Merangkai Societal Impact pada Festival Cirata Punya Cerita
Festival "Cirata Punya Cerita" di Desa Ciroyom, KBB, menjadi ajang kolaborasi masyarakat dan SBM ITB melalui program societal impact. Selain menampilkan kegiatan budaya dan UMKM lokal, SBM ITB menambahkan dimensi edukasi lewat lokakarya dan interaksi mahasiswa exchange.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID, Bandung- Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) melaksanakan kunjungan ke Desa Ciroyom, Kecamatan Cipeundey, Kabupaten Bandung Barat sebagai bagian dari program societal impact.
Kegiatan ini bukan hanya menjadi sarana untuk memantau perkembangan inisiatif yang telah dijalankan sebelumnya, tetapi juga momentum untuk memperkuat kolaborasi dengan masyarakat desa.
Agenda tersebut bertepatan dengan gelaran Festival Cirata Punya Cerita yang diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Jadi Desa Ciroyom ke-170.
Festival yang mengusung semangat menuju Desa Wisata budaya ini menampilkan beragam kegiatan, mulai dari jalan sehat, lomba memasak nasi liwet, permainan rakyat, pentas seni dan budaya, hingga pameran UMKM lokal.
Kehadiran SBM ITB menambahkan dimensi edukasi melalui kegiatan pengenalan UMKM, lokakarya budaya, serta interaksi mahasiswa exchange dengan warga desa. Acara dibuka dengan pementasan Tari Jaipong sebagai sambutan hangat untuk para mahasiswa exchange.
"Pertama kalinya desa saya ini dihadiri oleh orang asing, tepatnya mahasiswa SBM ITB. Bagi saya, hal ini menjadi dampak positif bagi Desa Ciroyom untuk memperkenalkan potensi UMKM sekaligus budaya yang kami miliki,"| ujar Kepala Desa Ciroyom, Sirojudin.
Ketua Tim Societal Impact SBM ITB, Yunieta Anny Nainggolan mengungkapkan, program societal impact SBM ITB merupakan implementasi nyata dari kewajiban institusi sebagai sekolah bisnis berakreditasi internasional AACSB.
Yunieta menegaskan, kegiatan tersebut berbeda dengan pengabdian masyarakat (pengmas) pada umumnya. Jika pengmas umumnya bersifat jangka pendek, maka societal impact dirancang sebagai program berkelanjutan yang terintegrasi dengan strategic plan sekolah, dengan fokus pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-8 tentang Decent Work and Economic Growth.
"Sebagai sekolah yang terakreditasi, SBM ITB memiliki kewajiban untuk memberi dampak pada lingkungan sekitar. Program ini tidak sama seperti pengmas yang hanya bersifat jangka pendek, melainkan berkelanjutan," ungkapnya.
"Tujuannya mendorong perekonomian desa agar lebih mandiri melalui penguatan jiwa wirausaha. Ke depan, desa binaan ini akan di-benchmark dengan desa-desa yang lebih dulu sukses, sehingga dapat menjadi motivasi untuk terus berkembang," imbuh Yunieta.
Lebih lanjut Yunieta memaparkan, dalam jangka panjang, roadmap societal impact disusun dengan prinsip "one year, one village". Skema ini memungkinkan pembinaan desa dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, dengan indikator keberhasilan berupa peningkatan penjualan UMKM, terciptanya lapangan kerja baru, serta lahirnya inovasi bisnis lokal.
Melalui pendekatan ini lanjutnya, Desa Ciroyom diharapkan mampu tumbuh menjadi desa yang mandiri dan berdaya saing tinggi, sekaligus menjadi model inspiratif bagi desa-desa lain di Indonesia.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Executive Vice President and Chief Officer Asia Pacific, Americas, and Membership AACSB Geoff Perry, Kepala Disparbud Jabar Iendra Sofyan, Sekretaris PKK KBB Eka Maryati, Camat Cipendeuy Agus Ganjar Hidayat, Kepala Desa Ciroyom Sirojudin, Wakil Dekan Bidang Akademik SBM ITB, Eko Agus Prasetio,serta masyarakat desa yang memenuhi pusat acara di Pujasera Desa Ciroyom.***
Editor : Ardi

