pemakaian tali jam menggunakan material berbahan dasar jamur itu akan diluncurkan di Jepang, Desember 2021.
“Produk kita sejauh ini sudah mengikuti ekshibisi di New York, Paris, Italia, dan Jepang. Selain itu, kita pun pernah diikutsertakan di ITPC (Indonesian Trade Promotion Center) perwakilan Kemendag dan Kedubes di luar negeri,” ucapnya.
Terkait pemasaran, Dian mengaku sejak awal usahanya mengadopsi teknologi digital. Untuk itu, platform situs www.palanusantara.com dibangun untuk mencapai pasar global. Meski buatan Indonesia, warga dari negara manapun di bumi ini bisa memesan.
Mengenai dampak pandemi Covid-19, Gian mengaku kondisi itu sempat menggoyahkan sisi suplai. Sebab, pada awal pandemi, pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan yang mengakibatkan ke-20 perajinnya tak bisa berproduksi.
Baca Juga: Setelah Tembus Pasar Nusantara, UMKM Aban Sudrajat Siap Go Global
Dari sisi demand, sebenarnya 97% pesanan itu masuk secara online. Justru, pandemi memberikan berkah tersendiri bagi UMKM unggulan Bank Indonesia (BI) Jabar ini.
“Usaha kita memang semuanya dioperasikan secara digital. Iklan pun kita digital melalui media Instagram dan Facebook. Sekarang pun kita mulai beriklan di sejumlah e-commerce dan marketplace,” kata alumnus program Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI) Jabar 2021 itu.
Sejak mengikuti program WUBI, Gian mengaku mendapatkan ilmu dan pengetahuan untuk memajukan usahanya. Mulai dari meningkatkan skill marketing dan sharing how to didapatkannya.
Bahkan, di gelaran offline pun produknya kerap diikutsertakan. Terakhir, produk Pala Nusantara menjadi salah satu peserta di Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2021.
Baca Juga: Dongkrak Produk UMKM, Dekranasda Kota Bandung Inisiasi Program Beli Lokal Fest
Terkait pembiayaan, selama ini ada investor yang menanggung seluruh ongkos produksi yang dikeluarkan. Meski demikian, usahanya terbuka bagi lembaga perbankan yang memberikan kredit untuk akselerasi bisnis.
Disinggung mengenai harga, setiap arloji dipatok banderol Rp450 ribu hingga Rp2,2 juta. Harga itu disesuaikan dengan cerita, desain, dan material yang dipakai. Sejauh ini, UMKM ini memiliki kapasitas produksi sebanyak 900 buah setiap bulan.
Kegitan usaha yang dijalani Pala Nusantara itu sejalan dengan program BI Jabar. Kepala BI Jabar Herawanto menyebutkan, pengembangan UMKM merupakan salah satu upaya pelaksanaan mandat kebijakan makroprudensial yang dilakukan lembaga bank sentral ini.
Dukungan dari infrastruktur dan kelembagaan turut memberikan dampak bagi pembentukan ekosistem UMKM yang optimal. Di antaranya melalui dukungan regulasi, keuangan inklusif, perlindungan konsumen, edukasi/literasi, model bisnis, monitoring, dan evaluasi serta penguatan kelembagaan dan sistem informasi.
Baca Juga: Bantu Mitra UMKM dan Driver Bertahan dan Bangkit Bersama, Gojek Kucurkan Rp1 Triliun
“Pengembangan yang kita lakukan ini dibalut dalam tema UMKM Jabar Binangkit yakni mengusung nilai-nilai bangkit, inovatif, adaptif, go global, dan digital,” kata Herawanto.
Menurutnya, BI Jabar sejauh ini aktif terlibat dalam business matching yang diharapkan UMKM dapat memperluas relasi bisnis dalam upaya peningkatan akses pasar serta akses pembiayaan untuk peningkatan skala usahanya.
Selain itu , salah satu komitmen BI Jabar yakni pengembangan green growth economy. Pertumbuhan hijau itu merupakan pertumbuhan ekonomi yang berkontribusi terhadap penggunaan modal alam secara bertanggung jawab, mencegah dan mengurangi polusi, dan menciptakan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan sosial secara keseluruhan dengan membangun ekonomi hijau, dan akhirnya memungkinkan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.***(doni ramdhani)
Editor : inilahkoran


